Posts

Muslim Dollar: Mimpi Besar atau Jalan yang Terlambat Disiapkan?

Image
By : M. Ridwan Pagi itu, alam sebuah forum kelas kecil, seorang mahasiswa bertanya dengan nada serius, “Kenapa negara-negara Muslim tidak punya mata uang sendiri yang kuat? Kenapa harus terus bergantung pada dolar?”  Ruangan kmi seketika hening. Pertanyaan itu sederhana, tapi mengandung beban sejarah, politik, dan realitas ekonomi yang panjang.  Masalahnya bukan kita tidak bisa… tapi apakah kita siap?” Pertanyaan itu justru lebih dalam dari yang awalnya diajukan. Karena di balik ide besar tentang “Muslim Dollar” atau mata uang bersama dunia Islam, tersembunyi persoalan mendasar: bukan pada kemungkinan, tetapi pada kesiapan. Secara teori, dunia Muslim memiliki potensi yang luar biasa untuk membangun sistem moneter sendiri. Dengan populasi lebih dari 1,8 miliar jiwa, serta penguasaan sumber daya strategis seperti minyak, gas, dan berbagai komoditas penting, negara-negara Muslim memiliki kekuatan ekonomi yang tidak kecil. Dalam konteks perdagangan global, negara-negar...

Ketika Dunia Kaya Tapi Kehilangan Makna !!

Image
Kita hidup di zaman yang membingungkan. Uang tidak pernah sebanyak ini. Sistem keuangan semakin canggih. Akses makin mudah. Tapi anehnya… rasa cukup justru semakin langka. Ini bukan perasaan semata. Ini realita. Indonesia, misalnya, mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar 5% per tahun, menunjukkan ekonomi terlihat stabil dan bahkan kuat. Namun di saat yang sama, fenomena seperti judi online, spekulasi, dan kecemasan finansial justru meningkat.  Artinya sederhana: pertumbuhan tidak selalu berarti kesejahteraan. Dunia Tidak Kekurangan Uang !!! Mari kita lihat angka. Total aset keuangan syariah Indonesia saja sudah mencapai sekitar Rp2.972 triliun pada 2025, naik drastis dari sekitar Rp1.801 triliun di tahun 2020.  Di sektor perbankan syariah, aset juga terus meningkat hingga mendekati Rp895 triliun pada 2024, dengan tren pertumbuhan yang konsisten.  Secara global, aset keuangan syariah bahkan sudah menembus sekitar 2,58 triliun dolar AS, dengan pertumbuhan tahunan ...

Masa Depan Moneter Islam: Antara Data, Realita, dan Arah yang Belum Jelas

Image
Oleh : M. Ridwan Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja secara moneter—dan ini bukan sekadar opini, tapi bisa dibaca dari data. Sistem global mulai bergeser, konflik geopolitik meningkat, dan kepercayaan terhadap sistem keuangan lama perlahan retak. Di tengah kondisi ini, ekonomi Islam mulai dilirik kembali, bukan sekadar sebagai alternatif religius, tetapi sebagai kebutuhan sistemik. Menariknya, Indonesia—yang sering dianggap “pasar saja”—ternyata diam-diam sudah masuk tiga besar kekuatan ekonomi syariah dunia. Secara angka, perkembangan ini tidak kecil. Aset keuangan syariah Indonesia melonjak dari sekitar Rp6.193 triliun pada 2021 menjadi lebih dari Rp10.257 triliun pada 2025.  Artinya, dalam beberapa tahun saja, pertumbuhannya sangat signifikan. Bahkan sektor halal value chain menopang lebih dari 25% ekonomi nasional, menunjukkan bahwa ekonomi berbasis nilai ini bukan lagi pinggiran, tetapi sudah masuk ke jantung ekonomi.  Di level global, Indonesia kini be...

Keren Sih, Tapi Itu Namanya Spekulasi

Image
Oleh : M. Ridwan Siang itu, di sebuah kafe yang lampunya sengaja dibuat temaram, seorang anak muda duduk paling pojok. Kemeja rapi, sepatu bersih, jam tangan mengilap. Di depannya terbuka laptop dengan grafik warna-warni yang naik turun seperti detak jantung. Sesekali ia menyeruput kopi, sesekali matanya tajam menatap layar. Dari jauh, kelihatannya keren. Sangat modern. Sangat “anak zaman sekarang”. Orang yang lewat mungkin langsung berkesimpulan: "wah ini pasti berbisnis". Dan memang, sekarang pemandangan seperti itu sudah jadi hal biasa. Anak muda trading forex, emas, kripto, saham—apa saja yang bisa “bergerak”. Di media sosial, kisahnya semakin menggiurkan: cuan cepat, profit harian, hidup fleksibel, kerja dari mana saja. Siapa sih yang nggak pengin kaya? Masalahnya, di titik inilah kalimat “keren sih, tapi ini namanya spekulasi” mulai relevan. Banyak anak muda yang masuk ke dunia trading bukan karena paham instrumen, risiko, atau mekanismenya, tapi karena satu dorongan kl...

Nestapa Investasi Bodong Ala Ponzi dan Investasi Kripto: Alarm Keras bagi Ekonomi Syariah

Image
Oleh: M. Ridwan Tragis. Padahal baru awal tahun 2026. Beginilah kesan yang penulis tangkap dari kasus investasi bodong yang kembali mengguncang masyarakat. Kali ini, hal yang paling menyakitkan bukan sekadar kerugian materi, melainkan rusaknya kepercayaan masyarakat terhadap label “syariah” dan semangat investasi berbasis nilai. Dugaan praktik investasi bodong ala skema ponzi- kembali menerpa Indonesia. Perusahaan yang katanya berbasis Syariah -silahkan cek namanya- dilaporkan ke polisi oleh Otoritas Jasa keuangan (OJK). Bersamaan dengan itu pula, muncul pula berita kerugian investor ritel di sektor kripto -yang jumlahnya ditaksir 300 milyraran- menjadi alarm keras bagi sistem ekonomi dan moneter syariah di Indonesia. Masalahnya bukan pada syariah atau teknologi kripto itu sendiri, melainkan pada cara keduanya dipraktikkan dan dipromosikan. Syariah yang Direduksi Menjadi Alat Pemasaran Dalam berbagai kesaksian korban yang beredar di ruang publik, perusahaan diduga menjalankan pola peng...

Wak Lontong dan Maaf-nya

Image
   By: M. Ridwan Wak Lontong membuat kehebohan lagi di kampung. Pasalnya, ketika Idul Fitri datang, dia termasuk orang pertama yang mendatangi rumah penduduk. Untuk meminta meminta maaf tentunya. Anehnya, bukan diterima dengan baik, para tetangga justru banyak yang menghindar. Apa sebab? Dalam pemahaman Wak Lontong, meminta maaf harus disertai dengan keterangan atas kesalahan apa yang dilakukan. "Masak aku meminta maaf kepada seseorang sedang dia sendiri tidak tahu apa kesalahanku padanya," demikian argumen Wak Lontong. Logis kelihatannya. Tapi, berabe dalam praktiknya.    Misalnya, ia mendatangi rumah Pak Koplo, juragan sukses di kampungnya. Awalnya, Pak Koplo senang dengan kehadiran tamunya ini. Setelah bersalaman, Wak Lontong meminta maaf kepada Pak Koplo dan membuat pengakuan bahwa dia selalu cemburu kepadanya.   "Aku kira selama ini engkau memelihara tuyul dan minta bantuan dukun untuk pesugihan, termasuk tak membayarkan kesejahteraan kary...

Wak Lontong dan Rendang Daging

Image
 By: M. Ridwan Wak Lontong masih bersedih. Kematian sohibnya, Wak Bedol, di akhir Ramadhan, membuatnya yakin bahwa Tuhan sedang merencanakan sesuatu untuk hidupnya. Meski ia tak tahu seperti apa.  Wak Bedol meninggalkan 3 orang anak yatim piatu yang kini menjadi tanggung jawab Wak Lontong. Soalnya, isteri Wak Bedol juga sudah lama meninggal. Wak Bedol pun tak memiliki saudara dan teman akrab, kecuali Wak Lontong ini. Para jiran tetangga bersilaturahim ke rumah Wak Lontong. Mencoba menghibur dan menguatkannya. Wak Lontong menyuguhi tamunya dengan lontong rendang daging yang dimasaknya sendiri. Perkara masak memasak, Wak Lontong memang ahlinya. Sesuai dengan namanya. :) Anehnya, ketika para tamu sedang asyik makan. Wak Lontong tidak ikut serta. Alasannya, sedang berpuasa. Para tamu kaget.  "Puasa pada 1 Syawal haram hukumnya" kata sang ustaz yang hadir pagi itu.  "Meski Wak sangat ingin dekat dengan Tuhan, tapi Tuhan juga memiliki aturan yang humanis dan sayang kepada ...