Posts

Pengangguran: Ketika Uang Harus Melayani Manusia

Image
By: M. Ridwan Pengangguran sering dibaca sebagai angka—sekian persen dari angkatan kerja tidak terserap, sekian juta orang tanpa pekerjaan. Laporan resmi dari Badan Pusat Statistik mencatat tingkat pengangguran terbuka sebagai indikator kesehatan pasar tenaga kerja. Dalam logika ekonomi makro konvensional, selama angka ini “terkendali”, sistem dianggap berjalan. Namun di balik angka itu tersembunyi realitas yang jauh lebih dalam: waktu manusia yang terbuang, potensi yang terpendam, dan martabat yang perlahan terkikis. Pengangguran bukan sekadar variabel ekonomi—ia adalah krisis kemanusiaan yang sering disederhanakan menjadi statistik. Secara teori makro, pengangguran sering dikaitkan dengan siklus bisnis, inflasi, dan kebijakan moneter. Ketika bank sentral menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi, investasi melambat, produksi menurun, dan pada akhirnya tenaga kerja dikurangi. Dalam kerangka ini, pengangguran kadang dianggap “konsekuensi yang dapat diterima” demi stabilitas harga. B...

Pertumbuhan Ekonomi: Antara Angka, Ilusi, dan Jalan Kembali ke Nilai Ilahiah

Image
By: M. Ridwan Malam itu, lampu-lampu kota menyala terang. Dari lantai atas sebuah kafe, Rafi memandangi jalanan yang tak pernah tidur. Di tangannya, layar ponsel menampilkan berita: “Pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil di angka 5%.” Ia tersenyum kecil. “Negeri ini baik-baik saja,” gumamnya. Angka-angka dari World Bank dan Badan Pusat Statistik seolah menjadi bukti bahwa masa depan cerah sedang menanti. Namun senyum itu perlahan hilang ketika ia teringat perjalanan siangnya ke kampung pinggiran kota. Di sana, ia melihat seorang ibu menghitung recehan untuk membeli beras, sementara anaknya menatap kosong ke arah warung. “Kalau ekonomi tumbuh, kenapa hidup mereka tetap sulit?” pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Angka-angka yang selama ini ia pelajari tiba-tiba terasa dingin, jauh dari kenyataan. Keesokan harinya, di ruang kelas, dosennya berkata, “Kita hidup dalam paradoks. Ekonomi tumbuh, tapi ketimpangan juga meningkat.” Ia kemudian menunjukkan data dari Oxfam tentang bag...

Muslim Dollar: Mimpi Besar atau Jalan yang Terlambat Disiapkan?

Image
By : M. Ridwan Pagi itu, alam sebuah forum kelas kecil, seorang mahasiswa bertanya dengan nada serius, “Kenapa negara-negara Muslim tidak punya mata uang sendiri yang kuat? Kenapa harus terus bergantung pada dolar?”  Ruangan kmi seketika hening. Pertanyaan itu sederhana, tapi mengandung beban sejarah, politik, dan realitas ekonomi yang panjang.  Masalahnya bukan kita tidak bisa… tapi apakah kita siap?” Pertanyaan itu justru lebih dalam dari yang awalnya diajukan. Karena di balik ide besar tentang “Muslim Dollar” atau mata uang bersama dunia Islam, tersembunyi persoalan mendasar: bukan pada kemungkinan, tetapi pada kesiapan. Secara teori, dunia Muslim memiliki potensi yang luar biasa untuk membangun sistem moneter sendiri. Dengan populasi lebih dari 1,8 miliar jiwa, serta penguasaan sumber daya strategis seperti minyak, gas, dan berbagai komoditas penting, negara-negara Muslim memiliki kekuatan ekonomi yang tidak kecil. Dalam konteks perdagangan global, negara-negar...

Ketika Dunia Kaya Tapi Kehilangan Makna !!

Image
Kita hidup di zaman yang membingungkan. Uang tidak pernah sebanyak ini. Sistem keuangan semakin canggih. Akses makin mudah. Tapi anehnya… rasa cukup justru semakin langka. Ini bukan perasaan semata. Ini realita. Indonesia, misalnya, mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar 5% per tahun, menunjukkan ekonomi terlihat stabil dan bahkan kuat. Namun di saat yang sama, fenomena seperti judi online, spekulasi, dan kecemasan finansial justru meningkat.  Artinya sederhana: pertumbuhan tidak selalu berarti kesejahteraan. Dunia Tidak Kekurangan Uang !!! Mari kita lihat angka. Total aset keuangan syariah Indonesia saja sudah mencapai sekitar Rp2.972 triliun pada 2025, naik drastis dari sekitar Rp1.801 triliun di tahun 2020.  Di sektor perbankan syariah, aset juga terus meningkat hingga mendekati Rp895 triliun pada 2024, dengan tren pertumbuhan yang konsisten.  Secara global, aset keuangan syariah bahkan sudah menembus sekitar 2,58 triliun dolar AS, dengan pertumbuhan tahunan ...

Masa Depan Moneter Islam: Antara Data, Realita, dan Arah yang Belum Jelas

Image
Oleh : M. Ridwan Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja secara moneter—dan ini bukan sekadar opini, tapi bisa dibaca dari data. Sistem global mulai bergeser, konflik geopolitik meningkat, dan kepercayaan terhadap sistem keuangan lama perlahan retak. Di tengah kondisi ini, ekonomi Islam mulai dilirik kembali, bukan sekadar sebagai alternatif religius, tetapi sebagai kebutuhan sistemik. Menariknya, Indonesia—yang sering dianggap “pasar saja”—ternyata diam-diam sudah masuk tiga besar kekuatan ekonomi syariah dunia. Secara angka, perkembangan ini tidak kecil. Aset keuangan syariah Indonesia melonjak dari sekitar Rp6.193 triliun pada 2021 menjadi lebih dari Rp10.257 triliun pada 2025.  Artinya, dalam beberapa tahun saja, pertumbuhannya sangat signifikan. Bahkan sektor halal value chain menopang lebih dari 25% ekonomi nasional, menunjukkan bahwa ekonomi berbasis nilai ini bukan lagi pinggiran, tetapi sudah masuk ke jantung ekonomi.  Di level global, Indonesia kini be...

Keren Sih, Tapi Itu Namanya Spekulasi

Image
Oleh : M. Ridwan Siang itu, di sebuah kafe yang lampunya sengaja dibuat temaram, seorang anak muda duduk paling pojok. Kemeja rapi, sepatu bersih, jam tangan mengilap. Di depannya terbuka laptop dengan grafik warna-warni yang naik turun seperti detak jantung. Sesekali ia menyeruput kopi, sesekali matanya tajam menatap layar. Dari jauh, kelihatannya keren. Sangat modern. Sangat “anak zaman sekarang”. Orang yang lewat mungkin langsung berkesimpulan: "wah ini pasti berbisnis". Dan memang, sekarang pemandangan seperti itu sudah jadi hal biasa. Anak muda trading forex, emas, kripto, saham—apa saja yang bisa “bergerak”. Di media sosial, kisahnya semakin menggiurkan: cuan cepat, profit harian, hidup fleksibel, kerja dari mana saja. Siapa sih yang nggak pengin kaya? Masalahnya, di titik inilah kalimat “keren sih, tapi ini namanya spekulasi” mulai relevan. Banyak anak muda yang masuk ke dunia trading bukan karena paham instrumen, risiko, atau mekanismenya, tapi karena satu dorongan kl...

Nestapa Investasi Bodong Ala Ponzi dan Investasi Kripto: Alarm Keras bagi Ekonomi Syariah

Image
Oleh: M. Ridwan Tragis. Padahal baru awal tahun 2026. Beginilah kesan yang penulis tangkap dari kasus investasi bodong yang kembali mengguncang masyarakat. Kali ini, hal yang paling menyakitkan bukan sekadar kerugian materi, melainkan rusaknya kepercayaan masyarakat terhadap label “syariah” dan semangat investasi berbasis nilai. Dugaan praktik investasi bodong ala skema ponzi- kembali menerpa Indonesia. Perusahaan yang katanya berbasis Syariah -silahkan cek namanya- dilaporkan ke polisi oleh Otoritas Jasa keuangan (OJK). Bersamaan dengan itu pula, muncul pula berita kerugian investor ritel di sektor kripto -yang jumlahnya ditaksir 300 milyraran- menjadi alarm keras bagi sistem ekonomi dan moneter syariah di Indonesia. Masalahnya bukan pada syariah atau teknologi kripto itu sendiri, melainkan pada cara keduanya dipraktikkan dan dipromosikan. Syariah yang Direduksi Menjadi Alat Pemasaran Dalam berbagai kesaksian korban yang beredar di ruang publik, perusahaan diduga menjalankan pola peng...