By: M. Ridwan
Kepiting adalah binatang yang hidup di dua alam. Capitnya tajam dan matanya unik. Rasanya enak dan sering menjadi menu favorit di berbagai restoran Sea Food di dunia. Mahal lagi.
Ada beberapa jenis kepiting di dunia namun karena saya bukan ahli kepiting, maka saya hanya tahu Lobster, kepiting air tawar dan kepiting Papua. Nyam, nyam, enakkkk.
Saya dengar bahwa kepiting memiliki prilaku tidak pantas ditiru. Katanya sih, kepiting itu memiliki hobby mencapit sesama mereka. Beberapa buku yang saya baca menyebutkan bahwa jika sekelompok kepiting dimasukkan ke dalam baskom, maka dipastikan tidak ada satupun yang berhasil keluar meskipun ada yang hampir berhasil menyelamatkan diri. Tanya kenapa? Tidak lain karena rekan-rekan sesama kepiting pasti akan menariknya kembali ke bawah, dengan capit mereka. Apakah benar demikian? Wallahu a'lam. Saya juga tidak tahu.
Tapi, kalaupun benar demikian, saya kira ngak aneh, bukan?. Namanya juga binatang, bercapit pula. Pasti bukan merupakan kesengajaan dari pikiran mereka untuk melakukan itu. Kepiting tidak bisa berpikir, sama seperti para monyet yang "rela" "dikerjain" Prof Djakfar Siddik semasa masa kecilnya dulu. Cerita yang dimuat di halaman Facebook-nya itu lucu, yaitu tentang monyet serakah yang tangannya terjepit di buah kelapa. Hehe, menarik sekali. Kunjungi saja halaman FB-nya ya.
Terkait kepiting.
Prilaku capit-mencapit para komunitas kepiting sering diidentikkan dengan prilaku manusia. Seorang ustaz sering mengingatkan "jangan seperti kepiting, jangan saling jegal menjegal karena risikonya mengakibatkan kita semua juga yang rugi. Semua kita akan binasa".
Dalam kisah kepiting di atas memang disebutkan bahwa mereka akhirnya menjadi santapan empuk manusia. Tak seekorpun yang selamat karena setiap ada kepiting yang mencoba menyelamatkan diri atau mencoba melihat peluang melarikan diri, pasti ditarik dari bawah oleh kawan-kawannya. Mungkin sanking semangatnya mereka dengan "korps sesama kepiting" itu ya?. Kepiting malang nan lezat.
Saya pernah berdialog dengan seorang karyawan di sebuah perusahaan. Ia mengeluhkan prilaku tidak kondusif di kantornya. Saling jegal dan cari muka sudah lumrah di tempatnya. Fitnah dan kedengkian bersileweran. Bahkan, katanya, ada yang menggunakan jasa dukun pula. Wah, wah,..mereka ini sedang bekerja atau lagi "simulasi neraka" sih?. Menurut info Alquran, di neraka nanti, para penghuninya punya prilaku saling menyalahkan, marah dan ngudumel. Mereka menyalahkan setanlah, menyalahkan teman di dunia-lah. Pokoknya sangat tidak enak dan nyaman.
Berbeda dengan suasana di surga. Penduduknya tidak memiliki rasa dengki dan iri. Sifat itu sudah lama dicabut di hati mereka. Apakah ini artinya, kita bisa mengetahui apakah nanti termasuk penghuni surga atau neraka berdasarkan suasana hati kita di dunia saat ini? Wallahu a'lam juga. Jangan sampai panik ya, saya tidak serius di bagian ini, kok...:)
Prilaku seperti kepiting itu memang menghancurkan dan menghambat kesuksesan. Baik jangka pendek dan panjang. Saya kira, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa indikator suksesnya sebuah komunitas atau institusi ditandai dengan tiadanya prilaku kepiting di tempat itu. Kita bahkan bisa meramalkan kesuksesan mereka di masa depan, hanya dengan mengajukan pertanyaan, bermentalitas kepiting-kah mereka? mudah bukan?.
Berbeda dengan bapak tadi. Kita menyaksikan berbagai korporasi dan institusi besar yang berhasil dan sukses justru karena anggota tim yang mereka miliki saling menguatkan, saling mendukung. Ngak mudah ngiri apaagi dengki. Mereka loyal dengan perusahaan dan rela menyukseskan rekan mereka. Lihat saja perusahaan seperti Honda, Toyota atau Google. Tak salah jika orang mengatakan bahwa di perusahaan-perusahaan besar dunia saat ini banyak terdapat para sufi. "Corporate Sufis". Kita boleh setuju atau tidak.
Kita pantas bersyukur jika dikarunia rekan-rekan kerja yang saling mendukung dan ikhlas. Kita harus bangga jika bekerja di sebuah lingkungan kerja yang penuh dengan keikhlasan dan saling membesarkan, dengan ikhlas dan bukan lip service semata. Kita harus berupaya bagaimana kita bisa menjadi bagian dari doa-doa para sahabat dan rekan kita. Doa tulus dan penuh kebajikan yang mereka ucapkan dalam sholat dan zikir mereka, untuk kita.
Apakah lingkungan seperti itu sudah kita miliki? Insyallah, bro. Kalaupun belum ada, jangan panik dan keluar dari tempat pekerjaan Anda. Minimal, pastikan saja, kita bukanlah si kepiting itu. Atau, jika kita belum menjadi bagian dari doa sahabat dan teman kita, mengapa kita tidak memulai dengan menjadikan mereka sebagai bagian dari doa tulus kita? Ini berat, lho, makanya hanya sedikit yang mau melakukannya.

0 Comments