Ticker

6/recent/ticker-posts

Happy Planet Index: Mengukur Kebahagiaan di Planet Bumi (Bag. 2)

By: M. Ridwan 

Ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya tentang kebahagiaan.Ternyata, tema tentang kebahagiaan dan kesedihan selalu menjadi topik menarik, ya.Bahkan, di sebuah group WA penulis ikuti, diskusi tentang sedih dan bahagia hampir saja tidak membuahkan sebuah kesimpulan yang disepakati. Masalahnya sederhana, apakah kadar keimanan seseorang bisa diukur dari tingkat kesedihan yang dialaminya? Atau, bisakah seseorang yang berimana mengalami kesedihan?.

Di tulisan sebelumnya, saya mengutip hasil dari penelitian yang dilakukan oleh sebuah lembaga bernama New Economics Foundation. Lembaga ini memperkenalkan istilah Happy Planet Index (HPI) untuk mengukur kondisi kebahagiaan yang dialami oleh negara-negara di dunia. 

HPI dijadikn alat ukur baru untuk mengetahui pencapaian sebuah negara  dalam upaya mendukung warganya  dalam mencapai kesejahteraan.  Alat ukur yang digunakan ada 3 (tiga) yaitu harapan hidup (life expectancy), kondisi yang dialami (experienced well being) dan jejak ekologis (ecological footprint).

Dalam laporan HPI tahun 2012 lalu, disimpulkan bahwa sebagian besar negara-negara di planet ini masih belum merupakan tempat yang membahagiakan bagi penduduknya.  

Adapun negara yang mendapat predikat paling bahagia ternyata adalah Costarica, Vietnam dan Laos. Anda boleh setuju atau tidak, ternyata Indonesia berada pada posisi ke 41 saja dari 151 negara yangvdi survey. Silahkan cek di sini ya

Nah, kali ini saya tertarik untuk memaparkan satu lagi survey tentang kebahagiaan, namun tidak keluar negeri. Kita melihatnya dari dalam negeri saja.

Adalah Maarif Institute yang mengadakan penelitian ini untuk menjawab pertanyaan kota manakah yang paling bahagia? 

Ternyata, hasil penelitian mereka menyebutkan bahwa Bengkulu dan Denpasar memiliki nilai tertinggi untuk variabel kota paling bahagia dengan nilai masing-masing 100.

Lalu, apa tolak ukurnya?

Salah satunya adalah keamanan dimana ada Perda tentang pertanggungjawaban pemerintahnya.

Selain itu, BPS juga pernah melansir tiga provinsi dengan indeks kebahagiaan tertinggi si tahun 2014 antara lain Riau di angka 72,42; Maluku dengan indeks 72,12 dan Kalimantan Timur 71,45.

Adapun, aspek yang menggambarkan indeks kebahagiaan berdasarkan kepuasan terhadap kesehatan, pendidikan, pekerjaan, pendapatan rumah tangga, keharmonisan keluarga, ketersediaan wiaktu luang, hubungan sosial, kondisi rumah dan aset, keadaan lingkungan dan kondisi keamanan. Wah, jadi banyak tolak ukurnya, ya?

Lalu, apa yang dapat kita simpulkan dari paparan di atas?

Setidaknya, kendati kebahagiaan adalah masalah subjektif dan berbeda tolak ukurnya dari satu individu ke individu lain, atau dari satu masyarakat ke masyarakat lain, namun cara untuk mendapatkan kebahagiaan yang paling masuk awal tentu saja melalui salah satu pintunya yaitu pemenuhan aspek material, kendati dalam batasan minimal sekalipun. Batasan minimal ini, entah dengan terpenuhinya kebutuhan pokok (daruriyah/primer) seseorang atau suatu masyarakat. Artinya, kebahagiaan akan sulit dicapai dengan serta merta atau by pass ke tahap ruhani atau spiritual.

Pemenuhan kondisi atau environment yang mendukung kebahagiaan mutlak diperlukan. Rasul dan para sahabat memastikan tercapainya kondisi ideal yang mendukung pencapaian kebahagiaan dunia dan akhirat masyarakat dengan terlebih dahulu memastikan bahwa dukungan sarana dan prasarana awal itu terpenuhinya.  Mereka bangun sistem politik dan ekonomi yang baik. Mereka bangun budaya dan hubungan sosial yang bermartabat -di bawah batasan syariat Islam-. Setelah itu?. Silahkan saja untuk tidak menggunakannya secara exessive. Menarik bukan?. Pencapaian material yang ditunjukkan Nabi dan para sahabat akhirnya untuk menuju ke sebuah tahapan berikutnya yaitu, menjadikannya hanya sekedar sarana untuk kebahagiaan immateri yang lebih hakiki. Dibuang juga silahkan saja. Itu masalah pilihan toh?. Sama seperti nabi atau sahabat yang tidak menggunakan fasilitas material yang diberikan Tuhan kepada mereka.

Hemat saya. Kebahagiaan memang akan lebih mudah dicapai dalam sebuah masyarakat yang memiliki sistem kehidupan yang baik, entah sistem ekonomi, politik atau sosial budayanya.  Sebaliknya, kesengsaraan dan kesedihan pasti akan mudah menghampiri masyarakat yang miskin dan hidup dalam ketiadaan sarana yang layak. Ini terbukti dari sejarah manusia dari jaman ke jaman.

Oh ya, bagaimana akhirnya diskusi di WA yang saya ikuti kemarin?

Mayoritas anggota group memang pada akhirnya menyatakan bahwa tidak mungkin kesedihan itu dihilangkan dari seseorang.  Termasuk, tidak mungkin seseorang dikatakan tidak beriman -serta merta- jika ia menunjukkan kesedihan. Kesedihan itu manusiawi, namun proses memaknainya serta menjadikannya batu loncatan untuk menggapai keridhaan Tuhan dan kasih sayang-Nya adalah kuncinya. Pain and sorrow adalah kenyataan hidup. That's the challenge of life. Untuk itulah kita hidup dan memantaskan diri kita untuk mendapat surga-Nya pastilah melalui jalan itu juga.

Anda setuju?

Post a Comment

0 Comments