Ticker

6/recent/ticker-posts

Leader and Welfare: Seberapa Dekat Hubungannya?

By: M. Ridwan

Saya bersyukur, di tahun 2016 ini berkesempatan bertemu dan berbincang dengan 2 orang Walikota Indonesia yang keren. Setidaknya dalam pandangan saya. Yang pertama, walikota Padang -Mahyeldi Ansharullah- dan kedua walikota Makasar -Mohd. Ramdhan Pomanto. Kendati berbeda tempat, namun keduanya memiliki visi dan misi yang sama yaitu memajukan kotanya dengan pendekatan inovatif, kreatif dan tentunya spiritualis.

Pertemuan dengan kedua walikota ini setidaknya semakin menambah keyakinan saya bahwa Indonesia tidak kekurangan pemimpin cerdas, enerjik dan spiritualis. Jiwa muda dan kecerdasan yang mereka miliki menjadi energi besar yang dikemas dalam bentuk kebijakan pro rakyat dan pro kesejahteraan. Ternyata, Indonesia tidak hanya memiliki Ridwan Kamil, Aher atau Ahok dan Jokowi. Indonesia punya seabrek pemimpin muda nan enerjik.

Misal, walikota Padang dengan pendekatan simpatiknya berhasil membuat kota Padang bebas dari prilaku koruptif dan minim kriminal termasuk juga kebijakan pro ekonomi rakyat yang digagasnya berupa dilarangnya operasional mini market yang biasa kita temui di kota-kota Indonesia. Menurut walikota bersahaja ini, ia hanya akan memberikan izin kepada pengusaha franchise yang akan mendirikan mini market apabila ada jaminan bahwa produk-produk masyarakat lokal dapat diserap oleh jaringan waralaba ini. Komposisinya harus 30-40%. Tanpa itu, ia tidak bakal izinkan karena membahayakan keberlangsungan ekonomi pribumi.

Lain halnya dengan walikota Makassar, yang tetap memberikan izin bagi mini market namun dengan larangan, jangan sampai ada produk ikan dan sayuran segar yang dipasarkan. Biarlah produk-produk segar itu di-supply oleh nelayan dan petani lokal. Dahsyat ya.

Masih banyak kebijakan inovatif dan terobosan yang mereka lakukan. Misalnya tata ruang, reklamasi pantai yang tepat, termasuk juga aspek sosial budaya. Apakah ada hambatan? Tentu saja. Terutama merubah mentalitas koruptif dan birokratis yang sudah kadung berurat akar di tempat mereka. "Yang kita butuhkan bukan sekedar kecerdasan, tapi adalah keberanian", demikian papar Ramdhan dalam sambutannya di depan delegasi Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam se-Indonesia.

Saya tidak ungkap apa saja yang telah mereka lakukan di tulisan singkat ini. Intinya, saya yakin Indonesia bakal makmur dan sejahtera. Dibuktikan dengan menjamurnya pemimpin ideal dan spiritualis di tengah-tengah kita.

Tapi, tentu kita harus menafikan prilaku-prilaku koruptif beberapa kepala daerah lain yang berakhir di terali besi, ya. Saya menganggap hal ini sebagai term error saja sih. Seperti program "cuci gudang" dari Tuhan untuk warga negeri dalam rangka menyambut gelombang pemimpin tercerahkan akan bertaburan di negeri ini. Hehe, cuci gudang nih..

Pemimpin dan kesejahteraan, seberapa kuat hubungannya?. Mungkin seperti itu pertanyaan kita.

Jawabannya pasti panjang, setidaknya saya mencoba meringkasnya saja. Dari perspektif sejarah ekonomi.

Begini, saya punya pertanyaan balik. Lho, kok malah nanya?

Apa yang dilakukan oleh Nabi Yusuf  untuk memastikan bahwa rakyatnya tidak kelaparan menghadapi 7 tahun paceklik yang akan menghampiri Mesir?
Ya, ia jauh-jauh hari telah menyimpan ratusan ton gandum di gudang Bulog-nya. Ia tidak mewanti- wanti rakyatnya untuk sabar dan pasrah dengan takdir yang mungkin akan terjadi. Ia lebih memilih bertindak nyata dengan menghadapi kemungkinan bencana kelaparan itu dengan aksi nyata. Ia tidak takut melawan "takdir" bernama kelaparan. Ternyata, ia berhasil.

Apa pula yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ketika melihat kondisi ketimpangan ekonomi dan kemiskinan yang terjadi di sekitarnya?.
Ya, ia bertindak nyata dengan turun tangan menuntaskannya. Kendati lebih memilih hidup dalam kekurangan, namun Rasul tidak ingin masyarakatnya kelaparan. Lagi-lagi, ia tidak menyerah pada takdir yang bernama kemiskinan, termasuk tidak juga memaksa Allah atau Jibril untuk menyulap gunung Uhud menjadi emas. Ia tidak merekayasa sunnatullah, kendati pasti Allah akan mengabulkan sekiranya ia memohon untuk itu. Ia bisa saja bertindak seperti Superman, bukan.?

Umar bin Khattab juga melakukan aksi nyata. Ia memaksimalkan fungsi baitulmal dan memastikan kesejahteraan rakyatnya terwujud. Ia membudayakan tradisi blusukan dan inspeksi ke pasar dan pusat perekonomian. Ia -misalnya- bahkan "berani" keluar dari kebiasaan dan pemahaman kebanyakan orang saat itu.
Ceritanya, suatu ketika ia tidak setuju jika harta rampasan perang (ghanimah) itu harus selalu dibagi-bagikan untuk para prajutit. Menurutnya, akan ada ketimpangan dalam kepemilikan harta jika hanya selalu berputar di tangan prajurit. Lebih bagus dikelola oleh penduuk setempat dan tidak diberikan kepada prajurit. Logikanya, siapa yang akan mengurus tanah rampasan perang itu jika selalu diberikan kepada prajurit yang jauh dari negeri taklukan itu? Bukankah itu high cost dan bisa memicu kecemburuan juga?

Awalnya, logikanya ditentang para prajurit. Mereka protes, termasuk Bilal. Alasan mereka sederhana, bukankah ayat Alquran telah mengatur hal itu.  Makanya, kita mengenal fikih ekonomi Umar. Pendekatan kemaslahatan sangat kental di dirinya. Dan, memang, pada akhirnya idenya disetujui juga oleh para sahabat.

Jangan ditanya apa yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz. Khalifah ini tidak hanya memastikan distribusi kekayaan berjalan dengan baik, namun juga memastikan bahwa rakyatnya memang brnar-benar sejahtera. Tidak hanya dalam angka di atas kertas.

Ternyata, ia berhasil. Dalam tiga tahun masa kepemimpinannya, kemiskinan hengkang dari negerinya sehingga riwayat menyebutkan bahwa para petugas zakat sampai kebingungan mencari mustahiq zakat. Pasalnya, tidak ada lagi orang miskin yang ditemukan. Semuanya menolak menerima zakat. Hebat ya.

Cerita di atas adalah segelintir dari keberhasilan para pemimpin mensejahterakan rakyatnya. Pemimpin seperti ini tidak tunduk kepada kaum kapitalis. Lebih dari itu, pemimpin yang saya sebutkan di atas pada dasarnya tidak pernah memiliki masalah pribadi terkait dengan harta benda dan kesejahteraan pribadi yang mereka alami.

Misalnya, tidak pernah kita dengar bahwa nabi Yusuf kebingungan mempersiapkan masa depan pendidikan anaknya, atau khawatir dengan sedikitnya warisan dan investasi untuk keluarganya. Kenapa ia tidak berinvestasi di ladang gandum negeri Mesir, ya?. Profit-nya, kan gede?

Umar bin Khattab juga tidak pernah berupaya menaikkan tunjangan dan fasilitas pribadinya atau panik dengan kondisi ekonomi keluarganya. Ia tidak melakukan penambahan unta dan kuda untuk khalifah atau renovasi rumahnya. Apakah kita berargumen bahwa sekarang sudah berbeda?

Termasuk juga, Umar tidak pernah berpikir bahwa anaknya akan menggantikannya sebagai khalifah. Abdullah bin Umar juga tidak pernah ke-geer-an menggantikan sang ayah. Jauh lah. Beda dengan sekarang ya?

Ada kesamaan karakter para pemimpin di atas.

Apa itu? tentu saja adanya visi yang sama dalam memandang dunia materi. Mereka memandang dunia hanyalah sebagai sarana dan jembatan akhirat. Saya menyebutnya "dunia dalam saku baju" saja. Tidak lebih. Visi inilah yang melahirkan tindakan ikhlas dan terarah. Mereka fokus pada kemaslahatan umat sehingga keberkahan itu hadir ke negeri-negeri mereka.

Apakah mereka Superman? Hehe, tentu saja tidak. Tindakan merekalah yang menjadikan mereka super. Mereka manusia yang juga perlu makan minum, dan mungkin memiliki rasa resah dan gelisah melihat kondisi umatnya. Tapi, mereka tidak tinggal diam, tidur dan sekedar main instruksi. Mereka tidak pintar mencari masalah tapi piawai mengatasinya. Dengan bimbingan Allah tentunya.

Di sini, kedekatan seorang pemimpin dengan Allah sangat menentukan. Sehingga hubungan peran seorang pemimpin dengan peningkatan kesejahteraan tentu sangat kuat. Syaratnya, hubungnnya dengan Tuhan juga kuat.

Lalu, peran kita simpel saja. Pastikan saja para pemimpin kita dekat Tuhan. Jangan jauhkan mereka. Tidak perlu menunggu Imam Mahdi dan Mesiah itu hadir. Capek, dan berangan-angan lagi, termasuk jangan banyak mengeluh. Ingat cuci gudang tadi.

Lalu?
Wujudkan saja dengan doa dan dukungan kita. Itu mudah dan paling masuk akal. Apakah saya tidak mengingau ya?

Post a Comment

0 Comments