By: M. Ridwan
Kalau mau jujur, sebenarnya kita ini lebih suka liburan atau kerja sih?. Pertanyaan ini adalah hasil dari bincang-bincang kami di sebuah diskusi ringan akhir pekan. Fenomena yang diamati antara lain berupa gencarnya aksi selfie dilakukan komunitas media sosial dengan latar belakang liburan. Suasana alam, baik air terjun, pantai, atau pegunungan terlihat lebih dominan dibandingkan selfie dengan suasana tempat kerja, kantor atau mungkin juga rumah ibadah, bukan?
Tentu saja, saya tidak memposisikan diri sebagai orang yang mengkritik fenomena ini, karena saya juga senang melakukannya. Saya kira, kita semua merasa senang dan mungkin bangga bila hasil upload-upload foto kita mendapat respon dari rekan-rekan komunitas medsos atau sekedar tanda "like" atau juga "dislike". Hehe..
Tentu saja, saya tidak memposisikan diri sebagai orang yang mengkritik fenomena ini, karena saya juga senang melakukannya. Saya kira, kita semua merasa senang dan mungkin bangga bila hasil upload-upload foto kita mendapat respon dari rekan-rekan komunitas medsos atau sekedar tanda "like" atau juga "dislike". Hehe..
Nah, untuk menjawab pertanyaan ini, saya mengajak pembaca untuk melihat hasil survey yang dilakukan sebuah tim kecil di Kota London.
Tim ini mewawancarai sekelompok pejalan kaki mengenai profesi yang mereka geluti. Semacam social experiments gitu-lah.'
Beberapa pertanyaan yang diajukan cukup simpel seperti,"Apa pekerjaan Anda saat ini? Apakah Anda memang punya bercita-cita menggeluti profesi ini? Jika tidak, apa profesi yang sebenarnya ingin Anda geluti?
Jawaban yang diberikan oleh para responden cukup mengejutkan. Ternyata kebanyakan responden menjawab bahwa mereka tidak pernah bercita-cita menggeluti profesi seperti yang mereka lakukan sekarang. Para responden seperti bankir, dokter, tentara, polisi, dosen atau pekerja swasta lainnya justru memiliki impian profesi lain sejak kecil. Misal, ada seorang bankir yang menyatakan bahwa ia sebenarnya justru ingin menjadi seorang pelukis. Lho?
Ada pula seorang perempuan, menggeluti profesi pengacara namun justru awalnya ingin menjadi seorang Chef. Ia ingin menjadi koki ternama dan berkutat dengan makanan. Aneh ya..?
Singkatnya, hampir semua responden mengatakan bahwa mereka tidak benar-benar menginginkan pekerjaan yang mereka geluti saat ini. Jauh di relung hati, mereka ternyata menyimpan keinginan, hasrat dan cita-cita yang lain. Kita tidak tahu apakah apa yang tersimpan di hati mereka itu nantinya benar-benar terwujud.
Tim ini memang tidak merekomendasikan apapun dari apa yang mereka lakukan karena tujuan sebenarnya memang sekedar mewancarai kalangan eksekutif itu. Tidak lebih. Maklum, karena Tim ini hanya bergerak di bidang peningkatan bahasa. Mereka merekam video wawancara ini untuk menjadi bahan pengajaran bahasa Inggeris semata. Namanya, The Real English yaitu bahasa Inggeris yang diucapkan secara alamiah oleh para native speaker dalam suasana kasual, apa adanya.
Tim ini memang tidak merekomendasikan apapun dari apa yang mereka lakukan karena tujuan sebenarnya memang sekedar mewancarai kalangan eksekutif itu. Tidak lebih. Maklum, karena Tim ini hanya bergerak di bidang peningkatan bahasa. Mereka merekam video wawancara ini untuk menjadi bahan pengajaran bahasa Inggeris semata. Namanya, The Real English yaitu bahasa Inggeris yang diucapkan secara alamiah oleh para native speaker dalam suasana kasual, apa adanya.
Hehe, memang pertanyaan ini penting sekali ngak?. Tidakkah lebih penting bagaimana supaya kita bisa meningkatkan kualitas profesi saat ini?
Saya kira, memang pertanyaan di atas layak saja diajukan, kok. Sebabnya, ya itu tadi. Jika profesi yang kita lakukan saat ini adalah sesuatu yang menyenangkan dan membuat happy, tentu kita akan mengupload dan selfie dengan latar belakang tempat kerja kita bukan? Mengapa tidak dilakukan?
Sehingga, pertanyaan ini layak diajukan kok. Setidaknya untuk menjawab pertanyaan, mengapa banyak pekerja kantor yang selalu mengharap datangnya libur dan "bermuram durja" ketika hari Senin menghampiri?. Apa saya tidak berlebihan?
Ya, begitulah.
Pakar psikologi menyebutkan bahwa kondisi masyarakat modern saat memang sering menyebabkan manusia modern tersiksa dengan pencapaian dan target mereka. Demi mengejar uang, dan target lainnya, banyak manusia yang akhirnya melakukan eskapisme yaitu pelarian dari rutinitas dan keruwetan tempat kerja. Salah satunya adalah menikmati liburan. Sebagian lain melakukannya dengan mengunjungi mall, cubbing di diskotik, narkoba dan mungkin juga bunuh diri. Maklum stress dan tertekan.
Wah,,wah. Tempat kerja ternyata bisa menjadi neraka juga ya. Atau, bisa jadi, justru kitalah yang menciptakan lingkungan stress itu. Kita menjadi pemicu api "neraka" itu. Hehe
Atau mungkin kita pula yang menjadi korban dari stress ciptaan orang lain.
Lalu, bagaimana mengatasinya?
Para motivator pelatihan kepribadian atau ustaz biasanya memberikan resep untuk menjadikan pekerjaan harian kita sebagai sarana ibadah. Kita harus melakukan affirmasi betapa berharganya pekerjaan kita dalam memberi kontribusi bagi kehidupan orang lain. Kita harus menemukan sisi-sisi yang membuat kita bangga dan sangat menyukai pekerjaan yang digeluti saat ini. Karena apa? Karena bekerja itu ibadah.
Sehingga, fenomena stress di lingkungan kerja seharusnya tidak terjadi. Ibadah kok bisa stress? Atau, ibadah kok membuat orang lain stress?
Saya kira, sebagai manusia modern, resep di atas ada baiknya kita laksanakan saja, deh.
Saya punya hitung-hitung matematika sederhana nih.
Katakan, jika kita menghabiskan 10 jam dari 24 jam kita untuk bekerja, 8 jam untuk tidur atau beristirahat, 1-3 jam untuk ibadah (Sholat, dll), dan sekitar 2 jam untuk sosial, maka dipastikan bahwa hampir setengah waktu hidup kita adalah untuk bekerja. Dalam hitungan saya, waktu untuk bekerja ternyata lebih banyak dibandingkan dengan istirahat dan ibadah.
Sehingga, memaknai perkerjaan adalah sebuah keniscayaan. Pekerjaan yang kita geluti adalah alasan paling masuk akal yang menyebabkan kita masuk surga lho, maka jadikan ia ibadah.
Sebaliknya, jika pekerjaan itu tidak mampu kita konversi menjadi sebuah ibadah, maka dipastikan pula, bahwa pekerjaan itu pula yang menjadi variabel utama kita untuk masuk ke dalam neraka bukan?. Mengerikan ya,,so, jangan main-main dengan Hari Senin
Saya kira, sebagai manusia modern, resep di atas ada baiknya kita laksanakan saja, deh.
Saya punya hitung-hitung matematika sederhana nih.
Katakan, jika kita menghabiskan 10 jam dari 24 jam kita untuk bekerja, 8 jam untuk tidur atau beristirahat, 1-3 jam untuk ibadah (Sholat, dll), dan sekitar 2 jam untuk sosial, maka dipastikan bahwa hampir setengah waktu hidup kita adalah untuk bekerja. Dalam hitungan saya, waktu untuk bekerja ternyata lebih banyak dibandingkan dengan istirahat dan ibadah.
Tak berlebihan, jika saya katakan bahwa penyebab kita masuk surga atau neraka nantinya, mungkin saja nantinya didominasi dari variabel aktifitas bekerja kita. Logis bukan?
Sehingga, memaknai perkerjaan adalah sebuah keniscayaan. Pekerjaan yang kita geluti adalah alasan paling masuk akal yang menyebabkan kita masuk surga lho, maka jadikan ia ibadah.
Sebaliknya, jika pekerjaan itu tidak mampu kita konversi menjadi sebuah ibadah, maka dipastikan pula, bahwa pekerjaan itu pula yang menjadi variabel utama kita untuk masuk ke dalam neraka bukan?. Mengerikan ya,,so, jangan main-main dengan Hari Senin
Hehe...

0 Comments