Posts

Masalah Buruh: Saatnya Bertobat dari Riba yang Membebani

Image
By : M. Ridwan Setiap tanggal 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional (May Day) sebagai simbol perjuangan pekerja dalam menuntut keadilan ekonomi dan kesejahteraan yang layak. Di Indonesia, momentum ini tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga ruang kritik terhadap kondisi riil buruh yang masih menghadapi berbagai tantangan struktural.  Secara statistik, kondisi ketenagakerjaan memang menunjukkan perbaikan dengan tingkat pengangguran terbuka berada di kisaran 4,7–4,8% pada 2025 dan jumlah pengangguran sekitar 7,4 juta orang. Namun, rata-rata upah buruh yang hanya berkisar Rp3 jutaan per bulan menunjukkan bahwa persoalan utama bukan sekadar ketersediaan pekerjaan, melainkan kualitas pekerjaan dan keadilan distribusi pendapatan.  Bahkan, pertumbuhan upah riil cenderung stagnan dan hanya sebagian kecil pekerja yang mengalami kenaikan pendapatan, sementara sektor informal masih mendominasi. Dalam konteks May Day 2026, isu yang diangkat semakin kompleks, mul...

Sistem Keuangan Berbasis Istighfar: Ketika Stabilitas Dimulai dari Jiwa

Image
By : M. Ridwan Ini tulisan ringan aja ya... Dianggap santai di akhir pekan saja... Di zaman ketika banyak orang panik menghadapi inflasi, cicilan, PHK, dan tekanan ekonomi, sering kali uang dicari dengan cara tergesa—bahkan sebagian menabrak batas halal dan haram. Seolah masalah keuangan hanya bisa diselesaikan dengan menambah angka di rekening. Padahal, dalam perspektif yang lebih dalam, krisis ekonomi sering bermula dari krisis batin: cemas berlebihan, rakus, takut miskin, dan hilangnya rasa cukup. Di sinilah menarik jika kita bicara tentang sistem keuangan berbasis istighfar. Ini bukan berarti istighfar menggantikan kerja, investasi, atau perencanaan ekonomi. Bukan. Tapi istighfar menjadi fondasi mental, spiritual, dan etik dalam mengelola harta. Istighfar adalah “moneter batin”. Ketika pasar dilanda panic selling, istighfar melatih manusia agar tidak panic living. Banyak orang mengambil riba karena takut masa depan. Banyak korupsi terjadi karena panik kehilangan status....

Ekonomi Moneter Syariah: Dari Gagasan ke Implementasi Nyata

Image
By M. Ridwan Selama ini ekonomi moneter syariah sering dipahami sebatas wacana normatif tentang larangan riba, kewajiban zakat, atau romantisme kembalinya dinar-dirham. Padahal, tantangan utama hari ini bukan lagi hanya membuktikan bahwa sistem moneter syariah itu ideal secara konsep, melainkan bagaimana ia dapat diimplementasikan secara konkret untuk menjawab persoalan inflasi, ketimpangan, krisis utang, dan rapuhnya ekonomi riil.  Dalam banyak hal, problem sistem moneter modern adalah dominasi sektor finansial atas sektor produktif; uang berputar sangat cepat dalam instrumen spekulatif, namun sering lambat menyentuh kebutuhan riil masyarakat. Di sinilah ekonomi moneter syariah menawarkan koreksi mendasar: uang bukan komoditas yang diperjualbelikan demi keuntungan bunga, melainkan alat tukar yang harus terhubung dengan aktivitas produktif dan keadilan distribusi. Langkah pertama yang paling realistis adalah membangun fondasi ekonomi berbasis aset riil dan mengurangi ke...

Ekonomi Syariah Berbasis Cinta

Image
By: M. Ridwan Saya senang dengan gagasan Menteri Agama terkait Pendidikan Berbasis Cinta. Nah,  Jika pendidikan berbasis cinta mengajarkan bahwa kecerdasan harus bertemu kasih sayang, maka sistem keuangan Islam sesungguhnya adalah cinta yang diinstitusikan dalam ekonomi. Ini bukan sekadar bahasa puitik. Ada dasar moral, dan ada bukti empiris. Larangan riba, zakat, wakaf, bagi hasil, hingga keuangan sosial Islam, semuanya lahir dari satu gagasan: harta tidak boleh menjadi alat penindasan, melainkan sarana menjaga martabat manusia. Menariknya, “cinta” dalam ekonomi syariah tidak berhenti pada idealisme. Ia tumbuh menjadi sistem global. Industri keuangan Islam kini telah mencapai sekitar US$5,9 triliun aset global dan diproyeksikan mendekati US$9,7 triliun pada 2029.  Ini menunjukkan bahwa prinsip berbasis etika dan keadilan bukan sekadar alternatif moral, tapi model ekonomi yang kompetitif. Mengapa tumbuh? Karena dunia mulai sadar bahwa pasar tidak cukup dibangun ole...

Pengangguran: Ketika Uang Harus Melayani Manusia

Image
By: M. Ridwan Pengangguran sering dibaca sebagai angka—sekian persen dari angkatan kerja tidak terserap, sekian juta orang tanpa pekerjaan. Laporan resmi dari Badan Pusat Statistik mencatat tingkat pengangguran terbuka sebagai indikator kesehatan pasar tenaga kerja. Dalam logika ekonomi makro konvensional, selama angka ini “terkendali”, sistem dianggap berjalan. Namun di balik angka itu tersembunyi realitas yang jauh lebih dalam: waktu manusia yang terbuang, potensi yang terpendam, dan martabat yang perlahan terkikis. Pengangguran bukan sekadar variabel ekonomi—ia adalah krisis kemanusiaan yang sering disederhanakan menjadi statistik. Secara teori makro, pengangguran sering dikaitkan dengan siklus bisnis, inflasi, dan kebijakan moneter. Ketika bank sentral menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi, investasi melambat, produksi menurun, dan pada akhirnya tenaga kerja dikurangi. Dalam kerangka ini, pengangguran kadang dianggap “konsekuensi yang dapat diterima” demi stabilitas harga. B...

Pertumbuhan Ekonomi: Antara Angka, Ilusi, dan Jalan Kembali ke Nilai Ilahiah

Image
By: M. Ridwan Malam itu, lampu-lampu kota menyala terang. Dari lantai atas sebuah kafe, Rafi memandangi jalanan yang tak pernah tidur. Di tangannya, layar ponsel menampilkan berita: “Pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil di angka 5%.” Ia tersenyum kecil. “Negeri ini baik-baik saja,” gumamnya. Angka-angka dari World Bank dan Badan Pusat Statistik seolah menjadi bukti bahwa masa depan cerah sedang menanti. Namun senyum itu perlahan hilang ketika ia teringat perjalanan siangnya ke kampung pinggiran kota. Di sana, ia melihat seorang ibu menghitung recehan untuk membeli beras, sementara anaknya menatap kosong ke arah warung. “Kalau ekonomi tumbuh, kenapa hidup mereka tetap sulit?” pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Angka-angka yang selama ini ia pelajari tiba-tiba terasa dingin, jauh dari kenyataan. Keesokan harinya, di ruang kelas, dosennya berkata, “Kita hidup dalam paradoks. Ekonomi tumbuh, tapi ketimpangan juga meningkat.” Ia kemudian menunjukkan data dari Oxfam tentang bag...

Muslim Dollar: Mimpi Besar atau Jalan yang Terlambat Disiapkan?

Image
By : M. Ridwan Pagi itu, alam sebuah forum kelas kecil, seorang mahasiswa bertanya dengan nada serius, “Kenapa negara-negara Muslim tidak punya mata uang sendiri yang kuat? Kenapa harus terus bergantung pada dolar?”  Ruangan kmi seketika hening. Pertanyaan itu sederhana, tapi mengandung beban sejarah, politik, dan realitas ekonomi yang panjang.  Masalahnya bukan kita tidak bisa… tapi apakah kita siap?” Pertanyaan itu justru lebih dalam dari yang awalnya diajukan. Karena di balik ide besar tentang “Muslim Dollar” atau mata uang bersama dunia Islam, tersembunyi persoalan mendasar: bukan pada kemungkinan, tetapi pada kesiapan. Secara teori, dunia Muslim memiliki potensi yang luar biasa untuk membangun sistem moneter sendiri. Dengan populasi lebih dari 1,8 miliar jiwa, serta penguasaan sumber daya strategis seperti minyak, gas, dan berbagai komoditas penting, negara-negara Muslim memiliki kekuatan ekonomi yang tidak kecil. Dalam konteks perdagangan global, negara-negar...