Posts

Showing posts from March, 2016

The Missing Tile Syndrome

By: M. Ridwan Itu adalah Sindrome Ubin Hilang. Or ang yang mencetuskannya adalah Denis Prager. Wong Barat. Penjelasannya begini. Katakanlah kita sedang membangun rumah. Lalu, setelah sekian bulan, menurut tukang, rumah tersebut sudah layak dihuni. Dari tampilan luarnya, rumah itu sangat indah dan megah. Cantik dan asri . Bahkan, ketika memasukinya, tidak ada yang mengecewakan kecuali satu hal saja. Apa itu? Ternyata ada satu ubin atau keramik lantai yang belum terpasang. Ya, cuma satu ubin saja. Pertanyaannya, apakah kehilangan satu ubin itu membuat kita tetap tenang dan tidak mengurangi apresiasi kita terhadap rumah megah tadi? Nah, jika kita lantas kecewa, atau marah terhadap ubin yang hilang tadi, maka kita terkena The Missing Tile Syndrome . Apalagi, jika kita sampai stress dan sangat tertekan dengan si ubin hilang, maka dipastikan kita terkena sindrome berat. Memang, dalam kenyataannya peristiwa ubin hilang tadi jarang terjadi. Soalnya, pastilah si tukang tidak akan berani m...

Perjalanan Menuju Keabadian

By: M. Ridwan Diskusi malam tadi cukup asyik. Bersama adikku, Fauzi, kami membedah sejarah dunia. Diskusinya sih, awalnya ringan saja. Fauzi membentangkan bola dunia di layar komputer 48 inchinya. Dengan memanfaatkan Encarta Encyclopedia, ia membentangkan timeline sejarah dunia. Encarta juga termasuk aplikasi favorit saya. Saya melakukan "hunting" aplikasi ini dari sejak tahun 1998 lalu. Sayang, versi terakhirnya cuma sampai tahun 2007. Entah apa yang menjadi penyebab Microsoft menghentikan release-nya. Fauzi, mengawali diskusi dengan menyatakan bahwa informasi tentang masa kehidupan Adam sebenarnya layak dikoreksi. Menurut sejarah, Adam diperkirakan hidup sekitar 12 ribu tahun lalu. Nah, info ini, menurutnya salah. Menurut analisis karbon dari bebatuan di Gunung Padang, ternyata usia peradaban itu lebih dari 35 ribu tahun lalu. Artinya, masa Adam hidup lebih lama dari yang diperkirakan. Who knows? Diskusi kami lalu berkembang. Ke sana ke mari. Ngalur ngidul. Dari mulai me...

Sang Maestro Itu Telah Pergi (Bag. 3 Tamat)

By: M. Ridwan " Every man has his own story" (Wiseword) Malam tadi, adalah malam ketiga sang maestro UINSU meninggalkan dunia yang fana ini. Acara tahlilan dan doa yang diikuti ratusan jamaah semakin menunjukkan bahwa Prof Fadhil ini memang berhasil menempati hati banyak orang. Peristiwa kematian selalu saja menyisakan  misteri bagi kita. Kapan, dimana dan bagaimana teknis kematian itu menghampiri, tidak pernah bisa dijawab oleh manusia, sepintar apapun dia. Paling-paling, kita hanya bisa merujuk kepada informasi-informasi yang disampaikan oleh kitab suci, hadis atau cerita-cerita terdahulu. Misalnya, hadis yang menginformasikan  bahwa malaikat izrail selalu menghampiri setiap manusia sebanyak 70 kali perhari. Sehingga, jika dihitung-hitung, maka frekuensi sang malaikat menatap wajah kita adalah 21 menit sekali (24 jam x 60 menit / 70). Masih menurut hadis. Ketika menghampiri manusia, Izrail sering heran melihat manusia yang tidak pernah menyadari hal ini...

Sang Maestro Itu Telah Pergi (Bag. 2)

Oleh: M. Ridwan "When the  bright sun has set, The bright stars will show their lights" (Nur Ahmad Fadhil Lubis) Itu adalah salah satu ungkapan yang menimbulkan tanda tanya bagi kami, peserta Raker Kerja UINSU yang diadakan awal Januari 2016 lalu, di kota Parapat. Ungkapan itu disampaikan oleh Prof. DR. Nur Ahmad Fadhil Lubis ketika menutup acara raker waktu itu. Saya coba terjemahkan ke dalam bahasa Inggeris karena terdengar seperti sebuah puisi bagi saya. Dan, tentu saja cukup "aneh" di telinga kami waktu itu. Artinya kurang lebih begini " Ketika matahari tenggelam, maka sinar bintangpun akan terlihat". Menurut sang professor, banyak sekali bintang di UINSU. Selama ini, sinarnya mungkin belum terlihat, karena mentari masih bersinar di siang hari. Saat itu, saya tidak berani menebak maksud kata-katanya. Saya melihat ada raut bahagia di wajahnya ketika mngucapkan hal itu. Ia bahagia bahwa di UINSU banyak kader yang bisa meneruskan misinya...

Sang Maestro Itu Telah Pergi

Oleh: M. Ridwan   Duka bergelayut di hati kami. Salah satu putra terbaik Indonesia, khususnya UIN Sumatera telah berpulng kerahmatullah. Prof. DR. H. Nur Ahmad Fadhil Lubis, pagi ini, telah dipanggil Allah Swt. Innalillahi wa inna ilahi rajiun. Sesungguhnya, kita adalah milik Allah dan akan kepada-Nya. Prof. Fadhil adalah pahlawan yang mengantarkan IAIN SU menjadi UIN. Proses ini tidak mudah, penuh duka dan hambatan. Namun, kegigihan dan semangatnya yang tinggi berbuah manis, UIN Sumatera Utara diresmikan oleh Presiden, menjelang akhir 2014 lalu. Maka, saya tidak berlebihan menyatakan bahwa beliau adalah maestro dan desainer sejati UINSU. Bagi kami, warga UINSU, Prof. Fadhil tidak hanya seorang rektor, namun juga adalah guru, dosen, mitra dan pemimpin yang berdedikasi tinggi. Sebagai guru dan dosen, saya memiliki pengalaman indah ketika pertama kali menjejakkan kaki di kampus IAIN SU. Saat itu, pengalaman sebagai anak "kampung" membuat saya sedikit minder men...

Seandainya Imam Syafi'i Punya Laptop

Oleh: M. Ridwan Ya, bayangkan saja sekiranya Imam Syafi' i (wafat 204 H) memiliki laptop, terkoneksi dengan internet pula. Kira-kira, apa yang akan terjadi dengan sejarah dunia?. Hmmm.. Padahal, tanpa perangkat itu saja, tokoh besar ini telah mampu menghasilkan berbagai karya luar biasa, yang diabadikan umat sampai saat ini, menjadi masterpiece peradababan Isla.. Bahkan, ada yang menyebut bahwa karya beliau sebenarnya lebih dari 200 buah. Adapun Kitab Al-Risalah atau Al-Umm yang kita ketahui itu, "hanya" sebagian dari kitab yang beliau karang. Seandainya ia punya laptop, maka tentu Imam besar ini akan menghasilkan ribuan karya lainnya. Ia mungkin akan membuat eksiklopedi fikih, kitab hadis hukum, muamalah, dan lain sebagainya. Wajar toh, dengan tinta dan kertas dari kulit saja ia selalu bergairah menulis, apalagi dengan adanya sebuah laptop. Pastilah, tangannya tak akan pernah berhenti menulis. Ada cerita menyatakan bahwa ia menghabiskan 1/3 malamnya deng...

Control Your Life

Selepas magrib ini adalah waktu yang tepat untuk menuliskan today's activity. Hari ini, kegiatan Bintal diadakan di fakultas kami. Sebagai pemateri, Dekan FEBI, DR. Azhari Akmal Tarigan, atau sering kami panggil dengan sebutan " Bang Akmal" menyampaikan topik yang saya kira sangat mengena dengan konteks manusia kini, terutama bagi kami, sebagai anggota timnya di fakultas. Apa topiknya? Mengenai prinsip "The 90/ 10" yang dicetuskan oleh Steven R Covey, penulis yang terkenal dengan karya-karya monumental berkaitan dengan motivasi dan kepribadian. Tahun 1989 lalu, Covey pernah menerbitkan buku berjudul The 7 Habits of Highly Effective People . Buku ini telah terjual lebih dari 15 juta copy. Itu belum termasuk buku terjemahannya. Makanya tak heran kalau si Covey ini pernah dinobatkan sebagai "The Most 5 influential Americans." Saya masih ingat, tahun 1998 lalu, merupakan sebuah kebanggaan jika seorang mahasiswa bisa memiliki buku ini. Nah, hari ini, Ba...

Transportasi Online: Berkah atau Bencana?

Oleh: M. Ridwan Kemarin, para supir taksi dan angkutan berdemo di Jakarta. Mereka menuntut penutupan aplikasi Uber Taxi dan GrabCar. Kedua perusahaan ini sebenarnya tidak memiliki sarana transportasi sendiri. Mereka hanya menjembatani transportasi dengan aplikasi berbasis internet. Canggih, kompetitif dan tentu saja, kreatif. Uber didirikan tahun 2009 lalu. Bermarkas di San Fransisco, perusahaan besutan Travis Kalanik dan Garret Camp ini merambah dunia. Dimulai tahun 2012 dan kini telah merambah lebih dari 50 negara. Omsetnya telah mencapai lebih dari 60 milyar Dolar. Ccckkk..... Sedangkan Grab, hampir sama dengan Uber. Bedanya, si Uber menggunakan kartu kredit dan si Grab membolehkan uang cash. Inovatif-lah. Dengan aplikasi ini, seorang pelanggan akan merasakan kemudahan menggunakan jasa taksi di ujung jarinya, tanpa dikhawatirkan dengan proses berbelit dan tidak pasti. Ya, kepastian tentang jarak tempuh, rate harga dan tentunya pelayanan. Lalu, apakah taksi atau angkutan lain ti...

Holistic Life Style

Oleh: M. Ridwan Pagi ini pengajian subuh di perumahan kami membedah salah satu materi di buku The Handbook of Family Financial Planning. Ceritanya tentang life style (gaya hidup) yang salah saprah dan cara menyikapinya. Silahkan baca pada bagian 22 buku itu ya. Intinya, salah kaprah dalam gaya hidup itu ternyata berisiko pada biaya tinggi dan mematikan sehingga harus disikapi dengan bijak. Lalu, apakah sih gaya hidup itu? Secara istilah, life style adalah cara hidup individu, keluarga atau masyarakat yang dimanifestasikan ke dalam lingkungan fisik, psikologi, sosial atau ekonomi secara rutin setiap harinya. Life style bisa diekspresikan dalam pola kerja ataupun kepribadian baik dalam aktifitas, sikap, minat, nilai-nilai, atau alokasi pendapatan. Sehingga, life style bisa diterjemahkan sebagai refleksi dan cara seseorang melihat dirinya dan bagaimana pula keyakinannya terhadap orang lain ketika melihat dirinya.  Dikarenakan life style merupakan gabungan berbagai motivasi, kebutuha...

Tidak Hanya Alam Semesta, Sepertinya Surga Juga “Terlalu Luas”

Oleh: M. Ridwan “Kupersiapkan buat hamba-hamba-Ku yang shaleh kenikmatan yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga dan tidak pernah terbayang di benak siapa-pun (manusia” (Hadis Qudsiy) Sebenarnya sih, bukan hanya alam semesta yang terlalu luas diciptakan Tuhan. Surga juga terlalu luas, kok. Tentu saja dalam pandangan kita sebagai manusia. Bayangkan, Alquran menyatakan bahwa luas surga itu seluas langit dan bumi. Wow, membayangkannya saja sulit. Dan, memang, surga didesain sebagai hunian yang tidak pernah bisa dibayangkan manusia sebelumnya. Ia cuma bisa direka-reka dan tentu saja tidak akan pernah sama dengan apa yang ada dalam imajinasi manusia. Rasul menyebut surga itu  ma la a’inun ra’at, wa la uzunun sami’at wa khatara ‘ala qalbi basyar (Tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di dalam hati manusia). Gimana bentuknya ya,? Wah sulit dibayangkan-lah. Itu baru dari segi luasn...

Sepertinya, Tuhan Menciptakan Alam Semesta Ini “Terlalu Luas”

Oleh: M. RIDWAN “On The Day of The New Moon. In The Month of Hiyar. The Sun was put to shame, and went down in the daytime, with Mars in attendance” (3 Mei 1375 SM) Kutipan di atas menceritakan gerhana matahari yang pernah terjadi di Mesopotamia. Kutipan ini ditemukan di kota Ugarit Mesopotamia sebagaimana yang dikutip oleh Joel K. Harris and Richard L. Talcot dalam bukunya Chasing The Shadow. Apa artinya?. Gerhana matahari total memang merupakan fenomena bumi. Bedanya, manusia kini sudah mengetahui bahwa bulan-lah yang menutupi sinar matahari dan bukan planet Mars sebagaimana yang diyakini masyarakat Mesopotamia sekitar 3800 tahun lalu. Hari ini gerhana matahari terjadi kembali. Kendati tidak semua wilayah bumi yang bisa menyaksikannya, namun saya kira cukuplah untuk menunjukkan bahwa alam semesta ini memang memiliki banyak keunikan, atau lebih tepatnya misteri yang belum terpecahkan. Manusia memang sudah  mampu memecahkan sedikit misteri mengenai gerhana matahari ...

Nestapa Riset Indonesia?

Oleh: M. Ridwan Minggu lalu, kampus kami menerima kedatangan tamu. Mr. Gwen dari Western University. Tujuan kedatangannya tentu saja untuk mempromosikan sekaligus menjalin kerjasama dengan kampus UIN. Penjelasannya cukup menarik. Ada beberapa hal yang menjadi catatan saya, namun saya menggaris bawahi satu hal yang menjadi keunggulan mereka yaitu ranking 3 besar yang mereka pegang di ERA ( Excellent on Reasearch in Australia). Artinya, kampus mereka sudah memiliki level bergengsi di Australia. Pencapaian itu tentu menggembirakan mengingat usia universitas mereka yang masih terbilang muda (beroperasi sekitar tahun 1990).  Pemerintah Australia khususnya Western University memahami benar urgensi riset bagi negaranya. Keduanya berjalan seiring, kompak dan saling mendukung. Nah, cerita tentang luar negeri ini akan menjadi lain dan seru jika dilihat dari konteks Indonesia. Gimana sih, kondisi riset dan hasil riset produksi kampus-kampus Indonesia?. Saya tidak sedang ...

Digital Era: How Much Do You Love Books?

Keceriaan sore ini agak sedikit terganggu. Apalagi  kalau bukan tentang berita pembakaran karya-karya akademis berupa skripsi, tesis dan disertasi yang dilakukan sebuah perguruan tinggi di Indonesia. Kita pasti terkejut. Meskipun, pihak kampus tersebut memberikan argumen yang cukup logis. Karya-karya itu telah digitalisasikan. Tindakan itu merupakan protap perpustakaan dalam menyikapi karya-karya lama yang usang. Saya berdoa mudah-mudahan saja, aktifitas membakar karya usang ini tidak menjadi lumrah di berbagai pustaka di Indonesia. Lalu bagaimana memperlakukan sebuah karya tulis atau buku? Saya kok, jadi teringat dengan sebuah film berjudul Inkheart. Film produksi tahun 2009 ini dibintangi oleh Brendan Freser, itu lho, pemain film Tarzan dan Mummy yang terkenal. Film ini menceritakan seorang pria bernama Mo. Ia adalah seorang 'dokter dan pencinta buku'. Ia bekerja memperbaiki buku-buku yang rusak supaya tampak rapi kembali. Pekerjaannya ini membuat Mo dan Meggie, putrinya,...