Ticker

6/recent/ticker-posts

Terdidik Tapi Tak Tercerahkan? (Bag. 2)

By: M. Ridwan

"Modern universities focus on teaching students the practical skills necessary for a career, but a successful career depends on a lot more than skills, it also depends on the practical application of wisdom"...(The 2010 Macquarie University Vice-Chancellor's Annual Lecture).

Dunia logika melaju dengan cepatnya. Peradaban demi peradaban terbentuk darinya. Logika yang dirumuskan dengan sistematis kemudian membentuk bangunan ilmu. Katakanlah, ilmu sains seperti Matematika, Fisika, Kimia, Elektronika, termasuk juga Kedokteran. Demikian pula, ilmu-ilmu sosial dan humaniora seperti Ekonomi, Hukum, Psikologi, termasuk juga seni. Teori-teori dari ilmu-ilmu ini datang silih berganti, terkoneksi dan saling mengeliminasi juga. Seperti datangnya siang menghapus malam dan datangnya malam mengeliminasi siang (kayak puisi ya). Wujud fisik dan non fisik dari ilmu-ilmu itulah yang kemudian membentuk peradaban, bukan?. Saya mencoba menyederhanakannya. mudah-mudahan tidak keliru atau malah membingungkan, hehe..

Dunia logika sebenarya bukan tanpa batasan. Kendati kita bisa berpikir seluas alam semesta, batasan itu selalu ada. Tentu saja ada, karena manusia juga punya batasan. Masih banyak misteri alam yang belum terpecahkan. Maklumlah, secara fisik otak manusia saja masih kalah besar dibandingkan otak gorilla atau gajah apalagi ikan paus. Fisik otak yang kecil ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan wujud fisik alam.

Pagi ini saja, saya membaca berita bahwa ada seorang professor matematika asal Inggeris bernama Andrew Wiles yang mampu menyelesaikan sebuah teorema matematika yang telah berusia selama 300 tahun namun tak terpecahkan oleh para professor matematika sekalipun. Teorema itu membuat pusing para professor dunia. Namanya "Fermat's Last Theorem" atau teorema terakhir Fermat. Persamaan ini diajukan oleh matematikawan Prancis bernama Pierre de Fermat, pada tahun 1637.  Teoremanya berbunyi untuk n lebih besar dari 2, tidak ada bilangan bulat yang bisa memenuhi persamaan x(pangkat)n + y (pangkat) n =z (pangkat) n. Hehehe, yang tidak suka matematika harap lewatkan saja alinea ini ya..

Untuk keberhasilannya itu, Andrew Wiles mendapatan bonus uang 9,8 milyar rupiah, wow. Luar biasa apresiasi negara Inggeris kepada ilmuwan ya..
Artinya apa?. Dalam matematika saja masih ada rumus yang belum dipecahkan, konon pula bidang lain..Cccckkkk...

Memang, meskipun otak dan logika manusia ada keterbatasan, namun, dalam keterbatasan itupun, manusia tetap mampu membuat peradaban hebat, bukan?

Nah, untuk mengejar kemampuan berpikir logis dan sistematis ini, manusia modern biasanya bersekolah untuk menuntut ilmu. Kita mendirikan sekolah atau universitas. Kita kirimkan anak-anak untuk melakukan hal yang sama. Kita antar mereka ke sekolah dan melakoni hiruk pikuk di pagi hari. Hehe, macet sih. Kita senandungkan lagu "Tuntutlah ilmu sampai kau dapat. Hormati gurumu, sayangi teman. Itulah tandanya kau murid budiman" (jadi ingat lagu sekolah). Harapannya, semoga mereka bisa memiliki logika yang lurus, sistematis dan menjadi orang terdidik. Syukur-syukur, menjadi salah satu manusia pembentuk peradaban, bukankah demikian?.

Hasilnya apa?
Lihat saja sekarang. Jika kehidupan dan peradaban saat ini terlihat semakin menuju "A better life dalam jangka panjang, berarti semakin banyak penghuni bumi yang tercerahkan. Sebaliknya, jika hari demi hari, justru semakin banyak orang yang stress, tertekan dan terintimidasi -meski telah menapaki jenjang pendidikan tinggi- maka bisa diduga atau disimpulkan bahwa pencerahan itu semakin jauh dari kehidupan kita.   

Oh ya, saya pernah membaca presentasi seorang dosen dari sebuah universitas Eropa yang menyebutkan bahwa orientasi orang bersekolah atau kuliah saat ini ternyata sudah tidak lagi murni untuk membangun ilmu. Para pelajar dan pendidik ternyata lebih fokus mengejar materi. Mahasiswa dan pelajarnya hanya diarahkan untuk tamat dan mengggunakan ijazahnya untuk meniti karier. Tentu tidak salah sih. Tapi saya kira, kita sepakat bahwa porsinya harus berimbang. Both, In the name of knowledge and career. Sekolah dan universitas harus melahirkan kebijaksanaan yang bisa dipraktikkan, seperti yang saya kutip dari pernyataan Professor Steven Schwartz, Wakil Rektor Macquarie University Australia, di awal tulisan ini. 

Hemat saya, peradaban yang terbangun hanya dari kreasi orang-orang "terdidik" atau sekedar pintar, akan rapuh dan runtuh. Lihat saja peradaban Yunani, Romawi, atau Persia. Termasuk juga Babylonia atau Mesir. Peradaban yang sekedar produk orang-orang "cerdas" saja tidak akan bertahan lama. Kita butuh peradabnn yang dibangun dari orang-orang yang tercerahkan karena, sekali lagi, subjektifitas dan nafsu membuat peradaban yang semata-mata mengandalkan orang "pintar" tidak akan memiliki efek positif bagi keberlangsungan umat manusia. Dalam jangka panjang, lho. Dalam jangka pendek mungkin terlihat wow dan gemerlap. Terlihat hebat nan menakjubkan. Seperti penuh warna dan cahaya. Padahal, rapuh dan hampa. Saksikan saat ini. Apakah kesimpulan saya tidak berlebihan?

Tunggu dulu, bagaimana dengan peradaban Islam?

Saya kira, peradaban Islam pada masa awal adalah contoh ideal hasil dari orang-orang yang tercerahkan. Nabi Muhammad adalah perintisnya. Ia tercerahkan dan mendapat "sinar" langsung dari Pemilik Alam. Pencerahan ini kemudian "menulari" para sahabat dan masyarakat saat itu. Meskipun, tentu saja, tetap ada orang-orang yang tidak bisa menangkap "sinar pencerahan" ini. Orang-orang seperti ini biasanya telah begitu lama hidup dalam kegelapan hatinya, meskipun di sekelilingnya banyak sekali cahaya lampu beneran. Al-Ghaazali menyebut bahwa cermin hatinya telah pudar atau kotor.

Kendati demikian, catatan sejarah Peradaban Islam juga memiliki noktah-noktah hitam terutama di akhir-akhir kejayaannya. Noktah "kegelapan". Lihat, bagaimana penguasa Mamluk dengan produk kreatif mereka di bidang korupsi, kolusi dan nepotisme?.  Saya yakin, ketika Mamluk berkuasa, pencerahan itu sudah tidak dimiliki lagi oleh sebagian besar penguasanya.

Sehingga, jika saya ditanya, mana yang lebih diperlukan, orang terdidik atau tercerahkan?. Jawabannya, tentulah orang yang tercerahkan. Untungnya, orang yang terdidik-pun sebenarnya bisa mendapatkan pencerahan (enlighment). Dia berpeluang mendapat hikmah dan kearifan dari keruwetan bangunan ilmu.

Saatnya, kita membutuhkan peradaban yang merupakan produk dari orang-orang yang tercerahkan.  Kita butuh manusia pembentuk peradaban yang bisa memadukan antara fikr dan zikr. Bahasa kerennya, mampu memadukan antara unsur How dan Why.

Saya tidak ingin saja Indonesia mengulang sejarah kegagalan peradaban-peradaban besar yang sekedar mengandalkan kecerdasan otak tapi miskin ruhani atau pintar tapi suka "minterin" orang.

Bagaimana caranya?
Listen to your heart. Listen to Your God.
Sorry, I am in a hurry, too, going to campusssss :)

Post a Comment

0 Comments