Ticker

6/recent/ticker-posts

Mahathir Effect: Agar Elite Tak Amnesia

By: M. Ridwan

Salah satu pelajaran penting dari kisah politik di negeri jiran beberapa hari ini adalah tentang keharusan memegang prinsip yang dilakonkan elite partai politik, dimanapun berada.

Bayangkan, partai sebesar UMNO (United Malays National Organisation) yang tergabung dalam koalisasi Barisan Nasional harus menanggung kekalahan telak atas rivalnya koalisasi Pakatan Harahapan yang di dalamnya terdapat partai baru besutan Mahathir Muhammad yaitu Partai Pribumi Bersatu Malaysia (PPBN). Usianya baru 2 tahun lho. Tepatnya didirikan tahun 2016 lalu.

Memang sih, kemenangan Mahathir banyak dibantu dengan dukungan mantan rivalnya Anwar Ibrahim beserta isteri yang memang merupakan oposisi pemerintah sejak puluhan tahun. Namun, saya kira, bukan itu yang utama.

Kekalahan UMNO ditengarai banyak dipengaruhi faktor LUPA. Saya menyebutnya AMNESIA POLITIK. Makhluk apakah itu?. Emang amnesia bisa buat kalah? Emang politik bisa amnesia?

Amnesia politik itu adalah ketika elite partai lupa visi dan misinya.

Kita lihat,
UMNO itu berdiri tahun 72 tahun lalu. Tepatnya, tanggal 11 Mei 1946 lalu.

Pada awal berdiri, partai ini sangat kuat memegang prinsip demokrasi, menjunjung integritas dan prinsip perjuangan membela rakyat. UMNO itu partai relijius dan sangat pro kepada rakyat. Dulu, UMNO itu mengharamkan POLITIK UANG, lho.

Hmmm, namun itu dulu.
Perjalanan waktu menjadikan partai ini lupa diri. Kemenangan demi kemenangan yang diraih justru membuat banyak elit nya lupa diri. Mereka bermewah-mewah dan lupa komitmen. Konstituen hanya jadi tempat mendulang suara. Elite nya banyak menduduki jabatan strategis.

Maka, dugaan korupsi Najib Razak dalam 1MDB  hanyalah puncak gunung es dari tingkah para elitnya. Dunia menyebut skandal ini sebagai "kleptokrasi terburuk di dunia" yaitu pencurian uang negara yang dilakukan elite pemerintah yang notabene sangat dekat dengan elite partai. Bayangkan bro, 700 juta USD Dollar.

Maka, inisiatif Mahathir keluar dari UMNO pada 2016 lalu adalah salah satu bentuk kekecewaannya atas sikap UMNO yang mendukung tingkah Najib dalam skandal 1MDB itu. Kendati pengurus UMNO menganggap bahwa Mahathir adalah pengkhianat partai, namun ia tak bergeming. Ia lantas mendirikan partai baru, berkoalisasi dengan Anwar Ibrahim dan menang.

Politik itu dinamis banget ya,,
Tak ada lawan abadi, dan tak ada musuh abadi...
Makanya, jangan suka berseteru sampai ke ubun-ubun ya..:). Jangan-jangan, nanti ketika elite nya berdamai, konstituen di akar rumput masih berseteru. Peace...

Pelajaran dari kisah UMNO itu bagi para elite politik supaya jangan mempermainkan konstituen dengan janji palsu dan tingkah lupa diri.

Elite politik itu ya gak boleh merasa elitis. Harus komit memegang prinsip dan nilai partai. Harus sering-sering baca AD/ART partai. Sehingga aspirasi rakyat diketahui. Not just for their votes...Bukan hanya karena suara.

Kekuasaan jangan dijadikan Tuhan lho. Ia hanyalah alat untuk tujuan bersama dan mulia sehingga gak boleh saling jelek-menjelekkan dan disetir untuk tujuan sesaat para elit.

Kisah UMNO jadi pelajaran berharga.
Bahwa ketika kepercayaan rakyat dikhianati maka mereka akan jatuh hati kepada pilihan lain.

Dan, ini juga pelajaran buat kita-kita, kelompok non elite untuk selalu cerdas dan kritis terhadap partai yang ada. Termasuk juga jangan alpa memberi saran.

Indonesia dan Malaysia itu serumpun lho
Moga amnesia tak terjadi pada kita khususnya kelompok elite negeri ini. Amin..

Wallahu a'lam.

Post a Comment

0 Comments