Posts

Showing posts from May, 2016

Super Decisions: Antara Halal dan Haram

By: M. Ridwan Sebuah eksprimen "berani" pernah dilakukan seorang bapak di Jakarta. Infonya dari seorang ustaz di sana.  Si bapak memiliki dua orang anak yang disekolahkannya di perguruan tinggi. Anak yang pertama kuliah di Indonesia. Anak ini selalu difasilitasi dengan harta yang ia yakini hanya bersumber dari jalan halal. Sedangkan anak kedua -yang kuliah di luar negeri- selalu diberikannya harta yang menurutnya haram atau tidak jelas kehalalannya, semisal uang panas, fee, sogok-menyogok atau tipu-tipu. Apa hasilnya? Ia perhatikan bahwa anak yang mendapatkan asupan harta halal tadi tumbuh menjadi pribadi yang baik, santun dan sholeh. Kuliahnya selesai dengan baik dan menjadi kebanggaan orang tua. Sebaliknya, anak yang selalu mendapatkan harta yang haram atau syubhat tadi justru menunjukkan pribadi bermasalah. Si anak senangnya hanya berfoya-foya dan jauh dari Tuhan. Pokoknya, hancur banget. Ngeri juga ya? Bapak yang aneh. Saya dan Anda pasti tidak tega melakukan hal ini, buk...

Super Decisons: Melakukan Pilihan di Antara Pilihan

By: M. Ridwan Sore kemarin, rekan saya -Marliyah- yang merupakan dosen dan pengelola prodi ekonomi Islam, memberikan sebuah bundelan kuesioner untuk diisi sebagai data disertasi yang sedang ia garap. Permasalahannya terkait dengan implementasi mudharahah di perbankan Islam baik. Ia sedang mengkaji hambatan dan strategi   penerapannya di perbankan Islam. Memang, jamak diketahui, bahwa mudharabah sebagai akad utama lahirnya bank Islam di dunia masih terlihat “malu-malu” untuk digunakan oleh indutsri keuangan Islam. Porsinya masih di kisaran 10-20% saja. Sisa dominannya adalah akad-akad yang berbasis fixed return.  Padahal, istilah PLS (profit and Loss Sharing) atau bagi hasil itu adalah ide awal yang digaung-gaungkan untuk menunjukkan bahwa bank syariah itu beda dengan konvensional.  Saya kira, orang tertarik dan kesengsem dengan bank Islam, ya, karena ada istilah ini. Masyarakat Islam dunia sangat menantikannya setelah ratusan tahun dicecoki dengan sistem bun...

Tarekat dan Kemacetan: Mengurai Spiritualitas dan Dampak Ekonomi

By: M. Ridwan Sejenak, saya mengajak berimajinasi. Katakanlah saat ini kita berada di tengah-tengah kota Jakarta yang super macet di suatu sore. Memang, kita patut "berbangga" bahwa Jakarta termasuk 10 kota dunia yang paling parah kemacetannya. Ini menurut Tom Tom Traffic Index yang memang berkutat di indeksasi kota-kota macet di dunia. Nah, Jakarta itu termasuk hebat karena mengalahkan Rusia dan Mesixo City termasuk juga St. Petersburg. Keren. Kita lanjutkan. Saat itu, kita harus buru-buru karena memiliki jadwal penerbangan pada pukul 19.30 di malam harinya. Waktu telah menunjukkan pukul 17.15 sore dan Anda tidak mengetahui jalur mana yang harus dipilih untuk menghindari kemacetan ini. Kendaraan bergerak lambat, merayap. Waktu tempuh ke bandara sekitar 1-2 jam dari posisi kita . GPS tidak bisa "dipercaya" lagi karena semua jalanan ternyata macet meskipun "nyata-nyata menunjukkan warna hijau . Katanya, warna hijau itu adalah jalur yang tidak macet, t...

Leader and Welfare: Seberapa Dekat Hubungannya?

By: M. Ridwan Saya bersyukur, di tahun 2016 ini berkesempatan bertemu dan berbincang dengan 2 orang Walikota Indonesia yang keren. Setidaknya dalam pandangan saya. Yang pertama, walikota Padang -Mahyeldi Ansharullah- dan kedua walikota Makasar -Mohd. Ramdhan Pomanto. Kendati berbeda tempat, namun keduanya memiliki visi dan misi yang sama yaitu memajukan kotanya dengan pendekatan inovatif, kreatif dan tentunya spiritualis. Pertemuan dengan kedua walikota ini setidaknya semakin menambah keyakinan saya bahwa Indonesia tidak kekurangan pemimpin cerdas, enerjik dan spiritualis. Jiwa muda dan kecerdasan yang mereka miliki menjadi energi besar yang dikemas dalam bentuk kebijakan pro rakyat dan pro kesejahteraan. Ternyata, Indonesia tidak hanya memiliki Ridwan Kamil, Aher atau Ahok dan Jokowi. Indonesia punya seabrek pemimpin muda nan enerjik. Misal, walikota Padang dengan pendekatan simpatiknya berhasil membuat kota Padang bebas dari prilaku koruptif dan minim kriminal termasuk juga kebija...

Happy Planet Index: Mengukur Kebahagiaan di Planet Bumi (Bag. 2)

By: M. Ridwan  Ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya tentang kebahagiaan.Ternyata, tema tentang kebahagiaan dan kesedihan selalu menjadi topik menarik, ya.Bahkan, di sebuah group WA penulis ikuti, diskusi tentang sedih dan bahagia hampir saja tidak membuahkan sebuah kesimpulan yang disepakati. Masalahnya sederhana, apakah kadar keimanan seseorang bisa diukur dari tingkat kesedihan yang dialaminya? Atau, bisakah seseorang yang berimana mengalami kesedihan?. Di tulisan sebelumnya, saya mengutip hasil dari penelitian yang dilakukan oleh sebuah lembaga bernama New Economics Foundation . Lembaga ini memperkenalkan istilah  Happy Planet Index  (HPI) untuk mengukur kondisi kebahagiaan yang dialami oleh negara-negara di dunia.  HPI dijadikn alat ukur baru untuk mengetahui pencapaian sebuah negara  dalam upaya mendukung warganya  dalam mencapai kesejahteraan.  Alat ukur yang digunakan ada 3 (tiga) yaitu harapan hidup ( life exp...

Andaikan Adam Smith dan Karl Marx adalah Muslim

By: M. Ridwan Tak elok rasanya jika tidak membahas tentang fenomena munculnya komunisme -yang oleh beberapa kalangan dianggap sudah begitu jelas batang hidungnya- di Indonesia. Tentu saja karena komunisme itu beraawal dari sebuah paham ekonomi. Saya dan Anda tentu sangat setuju jika paham komunis memang tidak layak untuk hidup di negeri beragama ini. Kita memang telah menyaksikan tingkah polah nan tak beradab yang ditunjukkan oleh penganut paham ini. Tapi, tunggu dulu. Kita tentu tidak bisa menghukum sesuatu tanpa tahu ujung pangkalnya. Tanpa mengetahui apa itu komunisme, maka tentu tidak layak seseorang untuk langsung menyalahkan atau membenarkannya. Saya kira inilah, yang terjadi. Informasi sepotong-sepotong tentang komunisme boleh jadi bisa menjadikan pemahaman sebagian anak negeri ini menjadi bias. Bisa saja komunisme dipahami sebagai sebagai sebuah gerakan pembebasan atau penyelamatan. Dari apa? Tentu saja dari fenomena kehidupan kapitalistik yang begitu kentara. Akhirnya, k...

Takutkah Kita Ber-ekonomi Syariah?

By: M. Ridwan Judul di atas terkesan men-judge ya?. Tapi, mungkin seperti itulah kenyataannya. Atau setidaknya, itulah kesan yang saya tangkap dari beberapa komentar dari diskusi seharian ini dengan para dosen dan guru-guru ekonomi seputar ekonomi Islam. Sebagian peserta mempertanyakan kondisi perkembangan ekonomi syariah termasuk sikap masyarakat dan praktisi keuangan syariah. Lagi-lagi, ini. Jika kita sepakat menyatakan bahwa kondisi ekonomi dunia saat ini begitu runyamnya, maka sebenarnya kita harus sepakat dengan terapi atau remedy yang tepat. Apa itu? Tentu saja, jawabannya adalah ekonomi syariah. Nilai-nilai yang dikandung di dalam konsep ekonomi syariah sepenuhnya berupaya mengatasi carut-marut ekonomi dunia seperti keserakahan, ketidakadilan, kemiskinan atau pengangguran. Apa iya begitu? Ya, iyalah. Lihat saja konsep dan nilai-nilai yang dikandungnya. Ada konsep ketauhidan yang berarti bahwa kita sebagai manusia melakukan tindakan ekonomi sebagai salah satu cara mewujudkan m...

Andaikan Bekerja Sama Seperti Liburan?

By: M. Ridwan Kalau mau jujur, sebenarnya kita ini lebih suka liburan atau kerja sih?. Pertanyaan ini adalah hasil dari bincang-bincang kami di sebuah diskusi ringan akhir pekan. Fenomena yang diamati antara lain berupa gencarnya aksi selfie dilakukan komunitas media sosial dengan latar belakang liburan. Suasana alam, baik air terjun, pantai, atau pegunungan terlihat lebih dominan dibandingkan selfie dengan suasana tempat kerja, kantor atau mungkin juga rumah ibadah, bukan? Tentu saja, saya tidak memposisikan diri sebagai orang yang mengkritik fenomena ini, karena saya juga senang melakukannya. Saya kira, kita semua merasa senang dan mungkin bangga bila hasil upload-upload foto kita mendapat respon dari rekan-rekan komunitas medsos atau sekedar tanda "like" atau juga "dislike". Hehe.. Nah, untuk menjawab pertanyaan ini, saya mengajak pembaca untuk melihat hasil survey yang dilakukan sebuah tim kecil di Kota London. Tim ini  mewawancarai sekelompok pejalan...

Perjalanan Sebuah Makanan: Sensasi atau Kebutuhan? (Bag. 2)

By: M. Ridwan Ternyata, tulisan saya tentang perjalanan makanan harus berlanjut. Soalnya, hari ini berkesempatan menghadiri diskusi ekonomi Islam di harian ternama Sumut, WASPADA. Topiknya tentang Bank Syariah dan Makanan Halal termasuk juga wisata halal. Pembicaranya adalah pakar Sumut, seperti Prof. Bahtiar Hasan Miraza, Prof. Basyaruddin dari POM MUI. Beberapa praktisi dan akademisi juga hadir. Saya lihat ada DR. M. Yusuf (UNIMED), Dedi Nofendi (Bank Aceh Syariah), DR. Azhari Akmal Tarigan (Dekan FEBI UINSU) dan pastinya DR. Saparuddin Siregar sebagai inisiator acara. Topik ini sangat menarik. Tidak saja bagi kalangan akademisi atau praktisi tetapi seharusnya juga bagi semua kalangan, termasuk kita. Tidak berlebihan jika saya katakan bahwa saat ini, lahirnya kelas menengah muslim yang konsern terhadap nilai-nilai Islam, benar adanya. Saat ini pula, muncul arus yang sangat kuat berupa munculnya kesadaran masyarakat, khususnya muslim, untuk, tidak hanya mendapatkan makanan-makanan l...

Perjalanan Sebuah Makanan: Antara Sensasi dan Kebutuhan

By: M. Ridwan Liburan memang identik dengan kuliner. Kita akrab dengan istilah wisata kuliner. Rasanya, tidak lengkap sebuah liburan atau rekreasi tanpa merasakan sensasi makanan, bukan?. Beberapa orang yang saya kenal memiliki kelebihan khusus "mendeteksi" berbagai kuliner jenis unggul. Mereka tahu benar dimana cafe atau rumah makan yang layak dikunjungi. Jam terbang bertahun-tahun di bidang  "culinery" menyebabkan insting mereka tajam. Bahkan mereka piawai menentukan berapa rating yang layak diberikan kepada sebuah rumah makan dan produknya itu. Kayak hotel juga, ada bintang 3,4 atau 5. Hehe... Aktifitas makan memang kebutuhan utama. Manusia adalah jenis omnivora. Dalam biologi istilah ini merujuk kepada mahluk hidup pemakan segalanya. Omnivora berada pada tingkatan tertinggi dibandingkan dengan karnivora (pemakan daging) ataupun herbivora (pemakan tumbuhan). Karakter sebagai pemakan segalanya ini pada satu sisi memberikan nilai tambah karena manusia tidak terla...

Mentalitas Kepiting

By: M. Ridwan Kepiting adalah binatang yang hidup di dua alam. Capitnya tajam dan matanya unik. Rasanya enak dan sering menjadi menu favorit di berbagai restoran Sea Food di dunia. Mahal lagi. Ada beberapa jenis kepiting di dunia namun karena saya bukan ahli kepiting, maka saya hanya tahu Lobster, kepiting air tawar dan kepiting Papua. Nyam, nyam, enakkkk. Saya dengar bahwa kepiting memiliki prilaku tidak pantas ditiru. Katanya  sih, kepiting itu memiliki hobby mencapit sesama mereka. Beberapa buku yang saya baca menyebutkan bahwa jika sekelompok kepiting dimasukkan ke dalam baskom, maka dipastikan tidak ada satupun yang berhasil keluar meskipun ada yang hampir berhasil menyelamatkan diri. Tanya kenapa? Tidak lain karena rekan-rekan sesama kepiting pasti akan menariknya kembali ke bawah, dengan capit mereka. Apakah benar demikian? Wallahu a'lam. Saya juga tidak tahu. Tapi, kalaupun benar demikian, saya kira ngak aneh, bukan?. Namanya juga binatang, bercapit pula. Pasti bukan me...

Terdidik Tapi Tak Tercerahkan? (Bag. 2)

By: M. Ridwan "Modern universities focus on teaching students the practical skills necessary for a career, but a successful career depends on a lot more than skills, it also depends on the practical application of wisdom"...(The 2010 Macquarie University Vice-Chancellor's Annual Lecture). Dunia logika melaju dengan cepatnya. Peradaban demi peradaban terbentuk darinya. Logika yang dirumuskan dengan sistematis kemudian membentuk bangunan ilmu. Katakanlah, ilmu sains seperti Matematika, Fisika, Kimia, Elektronika, termasuk juga Kedokteran. Demikian pula, ilmu-ilmu sosial dan humaniora seperti Ekonomi, Hukum, Psikologi, termasuk juga seni. Teori-teori dari ilmu-ilmu ini datang silih berganti, terkoneksi dan saling mengeliminasi juga. Seperti datangnya siang menghapus malam dan datangnya malam mengeliminasi siang (kayak puisi ya). Wujud fisik dan non fisik dari ilmu-ilmu itulah yang kemudian membentuk peradaban, bukan?. Saya mencoba menyederhanakannya. mudah-mudahan tidak ke...

Terdidik Tapi Tak Tercerahkan?

By: M. Ridwan Tanggal 2 Mei adalah Hari Pendidikan Nasional negeri ini. Diambil dari hari lahirnya Ki Hajar Dewantara, pendiri Taman Siswa. Sejak kecil, saya akrab dengan Taman Siswa meski tidak bersekolah di tempat ini.  Majalah-majalah yang dikeluarkan oleh Perguruan Taman Siswa saat itu sangat menarik bagi pelajar seperti saya saat itu. Paman saya selalu memberikannya. Kira-kira sekitar tahun 1984-anlah. Oh ya, apa ada pembaca yang masih memiliki koleksi majalah-majalah itu, ngak?. Soalnya, saya masih belum tuntas membaca komik tentang perang Barata Yuda yang sering dimuat di akhir setiap majalah Taman Siswa itu. Meski fiksi, tapi saya sangat ngefans dengan tokoh-tokohnya. Ada Hanoman, Rama, Gatot Kaca, termasuk juga Kumbakarna, si Raksasa malang itu. Saya menyebutnya malang, karena sebenarnya ia hanya menjadi korban intrik Rahwana yang ingin mempersunting Sinta. Padahal ia tidak pernah ikut konflik. Ia hanya tidur setiap hari. Namun, karena dikatakan untuk membela negara, ia ...