Posts

Generasi Instan: Saat Judi Online Menggerus Masa Depan Anak Bangsa”

Oleh: M. Ridwan Tragis dan menyedihkan..!! Begitulah kesan ketika media memaparkan bahwa hampir 200 ribu anak Indonesia terpapar judi online, bahkan puluhan ribu di antaranya masih berusia di bawah 10 tahun, bukan sekadar persoalan teknologi atau lemahnya pengawasan digital. Ini adalah tanda bahwa sistem ekonomi, pendidikan, dan budaya konsumsi kita sedang mengalami krisis orientasi. Berita ini sangat relevan jika dilihat dari perspektif Ekonomi Islam dan moneter Islam. Dalam ekonomi Islam, uang bukan alat spekulasi, melainkan alat tukar dan sarana menciptakan kemaslahatan. Judi online justru mengubah uang menjadi instrumen ketidakpastian (gharar), spekulasi (maysir), dan eksploitasi psikologis.  Akibatnya, masyarakat terbiasa ingin memperoleh keuntungan instan tanpa proses produksi, kerja nyata, atau nilai tambah ekonomi. Islam sejak awal telah memberikan peringatan keras terhadap praktik maysir karena dampaknya tidak hanya merusak individu, tetapi juga menghancurkan struktur sosi...

Dunia di Persimpangan Jalan: Masa Depan Moneter dan Peluang Moneter Islam

Image
By : M. Ridwan Beberapa hari ini dunia terasa seperti sedang berdiri di persimpangan jalan. Konflik geopolitik meningkat, perang dagang belum benar-benar selesai, teknologi AI berkembang sangat cepat, sementara ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian. Di tengah situasi itu, pertemuan antara Xi Jinping dan Donald Trump kembali menarik perhatian dunia. Xi bahkan mengatakan bahwa China dan Amerika “seharusnya menjadi mitra, bukan rival”. Pernyataan ini sebenarnya bukan sekadar diplomasi biasa. Ada kekhawatiran besar yang sedang menghantui dunia: apakah hubungan Amerika dan China akan masuk ke dalam apa yang disebut sebagai Thucydides Trap atau “Perangkap Thucydides”. Secara sederhana, teori ini menggambarkan kondisi ketika kekuatan lama merasa terancam oleh munculnya kekuatan baru. Dalam sejarah, situasi seperti ini sering berakhir dengan konflik besar. Dulu Athena dan Sparta. Hari ini banyak analis melihat pola itu mulai terlihat dalam hubungan Amerika dan China. Masala...

Jika Sistem Moneter Islam Bagus, Mengapa Dunia Tidak Menerapkannya? Bahkan Negara Muslim Sekalipun :)

Image
By: M. Ridwan Ini pertanyaan yang sering ditanyakan banyak orang.ungkin Anda juga ya..:) “Kalau sistem moneter Islam memang bagus, kenapa dunia tidak menerapkannya? Bahkan negara Muslim pun banyak yang tidak memakai?” Pertanyaan ini sering muncul. Kadang sebagai rasa penasaran, kadang juga sebagai kritik tajam. Sekilas, pertanyaan ini terdengar sangat logis. Sebab dalam pikiran banyak orang, sesuatu yang baik pasti digunakan oleh semua pihak. Kalau tidak digunakan, berarti mungkin memang tidak efektif. Namun, benarkah logikanya sesederhana itu? Mari kita bedah dengan kepala dingin, data riset, dan sedikit analogi unik agar tidak terlalu tegang seperti membaca laporan bank sentral. Dunia Tidak Selalu Memilih Sistem Terbaik, Tapi Sistem yang Sudah Nyaman Mari jujur sebentar. Dalam sejarah, manusia tidak selalu memilih sesuatu karena itu terbaik. Sering kali manusia memilih sesuatu karena sudah terbiasa. Dulu, energi terbarukan dianggap mahal dan merepotkan, padahal manfaatnya...

Post Event Blues: Kenikmatan Fisik Vs Kenikmatan Ruh

Image
By : M. Ridwan Ada istilah baru nih.. Post Event Blues... Pernahkah Anda merasa lelah meski baru saja selesai berlibur mewah? Atau mungkin, pernahkah Anda merasakan kekosongan aneh setelah membeli gadget terbaru yang dulu sangat Anda impikan? Di era modern ini, kita hidup dalam budaya yang memuja kenikmatan fisik. Iklan di mana-mana membisikkan bahwa kebahagiaan itu ada pada rasa makanan yang lezat, kenyamanan tempat tidur yang empuk, atau kemewahan mobil yang dikendarai. Tidak ada yang salah dengan menikmati hal-hal tersebut; tubuh kita memang diciptakan untuk merasakan sensasi dunia. Namun, sering kali kita lupa bahwa manusia bukan hanya terdiri dari daging dan tulang. Kita juga memiliki ruh (jiwa) yang memiliki lapar dan dahaga tersendiri. Artikel ini akan mengajak kita menyelami perbedaan mendasar antara kenikmatan fisik dan kenikmatan ruh, serta bagaimana menemukan titik temu di antara keduanya. Kenikmatan Fisik: Manis, Namun Cepat Berlalu Nah, setidaknya ada empat kar...

Pertumbuhan yang Melelahkan: Ekonomi Tumbuh, Manusia Lelah

By: M. Ridwan Di tengah perayaan angka-angka ekonomi—pertumbuhan, investasi, ekspor—ada satu hal yang jarang dibicarakan: kelelahan manusia dan rusaknya alam sebagai harga yang harus dibayar. Indonesia, seperti banyak negara berkembang lainnya, terus mendorong pertumbuhan ekonomi. Angka Produk Domestik Bruto dijadikan indikator utama keberhasilan. Ketika angka ini naik, kita merasa berhasil. Ketika turun, kita panik. Namun, pertanyaannya: apakah angka ini benar-benar mencerminkan kesejahteraan? Realitas di lapangan tidak selalu seindah statistik. Di satu sisi, sektor industri terus berkembang. Produksi meningkat, investasi masuk, dan ekspor didorong. Namun di sisi lain, kita melihat: pekerja dengan jam kerja panjang dan tekanan tinggi meningkatnya stres dan kelelahan kerja ketimpangan ekonomi yang masih terasa serta kerusakan lingkungan yang semakin nyata Hutan-hutan dibuka untuk kebutuhan industri. Laut dieksploitasi. Sampah plastik menumpuk di berbagai daerah. Semua ini bukan sekadar...

Masalah Buruh: Saatnya Bertobat dari Riba yang Membebani

Image
By : M. Ridwan Setiap tanggal 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional (May Day) sebagai simbol perjuangan pekerja dalam menuntut keadilan ekonomi dan kesejahteraan yang layak. Di Indonesia, momentum ini tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga ruang kritik terhadap kondisi riil buruh yang masih menghadapi berbagai tantangan struktural.  Secara statistik, kondisi ketenagakerjaan memang menunjukkan perbaikan dengan tingkat pengangguran terbuka berada di kisaran 4,7–4,8% pada 2025 dan jumlah pengangguran sekitar 7,4 juta orang. Namun, rata-rata upah buruh yang hanya berkisar Rp3 jutaan per bulan menunjukkan bahwa persoalan utama bukan sekadar ketersediaan pekerjaan, melainkan kualitas pekerjaan dan keadilan distribusi pendapatan.  Bahkan, pertumbuhan upah riil cenderung stagnan dan hanya sebagian kecil pekerja yang mengalami kenaikan pendapatan, sementara sektor informal masih mendominasi. Dalam konteks May Day 2026, isu yang diangkat semakin kompleks, mul...

Sistem Keuangan Berbasis Istighfar: Ketika Stabilitas Dimulai dari Jiwa

Image
By : M. Ridwan Ini tulisan ringan aja ya... Dianggap santai di akhir pekan saja... Di zaman ketika banyak orang panik menghadapi inflasi, cicilan, PHK, dan tekanan ekonomi, sering kali uang dicari dengan cara tergesa—bahkan sebagian menabrak batas halal dan haram. Seolah masalah keuangan hanya bisa diselesaikan dengan menambah angka di rekening. Padahal, dalam perspektif yang lebih dalam, krisis ekonomi sering bermula dari krisis batin: cemas berlebihan, rakus, takut miskin, dan hilangnya rasa cukup. Di sinilah menarik jika kita bicara tentang sistem keuangan berbasis istighfar. Ini bukan berarti istighfar menggantikan kerja, investasi, atau perencanaan ekonomi. Bukan. Tapi istighfar menjadi fondasi mental, spiritual, dan etik dalam mengelola harta. Istighfar adalah “moneter batin”. Ketika pasar dilanda panic selling, istighfar melatih manusia agar tidak panic living. Banyak orang mengambil riba karena takut masa depan. Banyak korupsi terjadi karena panik kehilangan status....