Posts

#Day1 Seri Ramadhan 2018: Take Off Ramadhan: Beratkah?

Image
By:  M. Ridwan Memasuki awal Ramadhan 1439 H ini, ibarat menerbangkan pesawat Airbus A380 yang superbesar itu. Untuk proses take off nya memerlukan energi dan konsentrasi yang sangat besar. Saya pernah melihat bagaimana seorang pilot dituntut keahliannya untuk menerbangkan pesawat ini. Kalau tidak?, siap-siaplah pesawat trilyunan rupiah ini jatuh. Tak bernilai lagi. Ramadhan 2018 ini berat. Setidaknya di negeri ini. Betapa tidak, seminggu menjelang kehadiran bulan mulia ini, perhatian publik negeri justru disibukkan dengan teror bom di berbagai tempat di Indonesia. Entah apa yang ada di benak pelaku teror ketika memutuskan harus mati dengan membunuh orang tak berdosa. Entah disengaja atau tidak, mereka telah berhasil membuat fokus umat Islam terganggu dan pandangan dunia terhadap muslim semakin kelam. Luar biasa jahatnya. Tapi itulah cobaan. Saat inilah, Ramadhan menjadi moment berharga untuk mempertanyakan, apakah muslim negeri ini tetap teguh den...

Wahai Teroris, Apa Salah Kami?

By: M. Ridwan Wahai teroris, Kami tak tahu kalian sedang memperjuangkan apa. Yang kami tahu bahwa kalian sedang memporak-porandakan persatuan negeri ini. Merobek cinta kasihnya dan mengubur harapannya. Kami tak tahu kebencian apa yang ada di hati kalian. Yang kami tahu bahwa kalian begitu benci melihat orang memuji Tuhan, di rumah ibadah, entah itu gereja ataupun mesjid warga negeri ini. Wahai teroris, apa salah kami kepada mu? Sehingga kalian tega membunuh anak tak berdosa dan orang-orang tak yang tak pernah membencimu bahkan bertemu denganmu. Keadilan mana yang hendak kalian pinta dari kami? Kebenaran apa yang ingin kalian tunjukan? Yang kami tahu, bahwa kalian rela mati atas nama kebencian dan sakit hati. Mati atas kezaliman yang tak kalian sadari. Bagaimanakah rasanya?. Wahai teroris, Kami tak tahu, Tuhan manakah yang kalian sembah?. Meski katanya, nama Tuhan kalian pekikan, namun kami tak percaya bahwa Tuhan kami yang kalian maksudkan. Tuhan kita berbeda, kawan. Tuha...

Mahathir Effect: Agar Elite Tak Amnesia

By: M. Ridwan Salah satu pelajaran penting dari kisah politik di negeri jiran beberapa hari ini adalah tentang keharusan memegang prinsip yang dilakonkan elite partai politik, dimanapun berada. Bayangkan, partai sebesar UMNO (United Malays National Organisation) yang tergabung dalam koalisasi Barisan Nasional harus menanggung kekalahan telak atas rivalnya koalisasi Pakatan Harahapan yang di dalamnya terdapat partai baru besutan Mahathir Muhammad yaitu Partai Pribumi Bersatu Malaysia (PPBN). Usianya baru 2 tahun lho. Tepatnya didirikan tahun 2016 lalu. Memang sih, kemenangan Mahathir banyak dibantu dengan dukungan mantan rivalnya Anwar Ibrahim beserta isteri yang memang merupakan oposisi pemerintah sejak puluhan tahun. Namun, saya kira, bukan itu yang utama. Kekalahan UMNO ditengarai banyak dipengaruhi faktor LUPA. Saya menyebutnya AMNESIA POLITIK. Makhluk apakah itu?. Emang amnesia bisa buat kalah? Emang politik bisa amnesia? Amnesia politik itu adalah ketika elite partai lupa vis...

Mahathir Effect: Belajar Dari Negeri Upin dan Ipin

Image
By: M. Ridwan Apapun pembelaan timses mantan PM Malaysia Najib Razak terhadap keberhasilannya memimpin Malaysia, namun apa mau dikata?. Publik Malaysia telah menjatuhkan pilihan. Yes, mereka memilih Mohathir Muhammad menjadi PM yang baru menggantikan Najib Razak kendati sang PM baru ini cukup sepuh. Seorang kakek yang menjadi PM tertua di dunia. Keren bukan? Bayangkan, ia telah berumur 92 tahun !! Bukan 29 tahun lho...!. Betapapun sebagian publik agak sinis mengatakan bahwa kaderisasi kepemimpinan "macet" di negeri jiran ini, namun begitulah yang terjadi. Ia memenangkan kursi parlemen. Selama kampanye, oposisi Malaysia mungkin dianggap terlalu paranoid, lebay atau provokatif dengan istilah bumiputera atau pribumi, namun itulah fakta yang kita lihat bahwa publik Malaysia sepertinya khawatir sangat lah (Malaysian style) gebrakan Najib Rajak, khususnya dengan membuka keran investasi dari negeri Tiongkok- akan menjadi mimpi buruk bagi pribumi Malaysia.  Dan yang terpenting, ...

Scorpion Story: Antara Nasib dan Kehebatan Manusia

Image
By: M. Ridwan Sejujurnya, saya juga takut dengan kalajengking, selain kobra, yang pernah saya sebut di tulisan lain. Dulu, ketika masa kecil di kampung, anak-anak sebaya malah menjadikan kalajengking dan ular sebagai mainan. Termasuk juga kelabang atau hewan ekstrim lainnya. Pokoknya, seru. Kok bisa ya, anak-anak itu tidak takut, padahal itu hewan berbisa?. Mungkinkah anak Jaman Now punya mental seperti itu..? Minggu ini, kalajengking menjadi trending topic. Bermula dari info presiden tentang mahalnya racun ( venom ) sang scorpion di forum MUSREMBANGNAS 2019.  Harganya bisa menjadi 143 milyar per-liter lho . Luar biasa. Ada sebabnya? LIPI dan kalangan imuwan menyatakan bahwa racun kalajengking memang dahsyat untuk medis, terutama penyembuhan kanker dan penyakit lainnya. Wajar harganya sangat mahal karena proses mining venom ini cukup sulit dan tidak semua kalajengking memenuhi syarat. Langka. Wah, sayang sekali. Andaikan jumlah kalajengking ini banyak dan bisa ditern...

Jangan Heran !!! Level Keadaban Kita Memang Rendah

Image
By: M. Ridwan Berita aksi rebutan sembako berujung maut, terjadi lagi. Tragisnya, kali ini terjadi di jantung Ibukota negeri ini, Jakarta. Tepatnya di Monas, yang tidak jauh dari istana Presiden. Miris sekali. Tulisan ini tentu tidak akan masuk ke pembahasan "siapa salah", apalagi tentang "siapa benar". Soalnya, kalau urusan mencari pembenaran, manusia Jaman Now adalah ahlinya. Wong, bumi saja bisa dibilang datar kok.. Saya juga tidak akan menariknya ke dalam perdebatan politik yang sangat tidak sehat akhir-akhir ini.  Katanya, politik suka mencari kambing hitam. Ngeri... Lagipula, sudah banyak yang ahli dalam ranah itu. Kita baca saja analisis mereka. Pasti seru dan lucu-lucu. Saya cuma mau katakan.  Beginilah level "keadaban" kita. Keadaban artinya kecerdasan lahir batin. Bukan sekedar budi pekerti yang tampak. Keadaban itu high character. Karakter tingkat tinggi. Holistik. Tidak sekedar ucapan namun juga praktik. Munculnya dari hati, produk...

Partai Setan dan Partai Tuhan: Fiksi atau Fakta?

Image
By: M. Ridwan Dalam kondisi negeri yang serba sensi seperti sekarang ini, apapun isu bisa menjadi bahan gesekan. Setelah kata fiksi dan fiktif yang trend, kali ini tentang sebutan "Partai Setan" dan "Partai Tuhan". Ada seorang tokoh Indonesia mengungkapkan hal ini. Kendati ia tidak bermaksud menunjuk pada pengertian partai politik per se, namun penyebutan kata "Partai Setan" ini sudah kadung dipahami sebagai politisasi. Malah, ada pihak yang melaporkan ke polisi. Wah, wah,,,Sampai sejauh itu ya.. Saya kira, ketimbang sibuk dengan sebutan Partai Setan, mungkin lebih arif, jika kita membuktikan saja, apakah memang telah sesuai dengan kriteria Partai Tuhan. Cocok? Dalam hukum pidana, ini disebut pembuktian terbalik. Bahasa kerennya, Reversing The Burden of Proof. Terserah, mau pakai kata "Partai Tuhan", "Pembela Ajaran Tuhan", atau "Kelompok Tuhan" terserah saja. Kepada siapa pembuktian ini kita lakukan?...