By: M. Ridwan
Sejenak, saya mengajak berimajinasi. Katakanlah saat ini kita berada di tengah-tengah kota Jakarta yang super macet di suatu sore. Memang, kita patut "berbangga" bahwa Jakarta termasuk 10 kota dunia yang paling parah kemacetannya. Ini menurut Tom Tom Traffic Index yang memang berkutat di indeksasi kota-kota macet di dunia. Nah, Jakarta itu termasuk hebat karena mengalahkan Rusia dan Mesixo City termasuk juga St. Petersburg. Keren.
Kita lanjutkan.
Saat itu, kita harus buru-buru karena memiliki jadwal penerbangan pada pukul 19.30 di malam harinya. Waktu telah menunjukkan pukul 17.15 sore dan Anda tidak mengetahui jalur mana yang harus dipilih untuk menghindari kemacetan ini. Kendaraan bergerak lambat, merayap. Waktu tempuh ke bandara sekitar 1-2 jam dari posisi kita . GPS tidak bisa "dipercaya" lagi karena semua jalanan ternyata macet meskipun "nyata-nyata menunjukkan warna hijau . Katanya, warna hijau itu adalah jalur yang tidak macet, tapi kok sama saja ya...?
Jarum jam terus berputar. Anda tinggal memiliki waktu satu jam lagi. Kita tidak punya pilihan selain terus maju ke depan. Karena, jangankan mundur atau berbalik, untuk berpindah ke jalur lain saja tidak memungkinkan.
Karena tidak memiliki pilihan selain menempuh jalan nan macet itu, apa yang akan kita rasakan?. Reaksi apa yang muncul? Pastilah semua perasaan berkecamuk menjadi satu. Bisa jadi kesal karena kota Jakarta ini ternyata tidak berubah dari sisi kemacetan. Jakarta ternyata tidak bisa diselamatkan lagi dari "bencana" ini. Atau mungkin kita akan marah?, karena risiko tertinggal pesawat menghantui. Uangnya jadi hangus bro, apalagi kalau tiketnya tidak bisa ditukar alias hangus.
Penyesalan dan rasa bersalah juga mungkin muncul. Berandai-andai sekiranya tadi lebih cepat ke bandara dan memilih jalur lain. Tapi, lagi-lagi, kita tidak tahu begini kejadiannya, bukan?
Atau, mungkin pula kita akan bersikap pasrah dan ikhlas. Dengan tetap berupaya melewati kemacetan dengan teknik tertentu, saya kira adalah cara yang paling masuk akal untuk dipilih. Kita tidak punya pilihan bukan?
Itulah yang kami alami kemarin sore. Terjebak di tengah kemacetan dahsyat kota Jakarta. Saat itu, berbagai aplikasi teknologi seperti GPS tak berfungsi. Semuanya tidak banyak menolong dan menunjukkan warna merah alias jalanan macet. Sempat terpikir berganti ke layanan Gojek, namun sudah kadung berada di tengah jalan. Memang ini kali ke sekian saya harus dikejar waktu lagi menuju bandara. Dan, biasanya menuju bandara Soekarno Hatta itu paling tidak mengenakkan. Bedakan kalau menuju Kuala Namu, Hasanuddin apalagi bandara Iskandar Muda. Adem Ayem. Buktikan saja sendiri. Makanya, saya berdoa jika jalur kereta atau mungkin mobil terbang bisa segera terwujud di Jakarta.
Saya sering berpikir betapa penyabarnya masyarakat kota yang menghadapi kemacetan terutama Jakarta ini. Betapa ikhlasnya mereka. Kemacetan adalah sarapan, makan siang dan makan malam mereka. Mereka akrab dengan kemacetan setiap harinya.
Saya yakin kemacetan -jika mampu- di-manage dengan baik- akan berkontribusi terhadap peningkatan spiritualitas seseorang. Bukankah kesabaran itu adalah spiritualitas? Bukankah ikhlas dan pasrah/tawakkal itu juga adalah spiritualitas? Kendati memang dimulai dengan sebuah paksaaan. Saya menyebutnya "paksaan" karena tentu saja, tidak ada yang suka dengan yang namanya kemacetan, namun jalanan macet itu bisa menjadi tarekat, lho. Namanya Traffic Jam Tariqah. Ngaco...
Oke-lah. Jika kemaceten bisa menjadi trigger untuk memunculkan spiritualitas bagi para pengendara jalan, maka seharusnya juga memunculkan spiritualitas bagi pemegang kebijakan. Kemaceten jalan raya seharusnya tidak terjadi jika pemegang otoritas jalanan juga memimiliki nilai-nilai spiritualitas seperti kecerdasan, kecermatan dan perencanaan yang matang, ternasuk juga kejujuran. Tanda tingginya spiritualitas otoritas pengatur jalanan ya harus tidak ada kemacetan ini. Bisa tidak ya?
Oke-lah. Jika kemaceten bisa menjadi trigger untuk memunculkan spiritualitas bagi para pengendara jalan, maka seharusnya juga memunculkan spiritualitas bagi pemegang kebijakan. Kemaceten jalan raya seharusnya tidak terjadi jika pemegang otoritas jalanan juga memimiliki nilai-nilai spiritualitas seperti kecerdasan, kecermatan dan perencanaan yang matang, ternasuk juga kejujuran. Tanda tingginya spiritualitas otoritas pengatur jalanan ya harus tidak ada kemacetan ini. Bisa tidak ya?
Di sisi lain, kemacetan itu bisa saja merupakan sebuah indikator lain, lho yaitu indikator dari kemacetan dan keruwetan pikiran dan jalinan hati, kita-kita ini. Kemacetan mungkin bisa menjadi indikator dari sikap egois kita yang terlalu dikedepankan. Kita egois dan merasa bahwa kita-lah yang harus diselamatkan. Kita mungkin tidak peduli dengan orang lain. Kita asyik "menyelamatkan" diri masing-masing, bukan? Asyik dengan ambisi dan kepentingan sendiri. Yang penting bagaimana sampai ke tujuan kita sendiri, masa bodo dengan orang lain. Kita tidak peduli apakah mereka akan sampai ke rumah, tempat kerja atau tidak. Mana sempat mikiran orang lain ya?. Apakah saya tidak berlebihan?
Terkait dengan dampak ekonomi, kemacetan tentu menjadi bintangnya. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan rakyat pernah mengekspose angka 65 trilyun per-tahunnya. Ini dampak ekonomi langsung seperti pemborosan BBM dan inipun hanya di Jakarta, belum kota-kota lain di Indonesia. Hehe, lucu dan naif juga ya? Kita sibuk mendebatkan dan mencari sumber energi alternatif, terbarukan dan ramah lingkungan, ternyata untuk dihambur-hamburkan di jalan raya ya?
Itu baru dampak ekonomi. Kemacetan juga menghasilkan dampak tidak langsung. Katakanlah turunnya produktifitas masyarakat. Bagaiman tidak turun, jika setiap hari kita membuang waktu 4-5 jam di jalanan penuh sesak bak ikan teri. Dari subuh dan berakhir hampir di tengah malam dan berulang kembali keesokan harinya. Saya kira, dampak psikologis dan kejiwaan pasti akan lebih besar nilainya. Makanya, jumlah pengidap masalah kejiwaan semakin bertambah di Jakarta. Saya juga membayangkan, seandainya ada pasien rumah sakit yang harus segera ditolong namun ambulance yang membawanya terjebak macet. Siapa yang bisa memastikan ia akan segera tiba di rumah sakit?. Ini dosa siapa, ayo?
Bagaimana jalan keluarnya?
Saya pasti bingung-lah. Mengurai kemacetan itu sulit dan saya sama sekali bukan pakarnya. Penyebabnya juga banyak. Entah karena pertumbuhan jumlah kendaaan yang semakin menggila. Kapasitas jalanan yang masih kurang. Atau manajemen jalan raya yang masih amburadul. Semuanya menjadi satu.
Jakarta yang dipenuhi orang-orang pintar saja, tidak mampu memecahkannya. Padahal yang banyak yang jebolan luar negeri dan belajar dari negeri-negeri yang berhasil mengatasi macet. Tapi, kok bisa macet ya?
Atau, jangan-jangan, kemacetan ini memang buah dari banyaknya manusia pintar dan kerjanya memang suka "minterin" orang lain ya?. Orang yang suka "minterin"orang adalah pribadi yang memiliki "kemacetan ruhani". Jalannya menuju Tuhan macet. :)
Atau, jangan-jangan, kemacetan ini memang buah dari banyaknya manusia pintar dan kerjanya memang suka "minterin" orang lain ya?. Orang yang suka "minterin"orang adalah pribadi yang memiliki "kemacetan ruhani". Jalannya menuju Tuhan macet. :)
Nah, kalau dari situ asal muasal masalahnya, maka mungkin saja kita bisa membantu mengurai kemacetan ini dengan memulainya dari hati dan sikap kita. Melapangkan dan meluaskannya. Caranya? Bisa saja dengan mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan kita. Kita gemar mengalah dan tepo seliro. Misal, kalau merasa tidak perlu sekali untuk menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil yang rakus ruang dan BBM, kenapa harus dipaksakan?. Kenapa harus menerobos lampu merah seperti yang banyak dilakukan di Medan. Hehe..kita bukan lagi anak-anak lho. Hanya anak-anak yang masih suka memamerkan mainan kepada teman-temanya dan suka pamer hebat. Betul kan?
Dengan hati dan luas melebihi semesta dan samudera, maka kemacetan pasti bisa diurai. Kita bergerak dari penanganan masalah psikis spiritualis menuju teknis pragmatis. Lho, kok pakai kata-kata "is is" semua nih?
Orang yang berhati luaslah yang bisa menaburkan kebahagiaan bagi orang lain termasuk para pengguna jalan raya. Apapun cara yang akan kita gunakan pasti akan berkontribusi banyak membantu mengatasi permasalahan kemacetan ini. Syaratnya, kita pastikan hati kita tidak macet dulu. Kalau macet hati itu sudah berhasil diurai, maka masalah macet lalu lintas itu mah gampang.
Hehe,,,Saya terlalu menyederhanakan masalah ya?.
Selamat menikmati kemacetan dan meluaskan hati. Mudah-mudahan fenomena ini bisa menjadi jalan kemudahan bagi jalan kita menuju Tuhan.
Syukurnya, kemarin sore, kami berhasil juga sampai ke bandara Soekarno Hatta meskipun dengan nafas terengah-engah karena ternyata hampir salah terminal dan gate. Yang dituju adalah Terminal 2F Gate 4, bro, bukan terminal 1 tempat maskapai yang kena sanksi dari Menhub itu. (Nanti kita bincangkan tentang bisnis pesawat lah)
Syukurnya pula, pesawat Garuda-nya belum berangkat, delay. Tumben. Entah kenapa, kali ini kami sangat bahagia dengan mahkluk bernama "delay" ini. Dunia oh dunia,,,,

0 Comments