By: M. Ridwan
Ternyata, tulisan saya tentang perjalanan makanan harus berlanjut. Soalnya, hari ini berkesempatan menghadiri diskusi ekonomi Islam di harian ternama Sumut, WASPADA. Topiknya tentang Bank Syariah dan Makanan Halal termasuk juga wisata halal. Pembicaranya adalah pakar Sumut, seperti Prof. Bahtiar Hasan Miraza, Prof. Basyaruddin dari POM MUI. Beberapa praktisi dan akademisi juga hadir. Saya lihat ada DR. M. Yusuf (UNIMED), Dedi Nofendi (Bank Aceh Syariah), DR. Azhari Akmal Tarigan (Dekan FEBI UINSU) dan pastinya DR. Saparuddin Siregar sebagai inisiator acara.
Topik ini sangat menarik. Tidak saja bagi kalangan akademisi atau praktisi tetapi seharusnya juga bagi semua kalangan, termasuk kita. Tidak berlebihan jika saya katakan bahwa saat ini, lahirnya kelas menengah muslim yang konsern terhadap nilai-nilai Islam, benar adanya. Saat ini pula, muncul arus yang sangat kuat berupa munculnya kesadaran masyarakat, khususnya muslim, untuk, tidak hanya mendapatkan makanan-makanan lezat, namun juga harus halal dan thoyyib. Artinya, cerita makan ternyata bukan sekedar di ujung lidah tapi seharusnya proses hulunya. Dan, memperhatikan hal ini sangat penting. Wajib hukumnya.
Para peserta sangat antusias. Diskusi ini mengalir tanpa hambatan. Peserta yang berjumlah sekitar 30 orang ini aktif memberikan respon. Sebagian mengeluarkan "curhat" mereka tentang kondisi dan perkembangan ekonomi syariah termasuk juga prihal makan memakan yang kita lakukan. :)
Prof. Hasan Miraza, Guru Besar Ekonomi UI, misalnya, menyoroti fenomena resto dan cafe di Medan yang belum memperhatikan kehalalannya. Belum lagi ke-thoyyib-annya. Beliu menceritakan pengalamannya mengunjungi negara-negara yang konsern dengan produk halal. Harapannya, Indonesia mampu melakukan hal itu.
Mursi dan isterinya, Ika, pengusaha Kebab dan Briani asal Mesir memberikan informasi bahwa beberapa produksi makanan di kota Medan, diduga menggunakan bahan-bahan yang tidak halal atau merusak,. Bakso misalnya. Dari eksperimen mereka, proses membuat bakso sapi itu sangat sulit. Beda dengan bakso ayam. Membuat bakso menjadi bulat dan kenyal itu sulit. Biasanya pedagang menggunakan jasa pengolah bakso di pasar-pasar. Pertanyaan dari Ika, kok mereka bisa ya?. Apakah ada bahan khusus yang bisa mengenyalkan bakso? Wallahu a'lam.
Peserta lain menginfokan tentang proses pembuatan makanan-makanan favorit masyarakat yang tidak hirgenis alias tidak thoyyib. Misalnya, Iqbal, sebagai pegiat LSM Ekonomi Islam menyampaikan bahwa proses penggilingan beras yang dilakukan di kilang-kilang padi juga harus diperhatikan. Menurutnya, banyak pemilik kilang-kilang itu adalah non muslim, yang tentu saja tidak memahami prihal halal haram versi Islam. Ia menduga, bisa saja beras-beras itu terkena jilatan anjing-anjing penjaga di kebanyakan kilang itu. Iya juga ya?
Ternyata, bro, makanan dalam kemasan cantik dan menggiurkan di etalase saja, tidak cukup bukan? karena jika ditelisik di dapurnya, wow, bisa jadi mengerikan.
Usul menarik disampaikan oleh DR. Azhari Akmal Tarigan mengutip disertasi Mustafa Yakub yang menyatakan bahwa yang perlu ditakutkan saat ini, bukan hanya teroris radikal, tapi juga teroris pangan. Dia mengakukan pertanuaan, akan jadi apa generasi Indonesia ini beberapa puluh tahun ke depan jika ternyata jasmani mereka telah dicekoki oleh makanan-makanan yang tidak jelas kehalalaln dan ke-thoyyibannya?. Mengerikan. Doktor ini menyarankan MUI membuat semacam proyek percontohan, atau lahan percontohan produk-produk halal.
Dimana peran pemerintah?
DR. Mustafa Kamal Rokan, penulis muda Waspada, mengajukan usul supaya ada sinerji antaa berbagai unsur seperti Pemda, tokoh ulama dan masyarakat dan akademisi. Usulnya juga diperkuat oleh DR. Zulham, alumni Hukum UI yang menyebutkan bahwa UU yang mengatur tentang makanan ini sebenarnya banyak, katakanlah UU Perlindungan Konsumen, UU Pangan termasuk UU Peternakan. Intinya, banyak.
Hal menarik disampaikan oleh Prof. Basyaruddin bahwa halal itu adalah nutrisi spiritual. Bisa jadi, kondisi bangsa yang terpuruk ini dalam akhlak dan prilaku ini disebabkan oleh banyaknya zat-zat haram dan non thayyib yang kita konsumsi. Badan POM telah bekerja keras memastikan kehalalan produk termasuk memgawalnya. Info menarik darinya, ternyata banyak obat-obatan yang diproduksi dari binatang haram, misalnya sebagian obat diabetes yang mengandung pankreas babi. Menurutnya, implementasi UU Jaminan Produk Haram tahun 2014, agak, kurang diminati para produsen obat. Lho? Jadi, jangan sakit di negeri ini ya...hehee
Banyak yang mau saya tulis di blog kecil ini. Setidaknya, saya bahagia bisa mengikuti Round Table ini. Saya menyebutnya bahwa ini adalah Round Table ke-2 Ekonomi Islam di dunia. Tahun 2003 lalu pernah diadakan di Jeddah. Ternyata, Round Table ke -2 itu diadakan di Medan. Hebat, bukan..?

0 Comments