Posts

Showing posts from April, 2018

Partai Setan dan Partai Tuhan: Fiksi atau Fakta?

Image
By: M. Ridwan Dalam kondisi negeri yang serba sensi seperti sekarang ini, apapun isu bisa menjadi bahan gesekan. Setelah kata fiksi dan fiktif yang trend, kali ini tentang sebutan "Partai Setan" dan "Partai Tuhan". Ada seorang tokoh Indonesia mengungkapkan hal ini. Kendati ia tidak bermaksud menunjuk pada pengertian partai politik per se, namun penyebutan kata "Partai Setan" ini sudah kadung dipahami sebagai politisasi. Malah, ada pihak yang melaporkan ke polisi. Wah, wah,,,Sampai sejauh itu ya.. Saya kira, ketimbang sibuk dengan sebutan Partai Setan, mungkin lebih arif, jika kita membuktikan saja, apakah memang telah sesuai dengan kriteria Partai Tuhan. Cocok? Dalam hukum pidana, ini disebut pembuktian terbalik. Bahasa kerennya, Reversing The Burden of Proof. Terserah, mau pakai kata "Partai Tuhan", "Pembela Ajaran Tuhan", atau "Kelompok Tuhan" terserah saja. Kepada siapa pembuktian ini kita lakukan?...

Syari'at Di Jaman Now: Dilema Cinta dan Gengsi

Image
By: M. Ridwan Perjalanan syari'at Tuhan di muka bumi bak kisah roman cinta. Penuh perjuangan, berurai air mata, pengkhianatan, darah dan kesetiaan. Para nabi yang membawa syariat selalu mendapat penentangan dengan berbagai alasan. Ada yang khawatir kekuasaan terancam, misalnya Fir'aun yang menentang Musa, Namrudz terhadap Ibrahim atau kaum elite Mekkah terhadap Muhammad. Alasan politis-lah. Ada yang menentang karena nyaman dengan dosa. Contohnya, kaum Syu'aib yang nyaman tipu-menipu dalam bisnis, umat Luth yang pro LGBT, atau kaum Quraisy yang nyaman menyembah berhala dan makan riba. Apakah mereka bodoh alias tidak cerdas? Tentu saja tidak. Kaum penentang nabi justru pintar-pintar. Kurang hebat apa kaum Ad? Mereka jago arsitek. Gunung saja mampu mereka pahat menjadi rumah. Tanpa pakai software Adobe 3D lho. Kurang canggih apa kaum Mesir yang mampu membangun piramid dan Spinx tanpa bantuan alat canggih dan crane. Sampai kini, para ahli masih bingung...

For Facebookers: Pilih Syariat Versi Yang Mana? (Part 2)

Image
By: M. Ridwan Ini tulisan lanjutan kemarin ya.... Ketika sebuah gadget, seperti smartphone mau dilempar ke pasaran, ia harus mengalami serangkaian uji coba atau sering disebut Stress Test . Saya suka melihat berbagai stress test gadget di Youtube meski kadang ngak tega, sih . Ada yang dilempar dari ketinggian, digores dengan pisau, dibakar di api bahkan dilindas di ban mobil. Pokoknya, sadis... Semakin bertahan, maka gadget itu semakin direkomendasikan untuk dimiliki.   Iphone termasuk gadget yang sukses melewati serangkaian stress test tersebut. Misal, Iphone 6, dimana kacanya terbuat dari Saphine, digores pisau dan ditusuk pakai paku dan obeng, ngak lecet. Katanya, teknologi ini berbeda dengan Gorilla Glass ya. (Bukan iklan ya..) Meskipun, akhirnya, semakin mampu bertahan, maka harga yang dibayar konsumen juga semakin mahal, tapi demi sebuah kualitas dan kepuasan demi memanjakan konsumen, produsen akan melakukan segala hal. Maka, tepat sekali jargon yang berbuny...

For Facebookers: Pilih Syariat Versi Yang Mana?

Image
By: M. Ridwan Kita tinggalkan sejenak polemik tentang Konde dan Kidung Ibu, ya termasuk bagaimana proses hukum dan permintaan kemaafan dari si Ibu. Kita lupakan pula bagaimana serunya Tim Pilkada atau Tim Pilpres yang sedang "berjihad" di Medan Opini dan Imej termasuk -mungkin- persaingan saling jegal dan serang. Untuk hari Senin yang cerah ini, bagaimana kalau kita fokus membedah pengertian "Syariat Islam" yang turut serta dimasukkan dalam puisi Kidung yang menghebohkan minggu lalu?. Mau nanya saja sih. Ketika disebutkan "Syariat Islam" maka, apa yang terbayang? Apakah terbayang cambuk, atau hukum qishash di Arab? Apakah terbayang tentang jilbab atau cadar? Atau, apakah terbayang dengan Arab Saudi dan negara-negara Arab lain yang sedang berperang dan berdarah-darah? Nah, kalau persepsi itu yang muncul, artinya, pengertian syariat yang kita pahami mungkin masih sebatas TAMPILAN dan tentu bukan secara substantif. Lalu, apa pu...

Kidung Indonesia Yang Ternoda

Image
By: M. Ridwan Publik di Indonesia kaget, kecewa dan tentunya bertanya-tanya. Pasalnya, seorang ibu -bukan dengan latar belakang sastrawan pula- menulis sebuah puisi yang cukup kontroversial. Di dalam puisi itu mempertentangkan antara Konde Vs Cadar serta Kidung Ibu vs Azan. Bayangkan, ia menyatakan bahwa suara "Kidung" (nyanyian) ibu yang didengarnya jauh lebih merdu ketimbang suara azan, termasuk juga pernyataan bahwa "Konde" (khas hiasan di kepala wanita Indonesia) itu lebih baik dari "Cadar". Teman-teman akademisi menyebutnya sebagai perbandingan yang tidak apple to apple yaitu membandingkan sesuatu dari genus yang berbeda sehingga tidak bisa menjadi rujukan mencari kebenaran. Kalangan sastrawan dan penyair bahkan menyebutnya sebagai puisi yang sembrono dan salah kaprah. Mereka mengakui bahwa puisi itu jelek secara kualitas, sembrono dan tidak peka karena mengungkit masalah SARA. Kalangan pengamat Islam menyebut si ibu mengidap Islamphobia (ketakutan...