By: M. Ridwan
Sore kemarin, rekan saya -Marliyah- yang merupakan dosen dan pengelola prodi ekonomi Islam, memberikan
sebuah bundelan kuesioner untuk diisi sebagai data disertasi yang sedang ia
garap. Permasalahannya terkait dengan implementasi mudharahah di perbankan
Islam baik. Ia sedang mengkaji hambatan dan strategi penerapannya di perbankan Islam. Memang, jamak
diketahui, bahwa mudharabah sebagai akad utama lahirnya bank Islam di dunia masih terlihat “malu-malu” untuk digunakan oleh indutsri keuangan Islam. Porsinya
masih di kisaran 10-20% saja. Sisa dominannya adalah akad-akad yang berbasis
fixed return.
Padahal, istilah PLS (profit and Loss Sharing) atau bagi
hasil itu adalah ide awal yang digaung-gaungkan untuk menunjukkan bahwa bank
syariah itu beda dengan konvensional.
Saya kira, orang tertarik dan kesengsem dengan
bank Islam, ya, karena ada istilah ini. Masyarakat Islam dunia sangat menantikannya
setelah ratusan tahun dicecoki dengan sistem bunga. Kata bank “bagi hasil”
menjadi sangat merdu terdengar. Istilah ini dalam fikih muamalah disebut (mudharabah).
Mudharabah
menjadi air “penyejuk” atas “panas’ nya sistem bunga yang telah
menggerogoti sistem keuangan dunia, sampai saat ini. Wow, bisa ngak masuk surga, tuh.
Makanya, sejak beroperasi 40 tahun lalu, publik kini memang sedikit kecewa. Kok, mudharabah-nya sedikit dipakai ya. Kok,
banyak murabahah-nya?
Meskipun demikian, jangan cepat-cepat menyalahkan bank
syariah ya. Jangan pula, gara-gara dominasi akad fixed return seperti
murabahah, atau ijarah, lantas kita mengatakan bahwa bank syariah itu tidak
syariah.
Analoginya, mungkin sama seperti membuang kembang yang sedang tumbuh indah di taman rumah kita. Bibit kembangnya, nyata-nyata bagus, namun karena
ketidak tahuan kita dengan cara menanam dan merawatnya, sehingga keindahannya
tidak muncul. Kembang yang kita tanam tadi tidak tumbuh dengan baik. Tumbuhnya
hanya seperti bonsai, atau dalama bahasa Medan disebut “bantut”. So, jangan
salahkan bibit kembang-nya. Salahkan diri kita sebagai petani-nya. Jangan, salahkan sistem bank Islamnya.
Nah, di tulisan kali ini, saya tidak membahas lebih lanjut
tentang mudharabah ini. Silahkan saja nanti hasil penelitian teman saya ini
dibaca. Dia pasti telah memiliki strategi dan alternatif pemecahannya.
Saya justru tertarik dengan pilihan metode penelitiannya yaitu menggunakan Analitic Network Process (ANP) yang biasanya dipakai dalam penentuan keputusan dalam bisnis. Metode ANP (Analitical Network Process) ini lebih menarik dibandingkan dengan AHP (Analitical Hierarchy Process) karena menggambarkan hubungan yang lebih luas dan interdependensi.
Banyak yang bisa dilakukan oleh metode ANP atau AHP, tidak hanya dalam keputusan produk. Ia bisa digunakan dalam proses pemilihan seorang pimpinan atau manager di sebuah perusahaan. Hasilnya, bisa lebih objektif dan akurat berdasarkan kriteria-kriteria yang kita gunakan.
Saya kira, metode ini bisa juga digunakan dalam proses penentuan pimpinan sebuah instansi atau mungkin jabatan politik. Namun, asumsinya, bahwa tarikan politis dan subjektifitasnya harus minim atau tidak ada sama sekali. Is it possible?. Rasanya berat, bukan? Namun, yang jelas perusahaan bisnis kelas dunia mengatakan bisa. Seharusnya institusi non bisnis juga bisa. Itupun, kalau mau disebut kelas dunia.
Dan, saya tentu tidak akan menjelaskan proses ANP dalam tulisan kecil di hari Sabtu ini. Silahkan saja dipelajari. Saya juga tidak akan membahas bagaimana proses penentuan seorang leader di perusahaan dengan menggunakan metode ini. Nanti saja.
Saya tertarik dengan nama software yang biasanya digunakan dalam proses AHP ini. Namanya Super Decisions. Lagi-lagi, saya tidak akan menjelaskan bagaimana menggunakan software keren yang baru saya install ini. Weleh weleh, kok pakai kata "tidak" semua, ya. Saya tertarik hanya dengan namanya itu, lho, yaitu SUPER DECISIONS.
Ya, SUPER DECISIONS atau Keputusan-Keputusan Super. Namanya menarik, bukan?
Kita tahu bahwa hidup ini penuh pilihan dan membutuhkan putusan-putusan penting, bukan?
Kalau dalam ekonomi dikatakan bahwa manusia harus melakukan pilihan untuk menyikapi antara kebutuhan dan keinginan. Manusia melakukan pilihan secara efektif dan efisien untuk menggunakan sumber daya -baik alam dan manusia- yang langka secara relatif. Manusia harus memilih dan memutuskan apakah memproduksi senjata untuk keamanan ataukah memproduksi makanan untuk men-supply kebutuhan pangan warganya. Itu pilihan ekonomi dan keputusan ekonomi.
Namun, bukan hanya pilihan dalam aktifitas ekonomi yang bisa dilkukan. Pilihan dalam masalah politik, budaya dan sosial juga terjadi. Dalam memilih pasangan hidup kita harus melakukan putusan dari pilihan yang ada, bukan? Termasuk juga pilihan jalan hidup kita untuk menuju surga ataukah neraka. Agree?
Saya ambil contoh.
Adam dan Hawa sebagai manusia pertama dan kedua dihadapkan pada pilihan, apakah memakan buah Khuldi atau tidak. Dengan berbagai pertimbangan, mereka akhirnya memutuskan untuk memakannya. Ternyata, pilihan dan keputusan mereka salah besar. Keputusan itu mencampakkan mereka ke dunia.
Kan'an anak Nabi Nuh memutuskan menjauh dari ayahnya dan memilih menuju gunung yang tinggi ketika air banjir itu datang. Berbagai pikiran dan analis itu mungkin berdialog di kepalanya. Namun, keputusannya salah besar. Ia tenggelam dan dinistakan juga oleh Tuhan. Bahkan menjadi contoh model anak durhaka baik kepada ayah maupun Tuhannya.
Dalam sejarah manusia, kita menyaksikan banyaknya keputusan salah dan benar yang dilakukan manusia.
US pernah mengambil keputusan besar namun salah dengan menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Demikian juga Hitler, yang megambil keputusan melakukan Genocida terhadap etnis Yahudi. Sekarang malahan Israel yang melakukan hal yang sama terhadap Palestina.
Indonesia juga pernah melakukan keputusan salah, lho. Ingat ketika pemerintah Orde Baru memberikan BLBI kepada bank-bank bermasalah. Hasilnya, tetap saja krismon terjadi dan uangnya dibawa kabur. Termasuk juga keputusan menjual BUMN yang menguntungkan kepada pihak asing. Sakitnya tuh, di sini.....
Indonesia juga pernah melakukan keputusan salah, lho. Ingat ketika pemerintah Orde Baru memberikan BLBI kepada bank-bank bermasalah. Hasilnya, tetap saja krismon terjadi dan uangnya dibawa kabur. Termasuk juga keputusan menjual BUMN yang menguntungkan kepada pihak asing. Sakitnya tuh, di sini.....
Biasanya, keputusan itu salah dan benar baru diketahui ketika berlalunya waktu. Semakin berjalannya waktu, maka semakin diketahui apakah keputusan kita itu salah atau benar. Tapi tentu kita tidak mungkin mengulang sejarah. Mesin waktu belum berhasil diciptakan manusia. :)
Memang, banyak keputusan salah yang dilakukan manusia. Bukankah kita sering mendengar kata-kata "Putusan ini mungkin tidak menyenangkan semua orang", "putusanku ternyata salah, cuma itu yang bisa dilakukan", "Ini putusan sulit", dan semacamnya. Pertanyaannya, bagaimana supaya keputusan-keputusan yang kita pilih itu benar dan memberikan kemaslahatan bagi diri dan orang lain?.
Ini pertanyaan sulit.
Sekiranya boleh menyederhanakan, saya cendrung mengatakan bahwa sebuah keputusan benar pastilah dihasilkan dari bimbingan dari Pencipta manusia itu sendiri. Manusia memutuskan dengan logika dan hati nurani yang diciptakan oleh Allah. Maka mintalah bimbingan dari pencipta hardware bernama otak dan nurani itu.
Tanpa itu, semua keputusan yang kita lakukan pasti tidak terbimbing. Kelihatan bagus dalam kacamata manusia, namun nonsense di hadapan Allah. Apa ada contoh?
Saya kira banyak.
Khaidir pernah mengambil keputusan untuk membunuh seorang anak. Nabi Musa protes dengan tindakan tersebut. Logika kemanusiaan dan nurani-nya mengatakan itu salah. Namun, Musa lupa bahwa ia diperintahkan oleh Allah -Sang Pemilik Logika dan Hati. Ternyata keputusan Khaidir benar dan Musa salah.
Lalu, Musa juga dihadapkan pada pilihan dan keputusan untuk menyeberangi lautan Merah. Sebagian pengikutnya -yang kemudian menjadi nenek moyang Yahudi- protes. Ngak logis, masak menyebrangi lautan merah yang dalam ini. Sebagian mereka melarikan diri. Disersi. Ternyata keputusan Musa benar dan mereka salah.
Banyak keputusan benar lainnya yang terjadi. Termasuk juga keputusan Nabi Muhammad untuk hijrah ke Madinah atau keputusan Umar untuk melakukan "moratorium" pemberian ghanimah bagi prajuritnya dalam tulisan saya yang lalu.
Atau, keputusan Usman melakukan kodifikasi Alquran. Itu adalah keputusan besar dan paling benar sepanjang sejarah umat manusia, bukan? Karena keputusan itulah, maka pesan dan fisik Alquran bisa sampai ke hadapan kita, saat ini.
Lagi-lagi, pertanyaannya, bagaimana cara mengetahui bahwa keputusan kita dibimbing oleh Tuhan?
Hehe, saya pasti sulit menjawabnya. Wong, banyak keputusan hidup saya yang juga saya anggap salah. Syukurnya, saya merasa bahwa Tuhan masih memberikan peluang untuk mengkoreksinya.
Teorinya, sih.
Pastikan saja kita dekat dengan Tuhan. Bersahabat dan "berguru" kepada-Nya. Mencintai dan Merindukan-Nya. Tanpa itu, maka putusan yang kita buat, mungkin saja berasal dari musuh Tuhan itu sendiri, yaitu Iblis atau Setan. Ngeri.....
Selamat akhir pekan, selamat bercengkerama dengan keluarga. Mudah-mudahan apa yang kita lakukan hari ini, juga putusan yang dibimbing oleh Tuhan. Insyallah....
Selamat akhir pekan, selamat bercengkerama dengan keluarga. Mudah-mudahan apa yang kita lakukan hari ini, juga putusan yang dibimbing oleh Tuhan. Insyallah....

0 Comments