Tak elok rasanya jika tidak membahas tentang fenomena munculnya komunisme -yang oleh beberapa kalangan dianggap sudah begitu jelas batang hidungnya- di Indonesia. Tentu saja karena komunisme itu beraawal dari sebuah paham ekonomi.
Saya dan Anda tentu sangat setuju jika paham komunis memang tidak layak untuk hidup di negeri beragama ini. Kita memang telah menyaksikan tingkah polah nan tak beradab yang ditunjukkan oleh penganut paham ini.
Tapi, tunggu dulu. Kita tentu tidak bisa menghukum sesuatu tanpa tahu ujung pangkalnya. Tanpa mengetahui apa itu komunisme, maka tentu tidak layak seseorang untuk langsung menyalahkan atau membenarkannya. Saya kira inilah, yang terjadi. Informasi sepotong-sepotong tentang komunisme boleh jadi bisa menjadikan pemahaman sebagian anak negeri ini menjadi bias. Bisa saja komunisme dipahami sebagai sebagai sebuah gerakan pembebasan atau penyelamatan. Dari apa? Tentu saja dari fenomena kehidupan kapitalistik yang begitu kentara. Akhirnya, komunisme bisa saja dipahami sebagai sebuah trend yang menarik dan bahkan bisa menjadi gaya hidup seperti yang ditunjukkan oleh anak-anak muda yang mengenakan baju bertanda palu arit (simbol komunis) itu ya?
Ok, Right to the point..
Bagaimana memahami komunisme?.
Singkatnya begini.
Pencarian manusia tentang makna kekayaan menyebabkan munculnya berbagai aliran ekonomi.
Katakanlah, paham Merkantilisne yang menyatakan bahwa kemakmuran negara itu tergantung kepada seberapa banyak kekayaan -dalam hal ini emas dan perak- yang dimilikinya. Akibatnya, pencarian emas dan perak menjadi trend. Kapal-kapal layar berseliweran di samudera, mencari kekayaan. Entah itu berdagang atau menaklukkan daerah lain. Ini pernah terjadi sekitar abad ke 14-16 M. Oh ya, pada masa ini, bajak laut bermunculan banyak. Mereka merampok kapal-kapal ini. Mirip film Pirate of Caribean itu lah.
Setelah Merkantilisme, paham Phisiokrat muncul. Mereka menekankan bahwa kekayaan itu terletak pada tanah, bukan perdagangan. Bukankah dari tanah-lah muncul produk?. Akhirnya paham ini menekankan pada pentingnya kepemilikan tanah. Muncullah para tuan tanah, tuan Takur atau Mr. Baron. Mereka mempekerjakan para budak juga. Pokoknya sepeti dalam film Djanggo itu lah.
Akhirnya, Adam Smith muncul terutama ketika tahun 1776 ia menulis buku The Welfare of Nation. Ia dianggap sebagai Bapak Ekonomi Klasik. Pahamnya menekankan pentingnya industri. Kekayaan negara itu diperoleh dari industri. Proses produksi akan menyebabkan terjadinya mekanisme ekonomi yang ideal. Industri menyerap tenaga kerja dan bisa mensejahterakan kaum buruhnya.
Sampai di sini, kehidupan ekonomi sepertinya berjalan baik. Tapi tidak demikian akhirnya.
Para pemilik pabrik di Eropa yang saat itu sedang merasakan euforia revolusi industri ternyata banyak yang berlaku tidak adil dengan kaum buruhnya. Bukannya mensejahterakan kaum buruh, mereka malah mengeksploitasi buruh demi keuntungan yang berlipat. Buruh menjadi tertindas dan tercrabut hak-hak mereka. Mereka seperti robot dan mesin dan sering dicampakkan ketika muncul mesin pengganti mereka. Pemiik pabrik pasti mau untung banyak tanpa menggunakan manusia yang suka demon dan kritis, bukan?. Inilah awal era kapitalis.
Nah, di titik inilah paham sosialis muncul. Sebagai antitesa dari kapitalis, maka sosialis menginginkan sebuah tatanan ekonomi dimana negera mengontrol penuh kepemilikan atas sumber-sumber produksi. Idenya bagus, supaya jangan ada monopoli dan kezaliman. Negara bisa memberikan hak-hak para pekerja dengan adil. Masuk akal bukan?
Lalu, kapan Karl Max sebagai pencetus komunisme muncul?
Marx memang terinsipirasi dari pencetus sosialisme seperti St. Simon (1769-1873), Fourisee (1770-1837) , Robert Owen (1771-1858) dan Louise Blane (1813-1882). atau tokoh seperti Proudhon, Marx, Engels, dan Bakunin. Sayangnya, Marx melihat bahwa para tokoh-tokoh ini kurang gereget. Dalam anggapannya, ide-ide sosialis harus diwujudkan dalam bentuk gerakan. Harus konkret. Jawabannya adalah komunis. Gerakan komunis akan membumikan ajaran sosialis dengan cepat. Bagi Marx, sosialis itu hanyalah gagasan mimpi (utopis) tanpa ada gerakan radikal dan cepat.
Sayangnya, ide Marx ini mendapat tempat di hati masyarakat saat itu terutama kaum buruh yang memang sudah lama tertindas. Pahamnya menyebar cepat termasuk smapai ke Rusia dimana Lenin mencoba untuk mewujudkan Uni Sovyet.
Dunia memang menyaksikan kegagalan paham Marx diwujudkan. Uni Sovyet runtuh termasuk juga Jerman Timur. Artinya, hukum alam memang memenangkan kapitalis. Ada banyak hal yang membuat gagasan si Karl Max ini tidak bisa menyelesaikan masalah ekonomi manusia. Subjektifitas manusia malah membuat rejim komunis ini justru menjadi aktor kezaliman bagi masyarakat.
Dalam perkembangan selanjutnya, sejarah memang tidak flat. Paham kapitalis juga mengalami perbaikan dan mulai mengadopsi ide-ide sosialis ini. Klop bukan?
Terlihat bahwa komunis muncul karena sudah apatis melihat sistem kapitalis. Sama seperti Marx yang sudah stress menjalani kehidupannya yang amburadul. Sayangnya, tidak bagi si Engels yang kemudian menerbitkan bukunya das Kapital yang fenomenal itu.
Saya hanya ingin menyampaikan, bahwa jangan sampai terulang kembali karena kegagalan kita untuk memposiskan sistem kapitalis. Artinya, kita gagal melakukan reformasi dalam sistem kapitalis kita, khususnya Indonesia ya.
Komunis ini akan muncul jika environment yang mendukungnya memang ada. Jika pemilik modal dan pemegang kekayaan tidak adil dan enggan mengucurkan kekayaannnya, maka bersiaplah untuk menyaksikan munculnya frustasi pada sebagian masyarakat kita.
Jawaban atas semua ini sebenarnya simpel. Di sinilah peran nilai agama. Pemilik kapital yang beragama dan menjiwai agamanya dengan benar pasti tidak akan bersikap seperti para kapitalis Eropa yang dikritik Marx. Demikian juga, para pekerja yang beragama, atau kalangan proletar yang sabar dan ikhlas, pastilah tidak akan tumbuh berkembang dan berwujud seperti Karl Marx dan Engels yang panik dan penuh kecurigaan.
Makanya, judul di atas saya pilih. "Seandainya Saja Adam Smith dan Karl Marx adalah Muslim" tentulah tatanan ekonomi dunia tidak seperti ini jadinya. Nilai-nilai Islam pasti akam menyeimbangkan antara pemili modal dan pekerja. Antara si kaya dan si miskin.
Ayo, para penggagas ekonomi Islam...Tunjukkan jati dirimu.....

0 Comments