By: M. Ridwan
Dalam kondisi negeri yang serba sensi seperti sekarang ini, apapun isu bisa menjadi bahan gesekan.
Setelah kata fiksi dan fiktif yang trend, kali ini tentang sebutan "Partai Setan" dan "Partai Tuhan".
Ada seorang tokoh Indonesia mengungkapkan hal ini. Kendati ia tidak
bermaksud menunjuk pada pengertian partai politik per se, namun
penyebutan kata "Partai Setan" ini sudah kadung dipahami sebagai
politisasi. Malah, ada pihak yang melaporkan ke polisi.
Wah, wah,,,Sampai sejauh itu ya..
Saya kira, ketimbang sibuk dengan sebutan Partai Setan, mungkin lebih
arif, jika kita membuktikan saja, apakah memang telah sesuai dengan kriteria Partai Tuhan.
Cocok?
Dalam hukum pidana, ini disebut pembuktian terbalik. Bahasa kerennya, Reversing The Burden of Proof.
Terserah, mau pakai kata "Partai Tuhan", "Pembela Ajaran Tuhan", atau "Kelompok Tuhan" terserah saja.
Kepada siapa pembuktian ini kita lakukan?.
Tentu kepada Allah, dong.
Kalau pembuktian kepada manusia sih, namanya riya, pamer atau ujub.
Maklum, manusia mudah terkesima dengan seuatu yang tampak (zahir).
Matanya mudah dikibuli. Mereka akan tertegun dengan kharisma, materi
atau intonasi suara.
Buktinya, banyak orang yang tertipu dengan
tampilan. Dikira sholeh dan dekat dengan Tuhan, eh, malah menzalimi
orang. Dikira dermawan, eh rupanya mau gaet suara doang.
Yakinlah, bila kita gunakan kata "Partai Tuhan" pun, belum tentu di mata
Tuhan kita langsung dianggap "Hamba Tuhan" yang sejati. Tuhan pasti
tahu, mana niat yang bersih dan hati yang kotor.
Maka, kita
harus membuktikan kepada Tuhan bahwa kita adalah pengikut-Nya, bukan
Pengikut Setan. Meski manusia sejagat menganggap kita bukan siapa-siapa,
namun kalau Tuhan sudah mengakui, itu lebih dari pujian seisi bumi.
Istilah kerennya, majhul fil ard, masyhur fil sama', ngak dikenal di bumi namun masyhur di langit. Menarik, bukan?
Kita nyatakan bahwa kita tergabung ke dalam Partai Tuhan bukan Partai Setan.
Pembuktian itu tidak mesti diucapkan, atau saling kliam, lho, cukup dengan perbuatan yang nyata.
Let The World Judge You ..
Saya setuju, jika penyebutan "Partai Setan" atau "Partai Tuhan" dalam
surat Alquran (Al-Maidah ayat 56 dan Al-Mujadalah ayat 11) itu tidak
dimaksudkan menunjuk partai politik seperti yang kita kenal saat ini.
Itu namanya mereduksi makna.
Lagipula, mana bisa manusia meng-klaim orang lain adalah Setan atau tidak?.
Itu namanya mengambil hak Tuhan. Sombong sekali. Iblis bisa tertawa senang tuh.
Mana mungkin pula, Setan dan Tuhan iseng membuat partai politik ala manusia?.
Itu namanya lebay tingkat tinggi.
Jangankan Tuhan, Setan saja tidak akan melakukannya.
Kita gak bakalan nemuin Setan yang membuat partai politik. Misal,
memilih nama yang keren, kemudian ngumpulin KTP dan mendaftarkannya.
Lalu, membuat AD/ART, melakukan sosialisasi, membentuk Pengurus DPP,
DPW, DPC sampai ke pengurus Ranting. Itu namanya fiktif, bukan?
Apalagi sampai memasang iklan di TV, baleho, atau spanduk untuk menarik minat manusia. Wah, gak bakalan deh. Itu namanya humanisasi Setan.
Soalnya, gak diiklankan pun, sudah banyak yang tertarik bergabung
dengan Setan, iya kan..?. Malah mereka rela membayar. Rela beli miras,
narkoba, atau tiket berjudi. Aneh juga, mau jadi pengikut setan kok rela
membayar?
Sebaliknya, meski dipanggil dengan azan sebanyak 5
kali sehari saja, toh ajakan Tuhan itu masuk telinga kanan keluar
telinga kiri. Azan malah dianggap kalah merdu dengan kidung. Padahal
diajak ke surga, bukan,,,?
Maka, saya setuju, jika penyebutan
Partai Setan dan Partai Tuhan dimaksudkan Kelompok Jin dan manusia yang
menjadi Pengikut Setan atau Pengikut Tuhan yang sukarela. Siapapun bisa
masuk ke dalamnya.
Nah, kalau sudah sepakat, tinggal pembuktian.
Di kelompok manakah kita berada?
Kalau Partai Tuhan nih, ciri-cirinya mudah dikenali.
Misal, ingat kepada Tuhan, selalu intropeksi diri, cinta Alquran, tidak
suka mengikuti hawa nafsu, tidak risih kepada syari'at Tuhan, gemar
kebaikan dan benci kemunkaran.
Orang seperti itu, tanpa menyebut kata "Partai Tuhan"-pun, Tuhan akan memasukkan mereka ke dalam golongan kekasih-Nya.
Sedangkan, "Partai Setan" itu dicirikan dengan kelompok yang lalai
dengan Tuhan, mentertawakan ajaran-Nya, suka membuat permusuhan, dengki
dan tentunya risih melihat kebaikan.
Maka, meski pakai kata
"Partai Tuhan"-atau "Partai Malaikat" pun, maka setan pasti dengan
senang hati mengklaim sebagai pengikutnya. Setan akan katakan, "You are
my beloved fellows". Mereka langsung memberikan kartu keanggotaan
gratis. Setan gak peduli nama.
Berita baiknya. Setahu saya.
Tak satupun, partai Politik di Indonesia, yang memiliki ciri seperti di
atas. Baca saja AD/ART-nya. Semua punya visi dan misi yang baik-baik
dan visioner. Parpol di Indonesia punya potensi besar menjadi Partai
Tuhan. Jangan khawatir.
So, Partai Setan dan Partai Tuhan itu adalah masalah pembuktian di hadapan Tuhan.
Bukan sekedar ajang klaim dan saling tunjuk hidung.
Silahkan intropeksi diri. Di "partai" manakah kita berada?
Damailah Indonesiaku..
Wallahu A'lam


0 Comments