Posts

Showing posts from November, 2015

Existensial Crisis: Menyingkap Permasalahan Utama Dunia

Oleh: M. Ridwan Saya sangat bersyukur, Sabtu kemarin, bisa mengikuti Yudisium di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UINSU. Selain karena turut bahagia menyaksikan wajah-wajah ceria para wisudawan dan para orang tua yang bangga dengan pencapaian anaknya, namun juga karena saya merasa bahwa ada pesan mendalam yang saya dapatkan dari 2 (dua) pembicara hari ini. Pertama , dari orasi ilmiah yang disampaikan oleh DR. H. Saparuddin, SE, Ak, SAS, MAg. Dosen dengan seabrek gelar akademik yang disandingkan dengan namanya adalah juga Direktur Utama BPRS Puduarta Insani –BPRS yang pernah mendapatkan penghargaan nasional sebagai salah satu BPRS yang terbaik di Indonesia. Bang Sapar , demikian panggilan akrab beliau, menyampaikan orasi seputar Sumber Daya Insani BPRS di Indonesia. Materi orasinya, padat, mantap dan langsung mengena sasaran. Sorotannya yang kritis terhadap fenomena lembaga keuangan syariah, saya kira, patut menjadi catatan kita bersama dalam memikirkan ulang bagaimana menciptakan S...

Nenekku Seorang "Investor"

Oleh: M. Ridwan Di jaman modern ini, investasi merupakan trend. Kebiasan investasi merupakan hal yang harus dipupuk sejak dini. Ribuan buku tentang investasi memenuhi rak-rak toko buku atau juga mungkin lemari buku kita. Semuanya menganjurkan hal yang sama, Segeralah Berinvestasi..!!! Berinvestasi itu bisa dilakukan di berbagai instrumen. Bisa ke saham atau reksadana, properti, atau emas (sebagian mengatakan emas bukan instrumen investasi, hanya lindung nilai). Berbagai perusahaan ataupun personal menawarkan produk investasi yang beragam dan tentunya menjanjikan bisa "membiakkan" uang Anda. Mantap.  Namun, tulisan saya tidak berhubungan sama sekali dengan investasi ke dalam instrumen keuangan ala saham, properti atau reksadana. Silahkan saja buku-buku tentang investasi. Oh ya, saya juga ada memasukkan beberapa pembahasan mengenai investasi di buku teranyar 2015 ini, terbitan FEBI Press  dengan judul " The Handbook of Islamic Financial Planning for Family ...

Pintar Cari Duit (Bagian 2)

Oleh:  M.Ridwan Perhelatan akbar Asosiasi Fakultas Ekonomi (AFEBI) sedang berlangsung di Pontianak. Forum ini merupakan kumpulan para pengelola fakultas ekonomi seluruh Indonesia, termasuk Fakultas Ekonomi Islam yang berada di bawah IAIN aau UIN se-Indonesia. Ratusan peserta mewakili lebih dari 60 universitas berkumpul di sini. Pagi ini, pembicara adalah Prof. DR. Armida S. Alisjahbana yang menguraikan tentang Green Economy dan Sustainable Development (SDGs). Saya kira, kita mengenal tokoh perempuan yang super ini. Tidak hanya kiprah beliau yang pernah menjadi Menteri / Kepala Bapenas di Era SBY, namun juga sebagai Guru Besar Ekonomi di Universitas Padjajaran. Topik pagi ini tentang Green Economy and Sustainable Developments (SDGs). Apakah itu? Ringkasnya begini. Dunia ingin mencapai pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, namun pada satu sisi, pembangunan ekonomi tersebut harus bisa mamastikan pelestarian alam dan perlindungannya. Lalu, apa tujuan pembangunan ekonomi ala SDGs...

Pintar Cari Duit (Bagian 1)

Oleh: M. Ridwan Saya pernah punya pengalaman yang cukup menarik. Beberapa tahun lalu. Seorang anak muda, yang kebetulan baru menginjakkan kakinya pertama kali di Jakarta, bertanya serius. “Bang, gedung apa itu ya, tinggi-tinggi sekali. Kira-kira, bagaimana sih cara yang dilakukan oleh orang-orang yang berada di gedung-gedung itu untuk makan dan mencari duit?”.  Pertanyaan ini diajukan setelah sebelumnya, ia berkeliling di Jakarta. Jarang-jarang,   pertanyaan ini saya dengarkan. Lucu dan lugu. “Oh ya, Dik, gedung-gedung itu adalah kantor berbagai perusahaan. Kebanyakan kantor lembaga keuangan, namun ada juga hipermarket, hotel atau gedung pemerintah. Banyak deh. Orang-orang di dalamnya mengurus berbagai bisnis, dan melayani masyarakat. Cabang-cabang dari perusahaan mereka menyebar di seluruh Indonesia bahkan sampai ke luar negeri. Pusatnya ya di Jakarta ini. Oh ya, tentang makan, mereka makan nasi dan lauk-pauk juga, kendati tidak bercocok tanam dan menangkap ikan seper...

The Pursuit of Happiness: Menyikapi Salah Kaprah Pencarian Makna Hidup

Oleh: M. Ridwan Iseng-iseng saya mengetikkan kata “The Pursuit of Happiness” (Pencarian Kebahagiaan) di search engine Google. Wow, jumlah para pencari kata ini ternyata sebanyak 36.7 juta pencarian. Jumlah ini lebih banyak 7 kali lipat jika kita melakukan pencarian yang sama di mesin Yahoo yang “hanya” berjumlah sekitar 5 juta hasil. Kedua hasil di mesin pencarian ini tentu tidak bisa menjadi representasi dari keinginan seluruh populasi manusia di planet ini. Namun setidaknya, jumlah ini menunjukkan bahwa pencarian kebahagian menjadi obsesi banyak manusia di planet bumi yang saat ini (2015) telah mencapai 7,3 milyar jiwa. Oh ya, PBB memprediksi bahwa jumlah ini akan bertambah menjadi 8.5 milyar di tahun 2050 dan 11 milyar di tahun 2100. Buanyakk ya, gimana cara makannya ya?. Hehe,,,pakai tangan dong..:) (mode: lebay : ON) Konsen saya kali ini bukan tentang jumlah penduduk dunia yang semkin bertambah ini. Memang, memahami pertambahan jumlah penduduk dunia itu sangat pen...

Let The World Tell Your Story: Jangan-Jangan....?

Oleh: M. Ridwan   Kita hidup di dunia yang sudah cukup tua. Umurnya fisiknya mungkin sudah milyaran tahun sedangkan umur peradabannya mungkin sudah lebih dari 10 ribu tahun. Silih berganti cerita dunia telah ditorehkan di kanvas dunia.  Dari sejak nabi Adam sampai Muhammad, atau jaman Emperium Yunani, Romawi, China, Persia atau Islam.  Dunia telah dipenuhi berbagai mozaik cerita. Entah itu cerita kebaikan, atau kejahatan, kemenangan atau kekalahan. Ribuan film dan lagu telah dihasilkan, jutaan kisah telah ditulis. Hanya untuk menceritakan tentang hal yang sama. Apalagi kalau bukan tentang "DUNIA" dan pernak-perniknya. Indah, jelek, sedih dan duka, merajut menjadi satu. Sebagaimana yang pernah saya tulis di artikel-artikel sebelumnya, bahwa kita selalu memiliki pilihan untuk memerankan lakon apa dalam kehidupan. Seyogyanya, lakon manusia modern bisa lebih baik dari manusia " jadul " atau tempo " doeloe ". Mengapa?, tidak lain karena kita telah m...

The Real or Virtual Hero?

Real Hero adalah pahlawan sungguhan, sejati dan pejuang nyata. Fisik mereka nyata dan memiliki 4 dimensi. Entah itu karena mereka berjuang dengan senjata, pikiran, kata-kata atau perbuatan. Sedangkan Virtual Hero adalah pahlawan virtual, rekaan. Wujudnya ada tapi hanya di alam awang-awang. Keberadaan mereka tiada tapi diada-adakan. Istilah ini saya buat sendiri ketika tadi pagi mengikuti peringatan hari pahlawan 10 November 2015, hari ini. Pahlawan nyata itu banyak, mungkin jumlahnya ribuan atau jutaan. Namun, keterbatasan aksara para penulis tentang mereka menyebabkan keberadaan mereka nyaris dan memang tidak terdengar. Sejarah hanya berhasil me-record beberapa saja di antara mereka. Di Indonesia, dari jutaan pahlawan yang ada, hanya beberapa saja yang sering disebutkan. Sebut saja, Imam Bonjol, Diponegoro, Pattimura, RA Kartini, Cut Nyak Dien, Jendral Sudirman, Sisingamangaraja, Soekarno Hatta, dll. Meski hanya mereka yang disebutkan, tapi sudah cukuplah menjadi representasi para ...

The World of Consumerism: Melihat Prilaku Konsumen Lebay

Oleh: M. Ridwan Dalam kelas mata kuliah ekonomi Islam, pembahasan mengenai prilaku konsumsi selalu saja menimbukan yang hangat, kritis dan produktif. Seperti yang kami lakukan minggu lalu. Apalagi, jika prilaku konsumsi ditinjau dari perspektif Islam, maka dipastikan dikusi menjadi semakin hot. Apa sih, masalah dunia saat ini? Kalau kita baca dari buku-buku terkait dengan konsumsi, misalnya buku Consumerism: as Way of Life karya Steven Miles, maka terlihat bahwa konsumerisme telah menjadi cara hidup manusia kontemporer di planet ini.   Lalu, apakah fenomena ini salah atau benar? Tapi sebelumnya, perlu dibedakan pengertian konsumsi dan konsumerisme. Konsumsi adalah prilaku seseorang menggunakan produk atau jasa. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan, baik primer, sekunder ataupun tersier. Prilaku ini sudah menyatu ( embed) sejak peradaban manusia ini   ada. Adam dan Hawa di surga-pun melakukan konsumsi bukan?.  Ketika ia “jatuh” ke bumi, beserta iste...