Posts

Showing posts from September, 2015

Terseok-Seok Mengembalikan Kejayaan?: Catatan Miris Dunia Arab dan Indonesia

Oleh: M. Ridwan Pagi ini saya tertegun membaca tulisan Ikhwanul Kirim Mashuri di kolom Republika yang mengetengahkan judul yang membuat kita tertegun “ Bahaya Besar Mengancam Dunia Arab ”. Tulisannya menyoroti masa depan 13 juta anak-anak Arab yang dipastikan terancam pendidikan mereka dikarenakan konflik yang berkepanjangan. Sebut saja negara-negara pengekpor pengungsi seperti Suriah, Irak, Afghanistan, Yaman, Sudan atau Libya.-an Sejujurnya, saya memang berencana menulis tema yang sama terkait dengan kondisi dunia Arab saat ini. Untuk menyampaikan unek-unek tentunya. Apa yang terjadi di dirimu wahai negeri Arab?. Syukurlah, dengan adanya tulisan dari kolumnis terkemuka Republika ini, maka unek-unek saya menjadi terwakili, dan tentu saja tulisan beliau lebih dalam dari yang saya inginkan. Lebih luas dan menggigit. :) Saya teringat dengan sebuah Round Table pada tahun 2004 lalu. Saat itu, para “ dedengkot ” ekonomi Islam bertemu di Jeddah untuk membincangkan –...

Invisible Akhirat: Seperti Apakah Kusamnya Cermin Kita?

Oleh: M. Ridwan Momentum Idul Adha 1436 H ini merupakan waktu yang tepat untuk mempertanyakan kembali visi ke-akhiratan kita. Yup , tentu kita tidak hanya menyadari bahwa akhirat itu ada. Tidak cukup, karena Iblis pun mengetahui bahwa akhirat itu ada. Untuk konteks jaman -yang katanya modern ini-, kita membutuhkan sebuah clearest vision (penglihatan yang yang paling terang) akan akhirat. Melebihi terangnya mentari si siang hari. Memangnya, kalau kita mempu melihat akhirat dengan jelas, apa konsekuensinya bagi kehidupan? Tentu banyak sekali. Tingkah laku yang ditunjukkan oleh manusia itu muncul dari sebuah visi . Visi dibentuk dari paradigma (pola pikir). Paradigma dibentuk oleh kebiasaan . Tragisnya, kebiasaan tadi selanjutnya ternyata mampu pula membentuk dan mengkristalisasi paradigma dan visi tadi. Gawat sekali. Seperti multikorelasi dalam regresi linear berganda, tidak persis sih. J Terkait akhirat, kebiasaan sehari-hari inilah yang kemudian menjadi barometer ...

Lessons From Ahmed's Case

By: M.Ridwan The world was shocked. A 14-year old boy, named Ahmed,  was arrested by police simply for trying to show his creation to the teacher. Instead of getting praise, the teacher kindly reported the innocence kid to the police who then handcuffed him. This incident occurred in Texas, USA, a country that was said as a  democratic and civilized one. Thankfully, the case is finally closed. The school officials defended their action by saying that what they did was an attempt to protect the students. Congratulation ... This case reinforces our conclusions that Islamophobia still continue to haunt the Western countries. Yes, we still remember September 11 attack on WTC. We give our condolencies to the victims. However, the excessive fear they showed, would be a mockery from the people all around the world. So, no wonder if  many criticism was directed to the Texas police department and the school, as well. Yesterday, I got a parody on youtube which contained an al...

Apakah Teori Konsumsi Berlaku Di Surga?

Oleh: M.Ridwan Pertanyaan di atas tentu kurang pada tempatnya ya. Usil banget, karena jangankan menjelaskan kehidupan akhirat, kehidupan dunia saja masih belum mampu dijelaskan oleh teori-teori ekonomi buatan manusia. Namun, diskusi kemarin di sebuah group WA  cukup asyik juga. Diskusi seputar keadaan jasad dan ruh di akhirat. Apakah jasad di akhirat itu adalah jasad kita di dunia ini yang kemudian dibangkitkan lagi dalam keadaan muda, ataukah jasad baru dengan struktur DNA yang baru?. Diskusi masih panjang sampai saat ini, kendati ada sebuah jalan keluar yang ditawarkan seorang anggota group untuk menyadari bahwa Allah dengan kekuasaannya akan mampu melakukan apa saja hanya dengan sebuah perintah "Jadilah, maka jadilah ia" (Kun Fayakun). Saya sendiri ikut tergelitik. Mencoba mereka-reka bagaimana pula pola konsumsi penduduk surga? mengingat, satu-satunya kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh penduduk surga adalah menikmati fasilitas surga. Proses menikmati ini merupakan ke...

Trouble Maker Country: Negeri Pembuat Onar?

Oleh: M. Ridwan Kasus asap yang menimpa Indonesia ternyata juga “menyiksa” korban warga negeri jiran tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Bencana tahunan ini bahkan ditengarai telah terjadi selama 30 tahun terakhit ini. Saya tak habis pikir, betapa sabarnya kita dan negeri jiran menyikapinya. Kita mungkin bisa berkelit dengan mengatakan bahwa sebagian pelaku adalah justru warga jiran sendiri. Mereka-lah yang memiliki lahan sawit dan perkebunan di Riau, Palembang, Jambi atau Kalimantan sehingga bencana ini merupakan sebuah pelajaran berharga bagi warga negeri jiran tetangga. Apakah ada yang berpikiran “kotor” seperti itu? Dari perspektif ketuhanan (dari kitab suci Alquran, maksudnya), bencana ini pastilah karena ulah tangan manusia. Tidak peduli, manusianya berada di Indonesia, negeri jiran atau negeri di ujung dunia. Alam memiliki sunnatullah tersendiri yang jika dilanggar atau dirusak akan melakukan “perlawanan” balik kepada manusia. Sayangnya, alam tidak mel...

Tragedi Mesjidil Haram: Momen Untuk Mengevaluasi Shariah Finance di Dunia

Oleh: M. Ridwan Tragedi jatuhnya crane di mesjidil Haram, Jumat kemarin memberikan duka mendalam bagi seluruh kaum muslimin di dunia. Korban yang jatuh pastilah mereka yang sedang melaksanakan ibadah haji di tempat suci ini. Kita semua mendoakan semoga para korban dan keluarga yang ditinggalkan diberikan Allah kasih sayang dan kesabaran. Mereka adalah tamu Allah yang sedang berkomitmen untuk menghadap Allah dengan kesucian baik fisik maupun hati. Maka, saya yakin bahwa apapun yang terjadi kepada mereka pastilah memiliki hikmah bagi dan semakin menyempurnakan hati mereka kepada Allah. Saya tidak membicarakan hal ini dalam kaitan takdir Allah. Seperti yang disikapi oleh hampir semua korban kecelakaan ini. Para korban tidak menyalahkan siapapun. Mereka ikhlas menerimanya dan menocba mencari hikmah dari peristiwa ini. Saya mencoba melihat dari sebuah persepektif berbeda. Persepektif ekonomi Islam. Tentu saja, tidak ada kaitan antara peristiwa ini dengan ekonomi I...