Ticker

6/recent/ticker-posts

Terdidik Tapi Tak Tercerahkan?

By: M. Ridwan

Tanggal 2 Mei adalah Hari Pendidikan Nasional negeri ini. Diambil dari hari lahirnya Ki Hajar Dewantara, pendiri Taman Siswa. Sejak kecil, saya akrab dengan Taman Siswa meski tidak bersekolah di tempat ini.  Majalah-majalah yang dikeluarkan oleh Perguruan Taman Siswa saat itu sangat menarik bagi pelajar seperti saya saat itu. Paman saya selalu memberikannya. Kira-kira sekitar tahun 1984-anlah.

Oh ya, apa ada pembaca yang masih memiliki koleksi majalah-majalah itu, ngak?. Soalnya, saya masih belum tuntas membaca komik tentang perang Barata Yuda yang sering dimuat di akhir setiap majalah Taman Siswa itu. Meski fiksi, tapi saya sangat ngefans dengan tokoh-tokohnya. Ada Hanoman, Rama, Gatot Kaca, termasuk juga Kumbakarna, si Raksasa malang itu. Saya menyebutnya malang, karena sebenarnya ia hanya menjadi korban intrik Rahwana yang ingin mempersunting Sinta. Padahal ia tidak pernah ikut konflik. Ia hanya tidur setiap hari. Namun, karena dikatakan untuk membela negara, ia bertarung dengan Rama. Ia dikibuli. Saya kira, banyak sosok seperti Kumbakarna saat ini. Hehehe, kok jadi cerita wayang pula nih?

Back to judul.
Hari Pendidikan Nasional, terdengar cool ya? Tentu saja. Negeri ini sudah beranjak dari era kegelapan dan kebodohannya menuju terang dan pintar. Kita sudah hampir berhasil memusnahkan tuna aksara dan illiterasi warga kita. Meskipun, masih ada satu dua warga yang masih belum bisa mengecap pendidikan, tapi angkanya sudah semakin berkurang.

Dulu, ketika Belanda pertama kali menginjakkan kakinya di bumi pertiwi, apa yang ada di benak mereka tatkala bersua dengan penduduk pribumi saat itu? Pastilah mereka tersenyum-senyum melihat penduduk pribumi yang lugu-lugu dan mudah sekali dikibuli. Pastilah warga kita saat itu sedikit sekali yang bisa membaca. Entah-entah, tidak ada yang bisa baca tulis. Makanya, gerombolan VOC itu bisa semena-mena. Orang yang sedikit membaca berarti sedikit informasi, bukan?

Lebih dari 350 tahun kita menjadi korban penjajahan. Tapi, sebenarnya saat itu kita adalah korban kebodohan. Warga kita saat itu banyak yang tidak bisa membaca. Wawasan mereka sempit. Inlook dan Outlookingnya hampir tidak ada kendati mungkin jujur dan baik hati. Harap dicatat, bahwa orang jujur dan baik hatipun bisa dikaahkan jika tidak memiliki wawasan luas.

Setelah VOC bangkrut dan digantikan oleh Belanda, maka ada sedikit angin harapan. Beberapa pribumi diperkenankan mengecap pendidikan, misalnya para anggota Budi Utomo atau Kartini itu. Mereka inilah yang kemudian menjadi cikal bakal orang pintar dan terdidik di Indonesia. Memang, kalangan pesantren saat itu boleh dikata juga telah mendapatkan pendidikan lebihvdahulu, meskipun bersifat tradisional dan non formal.

Setelah Indonesia merdeka, semakin banyak orang pintar dan terdidik di negeri kita, baik karena jalur pendidikan resmi atau non formal. Hasilnya bisa dilihat saat ini. Ribuan professor, Doktor dan tenaga spesialis bermunculan seperti jamur di musim hujan. Kita memiliki orang-orang sekaliber Habibie dan Sri Mulyani. Masih banyak lagi. Ribuan kampus dan sekolah bertebaran di bumi pertiwi. Indonesia hebat di depan mata.

Masalahnya adalah apakah terdidik saja sudah cukup? Sudahkah orang terdidik di negeri ini juga tercerahkan seperti judul di atas?

Memangnya, apa sih hebatnya orang yang tercerahkan?

Pencerahan atau tercerahkan (enlightment/enlightened) adalah kondisi kesadaran tingkat tinggi yang dimiliki seseorang. Orang yang tercerahkan akan memiliki pikiran yang holistik. Tidak parsial. Wow, sok keren ya. Mudahnya begini, orang yang  tercerahkan adalah orang yang mendapatkan hikmah. Hikmah yang dimilikinya adalah pemberian langsung dari Allah. Dengan hikmah tersebut, maka cara pandang, berpikir dan bertindaknya juga penuh dengan bimbingan Tuhan. Outputnya bisa saja berupa kreatifitas tanpa batas, atau kebijaksanaan dalam bertindak. Jika ia pemimpin, pencerahan yang dialaminya akan melahirkan kebijakan yang adil, egaliter dan bermanfaat. Bernuansa dunia akhiratlah.

Jika ia pendidik atau dosen yang tercerahkan, maka ia akan berupaya untuk ikhlas dalam mengajar. Ia sabar dan mencerahkan  mahasiswanya. Tidak sedikitpun terbersit untuk mengeksploitasi profesinya. Mahasiswa dan rekan menyayanginya.

Jika ia mahasiswa, maka tercerahkan itu diwujudkan dalam etos belajar yang tinggi. Menjunjung etika dan sopan santun keadaban. Tidak mungkin, seorang mahasiswa yang tercerahkan akan melakukan tindakan barbar ala mahasiswa yang kemarin membunuh dosennya. Kita tentu sangat kaget dengan peristiwa itu. Kita mengutuk keras perbuatan itu. Entah setan apa yang merasuk pikiran si mahasiswa itu.

Alhasil, ketika kita membincangkan tentang pencerahan atau tercerahkan, maka kita membincangkan tentang sebuah proses dan perjalanan menuju maqam itu. Seseorang tidak bisa tercerahkan tanpa melewati onak dan duri kehidupan. Sama juga, mustahil seseorang akan mendapatkan pencerahan jika yang ada di pikirannya hanyalah materi dan kesenangan ragawi saja. Semakin kita disibukkan dengan unsur ragawi, maka semakin jauhlah kita dari apapun yang bernama pencerahan ini.

Memang, kita memiliki ribuan orang terdidik di negeri ini, namun pertanyaannya apakah orang terdidik yang kita miliki juga telah tercerahkan? Apakah kita termasuk orang itu? Silahkan dijawab sendiri ya...

Setidaknya saya mau mengajak kita refleksi dikitlah. Apa itu? Untuk bersyukur lho. Kita pantas bersyukur hidup di negeri ini. We should be very grateful.  Thank you Allah.

Dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya, kita pantas bangga menjadi warga negeri ini. Semakin banyak cobaan, semakin tinggi kemuliaan kita dalam pandangan Pemilik Indonesia, bukankah demikian?

Kita sudah terlanjur hidup di Indonesia, bro. Mau kemana lagi. E-KTP kita adalah warga Indonesia. Saya yakin membership surga kita juga tertulis bahwa kebangsaan kita adalah Indonesia.

Atau adakah di antara pembaca yang akan hengkang dari negeri ini?. Silahkan saja, sih. Tidak ada yang melarang kok..Hehehe..Selamat ber-happy ria...

Post a Comment

0 Comments