Ticker

6/recent/ticker-posts

Super Decisions: Antara Halal dan Haram


By: M. Ridwan

Sebuah eksprimen "berani" pernah dilakukan seorang bapak di Jakarta. Infonya dari seorang ustaz di sana. 

Si bapak memiliki dua orang anak yang disekolahkannya di perguruan tinggi. Anak yang pertama kuliah di Indonesia. Anak ini selalu difasilitasi dengan harta yang ia yakini hanya bersumber dari jalan halal. Sedangkan anak kedua -yang kuliah di luar negeri- selalu diberikannya harta yang menurutnya haram atau tidak jelas kehalalannya, semisal uang panas, fee, sogok-menyogok atau tipu-tipu.

Apa hasilnya?
Ia perhatikan bahwa anak yang mendapatkan asupan harta halal tadi tumbuh menjadi pribadi yang baik, santun dan sholeh. Kuliahnya selesai dengan baik dan menjadi kebanggaan orang tua.

Sebaliknya, anak yang selalu mendapatkan harta yang haram atau syubhat tadi justru menunjukkan pribadi bermasalah. Si anak senangnya hanya berfoya-foya dan jauh dari Tuhan. Pokoknya, hancur banget. Ngeri juga ya? Bapak yang aneh. Saya dan Anda pasti tidak tega melakukan hal ini, bukan? 

Dalam hidup memang banyak pilihan yang harus diputuskan. 

Hemat saya, salah satu pilihan yang harus dilakukan manusia di jaman kini adalah memastikan bahwa harta yang ia konsumsi harus benar-benar halal alias tidak haram. Pengertian haram bisa dijabarkan apakah haram secara fisik maupun teknik memperolehnya.

Keputusan untuk hanya mengkonsumsi harta halal secara total di era modern ini adalah keputusan sangat besar dan membutuhkan keberanian. Sanking beratnya,  tidak sedikit manusia yang “takut” melakukannya. Biasanya, terma haram bagi kaum muslimin selalu diidentikkan dengan makanan yang secara zat-nya nyata-nyata haram seperti daging babi, anjing atau bangkai, termasuk juga binatang yang telah diharamkan oleh Alquran dan hadis. 

Menurut saya, menghindari hal ini sih, gampang. Lihat saja label halalnya. Jangan konsumsi bahan makanan yang tidak memilikinya. Selesai.

Adapun yang berat biasanya keharaman yang terkait dengan proses perolehan harta.  Atau sering disebut haram li ghairih yitu keharamannya disebabkan karena cara perolehannya yang salah alias haram.  

Secara fisikal mungkin saja hartanya haram karena ingredients dan komposisinya haram, namun secara substansi atau hakikat, harta itu haram bahkan “kualitas” keharamannya bisa melebihi daging babi yang super, lho.

Apa contoh mekanisme haram tadi?
Contoh yang biasa kita baca dalam literatur fikih muamalah seperti memperoleh harta dari perjudian, riba dan tentu saja KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Atau dari sesuatu yang gharar, ihtikar atau tadlis. Harta yang diperoleh dari jalan seperti di atas adalah haram.

Namun, namanya juga manusia “cerdas”.

Teknis dan istilah untuk harta haram dipelesetkan dan dirubah. Judi diganti dengan trading termasuk juga istilah korupsi yang diganti dengan kesalahan prosedur (silahkan baca tentang eufemisme di tulisan saya sebelumnya).

Istilah-istilah ini mengaburkan kadar “dosa” harta haram tadi. Sin Laundry (Cuci dosa)-lah. Iya kan?

Sayangnya, saat ini belum ada, sertifikat yang ditempel di kantor-kantor yang yang menyatakan kehalalan proses mendapatkan harta. Misalnya ada sertifikat bertuliskan “Semua perolehan harta oleh pegawai atau karyawan di instansi ini adalah halal”. Anda pernah melihat sertifikat seperti itu? Kalau ada, beritahu saya ya.

Karena tidak adanya sertifikat halal dalam proses mendapatkan harta, maka manusia kini banyak terjebak pada hasil dan terobsesi untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Prosesnya sendiri tidak bisa diverifikasi alias banyak haram atau syubhatnya.

Apa tidak haram namanya, jika dalam setiap proyek harus selalu ada fee bagi orang yang berhasil memuluskan kemenangan seorang vendor?

Apa tidak haram namanya, jika dalam setiap pengerjaan proyek, kualitas bahan dan kuantitasnya dikurangi demi mendapat untung yang lebih banyak?

Oh ya, kalau risih dengan kata “haramnya” silahkan diganti saja ya..Biasanya, orang yang suka menentang hal-hal berbau haram sering disebut fanatik atau sok idealis, ya.. Hehe.

Saya hanya mengutip hadis nabi saja kok. Nabi memang melarang aksi suap, tipu-tipu atau korupsi. Bagaimanapun trik dan halusnya caranya. Nabi sejak dahulu memang telah menangkap fenomena ini. Kalau tidak setuju, ya jangan jadi pengikut nabi. Cocok?

Kalau dicermati sedikit lebih arif. Harta yang bersih itu sebenarnya untuk diri kita sendiri, bukan?. Sama sekali bukan untuk Tuhan. Itu untuk kebutuhan pribadi kita. Soalnya memakan harta haram itu biasanya menggelisahkan. Nikmatnya sekedar di lidah saja. Sisanya adalah kegelisahan dan ketakutan. Buktikan saja sendiri.

Makanya, para sufi juga mengatakan bahwa harta yang halal adalah nutrisi dan gizi hati. Mereka berebut harta halal. Mereka terobsesi sekali. Masih ingat dengan cerita Ibrahim bin Adham di tulisan saya yang lalu?. Hanya dengan mengkonsumsi harta yang halal saja maka seseorang baru bisa merasakan nikmatnya ibadah. Harta halal membuat ibadah baru bisa “ngefek” atau “nendang”. Kayak main sepak bola saja, nih.

Tanpa itu maka nonsense. Sampai dunia kiamat, ibadah yang bersumber dari energi haram tidak akan kesampaian kepada Allah.  Cahaya dari Tuhan ter-blok atau terhijab. Ibadahnya jadi ogah-ogahan, dan pelakunya tidak akan ikhlas melakukannya. 

Dan, harta haram itu biasanya akan menjadi multiplier. Yaitu, menarik hal-hal  haram lainnya. Pernah dengar kasus koruptor yang tertangkan tangan sedang indehoy dengan seorang wanita yang bukan muhrim-nya bukan?. Atau, seorang perampok yang akhirnya berkelahi dengan sesama rekan rampoknya?

Makanya, mencari harta yang halal itu adalah keputusan yang super. Tidak semua manusia yang mampu melakukannya. Cobaannnya berat apalagi di jaman serba hedonis dan materialistis ini. Buktikan saja.                                                       
Jangan-jangan…
Saya tidak berani banyak berspekulasi. Saya hanya teringat kepada fenomena tawuran, geng motor, atau narkoba yang begitu marak terjadi di negeri ini. Saya khawatir bahwa semua itu berpunca dari makanan haram yang mereka konsumsi. Saya berdoa mudahan-mudahan, keluaraga kita tidak termasuk salah satu di antaranya. So, bijaklah memilih. It's a super decision.

Post a Comment

0 Comments