Posts

Post Event Blues: Kenikmatan Fisik Vs Kenikmatan Ruh

Image
By : M. Ridwan Ada istilah baru nih.. Post Event Blues... Pernahkah Anda merasa lelah meski baru saja selesai berlibur mewah? Atau mungkin, pernahkah Anda merasakan kekosongan aneh setelah membeli gadget terbaru yang dulu sangat Anda impikan? Di era modern ini, kita hidup dalam budaya yang memuja kenikmatan fisik. Iklan di mana-mana membisikkan bahwa kebahagiaan itu ada pada rasa makanan yang lezat, kenyamanan tempat tidur yang empuk, atau kemewahan mobil yang dikendarai. Tidak ada yang salah dengan menikmati hal-hal tersebut; tubuh kita memang diciptakan untuk merasakan sensasi dunia. Namun, sering kali kita lupa bahwa manusia bukan hanya terdiri dari daging dan tulang. Kita juga memiliki ruh (jiwa) yang memiliki lapar dan dahaga tersendiri. Artikel ini akan mengajak kita menyelami perbedaan mendasar antara kenikmatan fisik dan kenikmatan ruh, serta bagaimana menemukan titik temu di antara keduanya. Kenikmatan Fisik: Manis, Namun Cepat Berlalu Nah, setidaknya ada empat kar...

Pertumbuhan yang Melelahkan: Ekonomi Tumbuh, Manusia Lelah

By: M. Ridwan Di tengah perayaan angka-angka ekonomi—pertumbuhan, investasi, ekspor—ada satu hal yang jarang dibicarakan: kelelahan manusia dan rusaknya alam sebagai harga yang harus dibayar. Indonesia, seperti banyak negara berkembang lainnya, terus mendorong pertumbuhan ekonomi. Angka Produk Domestik Bruto dijadikan indikator utama keberhasilan. Ketika angka ini naik, kita merasa berhasil. Ketika turun, kita panik. Namun, pertanyaannya: apakah angka ini benar-benar mencerminkan kesejahteraan? Realitas di lapangan tidak selalu seindah statistik. Di satu sisi, sektor industri terus berkembang. Produksi meningkat, investasi masuk, dan ekspor didorong. Namun di sisi lain, kita melihat: pekerja dengan jam kerja panjang dan tekanan tinggi meningkatnya stres dan kelelahan kerja ketimpangan ekonomi yang masih terasa serta kerusakan lingkungan yang semakin nyata Hutan-hutan dibuka untuk kebutuhan industri. Laut dieksploitasi. Sampah plastik menumpuk di berbagai daerah. Semua ini bukan sekadar...

Masalah Buruh: Saatnya Bertobat dari Riba yang Membebani

Image
By : M. Ridwan Setiap tanggal 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional (May Day) sebagai simbol perjuangan pekerja dalam menuntut keadilan ekonomi dan kesejahteraan yang layak. Di Indonesia, momentum ini tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga ruang kritik terhadap kondisi riil buruh yang masih menghadapi berbagai tantangan struktural.  Secara statistik, kondisi ketenagakerjaan memang menunjukkan perbaikan dengan tingkat pengangguran terbuka berada di kisaran 4,7–4,8% pada 2025 dan jumlah pengangguran sekitar 7,4 juta orang. Namun, rata-rata upah buruh yang hanya berkisar Rp3 jutaan per bulan menunjukkan bahwa persoalan utama bukan sekadar ketersediaan pekerjaan, melainkan kualitas pekerjaan dan keadilan distribusi pendapatan.  Bahkan, pertumbuhan upah riil cenderung stagnan dan hanya sebagian kecil pekerja yang mengalami kenaikan pendapatan, sementara sektor informal masih mendominasi. Dalam konteks May Day 2026, isu yang diangkat semakin kompleks, mul...

Sistem Keuangan Berbasis Istighfar: Ketika Stabilitas Dimulai dari Jiwa

Image
By : M. Ridwan Ini tulisan ringan aja ya... Dianggap santai di akhir pekan saja... Di zaman ketika banyak orang panik menghadapi inflasi, cicilan, PHK, dan tekanan ekonomi, sering kali uang dicari dengan cara tergesa—bahkan sebagian menabrak batas halal dan haram. Seolah masalah keuangan hanya bisa diselesaikan dengan menambah angka di rekening. Padahal, dalam perspektif yang lebih dalam, krisis ekonomi sering bermula dari krisis batin: cemas berlebihan, rakus, takut miskin, dan hilangnya rasa cukup. Di sinilah menarik jika kita bicara tentang sistem keuangan berbasis istighfar. Ini bukan berarti istighfar menggantikan kerja, investasi, atau perencanaan ekonomi. Bukan. Tapi istighfar menjadi fondasi mental, spiritual, dan etik dalam mengelola harta. Istighfar adalah “moneter batin”. Ketika pasar dilanda panic selling, istighfar melatih manusia agar tidak panic living. Banyak orang mengambil riba karena takut masa depan. Banyak korupsi terjadi karena panik kehilangan status....

Ekonomi Moneter Syariah: Dari Gagasan ke Implementasi Nyata

Image
By M. Ridwan Selama ini ekonomi moneter syariah sering dipahami sebatas wacana normatif tentang larangan riba, kewajiban zakat, atau romantisme kembalinya dinar-dirham. Padahal, tantangan utama hari ini bukan lagi hanya membuktikan bahwa sistem moneter syariah itu ideal secara konsep, melainkan bagaimana ia dapat diimplementasikan secara konkret untuk menjawab persoalan inflasi, ketimpangan, krisis utang, dan rapuhnya ekonomi riil.  Dalam banyak hal, problem sistem moneter modern adalah dominasi sektor finansial atas sektor produktif; uang berputar sangat cepat dalam instrumen spekulatif, namun sering lambat menyentuh kebutuhan riil masyarakat. Di sinilah ekonomi moneter syariah menawarkan koreksi mendasar: uang bukan komoditas yang diperjualbelikan demi keuntungan bunga, melainkan alat tukar yang harus terhubung dengan aktivitas produktif dan keadilan distribusi. Langkah pertama yang paling realistis adalah membangun fondasi ekonomi berbasis aset riil dan mengurangi ke...

Ekonomi Syariah Berbasis Cinta

Image
By: M. Ridwan Saya senang dengan gagasan Menteri Agama terkait Pendidikan Berbasis Cinta. Nah,  Jika pendidikan berbasis cinta mengajarkan bahwa kecerdasan harus bertemu kasih sayang, maka sistem keuangan Islam sesungguhnya adalah cinta yang diinstitusikan dalam ekonomi. Ini bukan sekadar bahasa puitik. Ada dasar moral, dan ada bukti empiris. Larangan riba, zakat, wakaf, bagi hasil, hingga keuangan sosial Islam, semuanya lahir dari satu gagasan: harta tidak boleh menjadi alat penindasan, melainkan sarana menjaga martabat manusia. Menariknya, “cinta” dalam ekonomi syariah tidak berhenti pada idealisme. Ia tumbuh menjadi sistem global. Industri keuangan Islam kini telah mencapai sekitar US$5,9 triliun aset global dan diproyeksikan mendekati US$9,7 triliun pada 2029.  Ini menunjukkan bahwa prinsip berbasis etika dan keadilan bukan sekadar alternatif moral, tapi model ekonomi yang kompetitif. Mengapa tumbuh? Karena dunia mulai sadar bahwa pasar tidak cukup dibangun ole...

Pengangguran: Ketika Uang Harus Melayani Manusia

Image
By: M. Ridwan Pengangguran sering dibaca sebagai angka—sekian persen dari angkatan kerja tidak terserap, sekian juta orang tanpa pekerjaan. Laporan resmi dari Badan Pusat Statistik mencatat tingkat pengangguran terbuka sebagai indikator kesehatan pasar tenaga kerja. Dalam logika ekonomi makro konvensional, selama angka ini “terkendali”, sistem dianggap berjalan. Namun di balik angka itu tersembunyi realitas yang jauh lebih dalam: waktu manusia yang terbuang, potensi yang terpendam, dan martabat yang perlahan terkikis. Pengangguran bukan sekadar variabel ekonomi—ia adalah krisis kemanusiaan yang sering disederhanakan menjadi statistik. Secara teori makro, pengangguran sering dikaitkan dengan siklus bisnis, inflasi, dan kebijakan moneter. Ketika bank sentral menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi, investasi melambat, produksi menurun, dan pada akhirnya tenaga kerja dikurangi. Dalam kerangka ini, pengangguran kadang dianggap “konsekuensi yang dapat diterima” demi stabilitas harga. B...