Posts

Ketika Pasar Saham Bergejolak: Membaca Standalone Market dan Ketahanan Ekonomi dari Perspektif Moneter Islam

Image
By: M. Ridwan Gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan kemungkinan perubahan status Indonesia menjadi Standalone Market dalam klasifikasi MSCI menunjukkan bahwa pasar keuangan tidak berdiri sendiri. Ketika kepercayaan investor menurun, arus modal bisa berubah, rupiah tertekan, dan ketidakpastian ekonomi ikut meningkat. Dampaknya dapat terasa sampai ke sektor usaha, termasuk UMKM. Dari perspektif moneter Islam, ada pertanyaan penting yang perlu dijawab: apakah sistem keuangan kita cukup kuat untuk memastikan gejolak pasar tidak menghambat pembiayaan bagi sektor riil? Pasar saham bukanlah persoalan pada dirinya sendiri. Pasar modal dapat membantu menghimpun dana untuk investasi dan pengembangan usaha. Masalah muncul ketika gejolak di pasar keuangan mulai memengaruhi nilai tukar, biaya pembiayaan, investasi produktif, dan daya beli masyarakat. Bagi UMKM, tekanan ini bisa terlihat dari naiknya harga bahan baku impor, pembiayaan yang semakin sulit diperoleh, serta men...

POWERFUL SANTRI: Penjaga Masa Depan Bangsa

Image
By: M. Ridwan Sejarah menunjukkan bahwa santri memiliki peran besar. Santri bukan hanya bagian dari sejarah keagamaan Indonesia, melainkan juga bagian penting dari sejarah perjuangan kemerdekaan dan pembentukan bangsa. Santri adalah bagian dari kekuatan moral, intelektual, sosial, dan kebangsaan Indonesia. Karena itu, ketika kita berbicara tentang Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober, kita juga perlu berbicara tentang santri. Sebab, semangat yang melahirkan Indonesia bukan hanya semangat kesukuan atau kedaerahan, melainkan kesadaran bahwa ada cita-cita yang jauh lebih besar daripada identitas kelompok: Indonesia. Sumpah Pemuda: Ketika Anak Muda Mengalahkan Ego Kedaerahan Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai organisasi, suku, dan daerah berkumpul dalam Kongres Pemuda II. Mereka datang dengan latar belakang yang berbeda. Ada Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Bataks, dan berbagai organisasi kepemudaan lainnya. Mereka memiliki bahasa daerah, ...

PANCASILA, Kerukunan dan Masa Depan Indonesia

Image
By: M. Ridwan Jangan Sampai Kita Menang dalam Kemerdekaan, tetapi Kalah karena Perpecahan Sejarah dunia telah memberikan banyak contoh tentang bagaimana perpecahan, keserakahan, perebutan sumber daya, dan ambisi kekuasaan dapat menghancurkan sebuah peradaban. Hari ini, ketika dunia kembali memasuki periode ketidakpastian geopolitik, persaingan ekonomi, konflik bersenjata, dan perebutan pengaruh antarnegara, Indonesia perlu kembali merenungkan satu hal mendasar: seberapa kuat persatuan kita? Pertanyaan ini bukan sekadar persoalan nasionalisme. Ini adalah persoalan masa depan dan kelangsungan hidup bangsa. Belajar dari Dua Perang Dunia Perang Dunia I yang berlangsung pada 1914–1918 menjadi salah satu tragedi terbesar dalam sejarah umat manusia. Perang ini tidak lahir dari satu persoalan sederhana. Ada persaingan kekuatan besar, perlombaan persenjataan, perebutan pengaruh, nasionalisme yang ekstrem, dan jaringan persekutuan militer yang akhirnya menyeret banyak negara ke...

WAQAF: Ekonomi Berkelanjutan Ala Ekonomi Islam

By: M. Ridwan   Kalau suatu hari ada yang bertanya, "Apa aset terbesar umat Islam di Indonesia?" mungkin saja jawaban kita akan beragam. Ada yang menyebut jumlah penduduk muslim, ada yang menyebut masjid, pesantren, atau bahkan potensi zakat. Padahal, ada satu kekuatan besar yang sering hadir di sekitar kita, tetapi belum banyak dibicarakan sebagai bagian dari solusi ekonomi umat. Namanya wakaf. Menurut data Badan Wakaf Indonesia, negeri ini memiliki lebih dari 440 ribu bidang tanah wakaf dengan luas sekitar 57 ribu hektare. Berbagai kajian memperkirakan nilai ekonominya mencapai sekitar Rp1.478 triliun. Angka yang luar biasa besar. Barangkali, jika aset sebesar itu dimiliki oleh sebuah korporasi, setiap jengkalnya akan dihitung, direncanakan, dan dioptimalkan agar terus menghasilkan manfaat. Namun ketika aset itu bernama wakaf, kita sering kali memandangnya cukup sebagai simbol ibadah, tanpa banyak bertanya sejauh mana manfaatnya dapat terus berkembang untuk umat. Padahal, ...

Qana'ah Digital: Merasa Cukup di Tengah Dunia yang Tidak Pernah Berkata "Cukup"

Image
By M. Ridwan Salah satu ujian terbesar manusia modern bukan lagi kekurangan, melainkan kelebihan pilihan . Setiap kali membuka media sosial, kita disuguhi rumah yang lebih mewah, mobil yang lebih mahal, liburan yang lebih indah, karier yang lebih cemerlang, dan kehidupan yang tampak lebih sempurna. Akibatnya, seseorang yang sebenarnya sudah berkecukupan tiba-tiba merasa miskin. Bukan karena hartanya berkurang, tetapi karena standar kebahagiaannya terus dinaikkan oleh layar di tangannya. Inilah yang dapat disebut sebagai qana'ah digital , yaitu kemampuan menjaga hati agar tidak terus-menerus membandingkan diri dengan apa yang dilihat di dunia digital. Qana'ah digital bukan berarti menolak teknologi atau menutup akun media sosial. Ia adalah kemampuan menggunakan teknologi tanpa membiarkan teknologi mengendalikan rasa syukur kita. Hari ini, algoritma media sosial dirancang untuk membuat kita terus ingin melihat, terus ingin membeli, terus ingin mengikuti tren, dan t...

Rupiah Melemah, Pertamax Naik: Benarkah Indonesia yang Kaya SDA Sedang Tidak Baik-Baik Saja?

  Beberapa waktu terakhir, masyarakat kembali dihadapkan pada dua kenyataan yang terasa langsung di kantong: nilai tukar rupiah yang melemah dan kenaikan harga Pertamax. Pertanyaan yang kemudian muncul di benak banyak orang sangat sederhana namun mendalam: “Bukankah Indonesia negara kaya sumber daya alam? Mengapa ekonomi kita masih mudah terguncang?” Pertanyaan ini penting dijawab secara jernih, karena persoalannya ternyata tidak sesederhana “rupiah turun” atau “harga BBM naik”. Ada persoalan struktur ekonomi yang lebih dalam. Kaya Sumber Daya, Tapi Mengapa Masih Rentan? Indonesia sering disebut negara kaya. Kita memiliki batu bara, nikel, sawit, gas, emas, hasil laut, hingga lahan pertanian yang luas. Namun, kekayaan alam tidak otomatis membuat ekonomi menjadi kuat. Masalah utama Indonesia adalah: kita masih terlalu sering menjual bahan mentah dan membeli barang jadi. Misalnya, kita memiliki nikel melimpah, tetapi produk teknologi bernilai tinggi masih...

Generasi Instan: Saat Judi Online Menggerus Masa Depan Anak Bangsa”

Oleh: M. Ridwan Tragis dan menyedihkan..!! Begitulah kesan ketika media memaparkan bahwa hampir 200 ribu anak Indonesia terpapar judi online, bahkan puluhan ribu di antaranya masih berusia di bawah 10 tahun, bukan sekadar persoalan teknologi atau lemahnya pengawasan digital. Ini adalah tanda bahwa sistem ekonomi, pendidikan, dan budaya konsumsi kita sedang mengalami krisis orientasi. Berita ini sangat relevan jika dilihat dari perspektif Ekonomi Islam dan moneter Islam. Dalam ekonomi Islam, uang bukan alat spekulasi, melainkan alat tukar dan sarana menciptakan kemaslahatan. Judi online justru mengubah uang menjadi instrumen ketidakpastian (gharar), spekulasi (maysir), dan eksploitasi psikologis.  Akibatnya, masyarakat terbiasa ingin memperoleh keuntungan instan tanpa proses produksi, kerja nyata, atau nilai tambah ekonomi. Islam sejak awal telah memberikan peringatan keras terhadap praktik maysir karena dampaknya tidak hanya merusak individu, tetapi juga menghancurkan struktur sosi...