Ticker

6/recent/ticker-posts

Perjalanan Sebuah Makanan: Antara Sensasi dan Kebutuhan

By: M. Ridwan

Liburan memang identik dengan kuliner. Kita akrab dengan istilah wisata kuliner. Rasanya, tidak lengkap sebuah liburan atau rekreasi tanpa merasakan sensasi makanan, bukan?. Beberapa orang yang saya kenal memiliki kelebihan khusus "mendeteksi" berbagai kuliner jenis unggul. Mereka tahu benar dimana cafe atau rumah makan yang layak dikunjungi. Jam terbang bertahun-tahun di bidang  "culinery" menyebabkan insting mereka tajam. Bahkan mereka piawai menentukan berapa rating yang layak diberikan kepada sebuah rumah makan dan produknya itu. Kayak hotel juga, ada bintang 3,4 atau 5. Hehe...

Aktifitas makan memang kebutuhan utama. Manusia adalah jenis omnivora. Dalam biologi istilah ini merujuk kepada mahluk hidup pemakan segalanya. Omnivora berada pada tingkatan tertinggi dibandingkan dengan karnivora (pemakan daging) ataupun herbivora (pemakan tumbuhan). Karakter sebagai pemakan segalanya ini pada satu sisi memberikan nilai tambah karena manusia tidak terlalu repot untuk memilih makanannya. Ia bisa makan dari jenis tumbuhan, daging atau kombinasi keduanya. Namun, pada sisi lain, karakter omnivora ini bisa saja menyebabkan manusia memiliki kegemaran bereksperimen dengan makanannya. Manusia senang mencoba makanan baru yang terkadang aneh-aneh juga. 

Saya pernah melihat orang makan ular, cacing, kecoa atau tikus. Ditayangkan televisi. Kelihatan, mereka sangat menikmatinya. Saya kira, tidak heran-lah bila manusia mampu melakukan itu. Namanya juga makhluk pemakan segalanya. Bahkan sampai saat ini, katanya, ada sebagian manusia yang mau makan daging manusia lain. Iihh, ngeri, namanya kanibal. Beberapa suku di dunia masih ada yang melakukannya kendati semakin lama semakin punah. Syukurlah..

Itu baru dari segi jenis makanannya. Jika kita mengkaji bagaimana cara manusia memperoleh makanan, maka diskusi ini bisa semakin seru. Hemat saya, sebagian besar konflik manusia dari dulu banyak diakibatkan karena aktifitas berebut makanan. Indikator kemiskinan juga biasanya diukur dari akses seseorang terhadap makanan. 

Dunia ini penuh dinamika. Di satu tempat ada manusia yang kekurangan makanan, sedangkan di belahan bumi lain justru berlimpah. Daerah yang kekurangan makanan bisa saja disebabkan karena masa paceklik, salah kelola pertanian atau situasi politik dan sosial yang tidak mendukung. Inilah yang disebut relative scarcity (kelangkaan relatif) dalam kajian ekonomi Islam. Di jaman Nabi Yusuf dulu juga pernah terjadi demikian. Mesir yang memiliki stock gandum melimpah (maklum, sudah disimpan selama 7 tahun) kebanjiran permintaan dari negeri-negeri lain. Termasuk dari keluarga Yakub yang sedang kekurangan makanan.

Kebutuhan akan makanan bersifat primer atau daruriah (bahasa ushul fikih). Seseorang yang kelaparan berat diperbolehkan memakan makanan haram jika ia khawatir akan mati. Misalnya, seseorang yang tersesat di hutan dan tidak menemukan makanan halal kecuali seekor babi hutan. Dalam Islam, ia diperkenankan memakan babi itu. Syaratnya, hanya sekedar saja. Jangan sampai ia kekenyangan dan minta tambah lagi. Itu namanya ambil kesempatan dalam kesempitan. Bukan lagi sekedar untuk menyelamatkan nyawanya. Ini namanya juga cari sensasi.

Nah, mencari sensasi dalam aktifitas makan ini bisa jadi persoalan. Yaitu ketika aktifitas makan bukan lagi sekedar untuk memenuhi kebutuhan pokok, tapi lebih kepada gaya-gayaan. Biasanya, aktifitas ini memerlukan biaya tinggi. Uniknya, kebiasaan ini jamak dilakukan manusia modern.

Saya kira, kita pasti punya pengalaman makan di sebuah restoran mahal. Menunya mungkin sama dengan masakan di warteg. Ada nasi, daging, sayur dan lauk pauk lainnya. Tapi, harganya bisa berbeda jauh. Sebabnya mungkin saja karena fasilitas di restoran itu lebih nyaman, kemasan yang menarik dan disajikan dengan pelayanan yang unik. Misalnya, si koki langsung memasaknya di depan kita atau kita yang langsung memasaknya.  Atau, cara makannya dengan setengah masak, disedot pakai alat tertentu. Suka-suka pedagang lah. Kadang trik mereka itu agak lebay juga. Tapi kita suka kan?

Inilah yang disebut makan untuk mendapatkan sensasi berbeda. Untuk mendapatkan sensasi ini biasanya orang rela membayar mahal. Malah, harga yang mahal juga bisa menjadi gaya hidup tersendiri. Bisa jadi ajang pamer juga.Hehehe....

Pakar keuangan memang tidak mengatakan hal ini salah. Terutama jika dilakukan tanpa merusak cashflow keuangan kita. Namun, pakar kesehatan menyarankan porsi yang tepat. Supaya tidak menganggu kesehatan. Kalangan sufi melatih pengasahan ruhani mereka dengan mengurangi aktifitas jasmani terutama makan. Pilih yang mana?

Tapi, namanya juga omnivora. Manusia modern lagi. Sehingga, manusia kini memang sangat terobsesi dengan sensasi me-rasa-i makan. Soalnya, bosan makan yang itu-itu saja. Termasuk bosan juga dengan cara makan yang konvensional. Lagipula, kalau tidak sekarang, kapan lagi?. Mumpung masih sehat. Benar juga ya...Hitung-hitung, untuk meningkatkan omset industri makanan dan minuman yang mencapai 1.250 trilyun di tahun 2015 lalu. Nyerah deh...

Saya kira, bagaimana cara ideal makan dan mencari makan diserahkan kepada kita masing-masing ya. Tulisan ini tidak mengarahkan kepada hal itu. Namun, seingat saya, pilihan kita itu memang menunjukkan level kita di mata Tuhan. "kamu ngak level dong dengan hamba-Ku terkasih, jika cara kamu makan dan mencarinya menggunakan pola seperti itu" mungkin demikian komentar Tuhan kepada manusia. :)

Nah, karena saya juga pingin tahu pola konsumsi dan cara mendapatkannya, maka liburan kali ini saya mencoba melakukan wisata kuliner juga. Tapi, tidak dengan mengunjungi cafe-cafe favorit yang selama ini menjadi rutinitas kami.
Kali ini, saya menerima tantangan isteri untuk blusukan di pasar-pasar tradisional yang ada di kota ini. Katanya, "Biar Abang tahu proses di hulu makanan. Selama ini kan, tahunya di hilir saja. Paling sampai warung Agus di komplek kami saja. Mana tahu Abang juga mendapat inspirasi tulisan blog di hiruk pikuknya "pajak" tradisional ini".

Hehehe, benar juga. Aktifitas makan kadang melupakan saya dengan proses dari mana makanan itu berasal. Ada yang seperti saya ngak? Makanya, akhirnya, saya terima tantangan itu. Lagipula, tawarannya sebagai bahan artikel blog ini cukup masuk akal juga.

Dan, saya mau beritahukan, bahwa blusukan di pasar-pasar tradisional dan bertransaksi, melakukan proses negosiasi dengan para pedagang ulet ini, jelang terbitnya matahari pagi, sangat mengasyikkan. Saya sempat berpikir, bahwa berdagang seperti ini lebih murni sih. Lebih minim syubhat apalagi haramnya, gitu. Tidak seperti pedagang-pedagang metropolis yang katanya berdagang mata uang, atau komoditi, tapi barangnya entah dimana dan seperti apa. Cukup pakai keyboard komputer saja. Hehe, sempat terpikir saja, tapi tentu kita bisa berdebat tentang itu ya...di lain waktu.

Coba saja blusukan menyusuri hulu makanan di pasar tradisional di negeri ini. Sensasinya saya jamin, luar biasa. Apalagi pakai selfie segala. Wah, wah, lagi-lagi cari sensasi ya. Ampunnnn, ampun....

Post a Comment

0 Comments