Ticker

6/recent/ticker-posts

Scorpion Story: Antara Nasib dan Kehebatan Manusia

By: M. Ridwan



Sejujurnya, saya juga takut dengan kalajengking, selain kobra, yang pernah saya sebut di tulisan lain. Dulu, ketika masa kecil di kampung, anak-anak sebaya malah menjadikan kalajengking dan ular sebagai mainan. Termasuk juga kelabang atau hewan ekstrim lainnya. Pokoknya, seru. Kok bisa ya, anak-anak itu tidak takut, padahal itu hewan berbisa?. Mungkinkah anak Jaman Now punya mental seperti itu..?

Minggu ini, kalajengking menjadi trending topic.
Bermula dari info presiden tentang mahalnya racun (venom) sang scorpion di forum MUSREMBANGNAS 2019.  Harganya bisa menjadi 143 milyar per-liter lho. Luar biasa.

Ada sebabnya?
LIPI dan kalangan imuwan menyatakan bahwa racun kalajengking memang dahsyat untuk medis, terutama penyembuhan kanker dan penyakit lainnya. Wajar harganya sangat mahal karena proses mining venom ini cukup sulit dan tidak semua kalajengking memenuhi syarat. Langka.
Wah, sayang sekali. Andaikan jumlah kalajengking ini banyak dan bisa diternakkan..Bisa kaya negeri ini ya. Andaikan,..andaikan...

Saya yakin, tidak semua kita, mengetahui betapa bermanfaatnya venom kalajengking ini. Ayo ngaku?

Setelah informsi ini, saya justru baru tahu bahwa ada banyak jenis kalajengking. Ada yang berwarna biru, coklat dan berbeda bentuk tubuh. Nah, tidak semua jenis yang bisa diambil racunnya.  

Betapa hebatnya Tuhan dengan segala Penciptaan-Nya. Seekor kalajengking saja sudah mampu membuat kita takjub, konon pula dengan alam semesta yang maha luas ini. Kurang bersyukur apalagi ya?.
Saya yakin, banyak misteri alam yang satu-persatu akan terpecahkan, entah ketika masih hidup atau ketika kita sudah almarhum, nantinya. 

Menariknya, tema kalajengking menjadi pembicaraan hangat di media, namun bukan tentang khasiat dan kiat memperbanyak kalajengking ini.
Tema-nya sudah berubah tuh ke arah perang tanding "pro dan kontra ".
Tema kalejengking bergeser ke arah pola like and dislike lagi dan tentunya akan dengan kental nuansa politik deh. Ada aura ofensif dan defensif lagi tuh. Bersiap saja.

Kalaulah kalajengking bisa bicara. Betapa bangganya mereka.
Soalnya, sosok mereka menjadi pembicaraan warga negeri ini. Jarang-jarang, binatang bisa menjadi trending topic. Bulan lalu ada si Bonita, harimau nyasar di Riau itu. Aisha dan Raifa setiap hari menanyakan kabar si Bonita, apakah sudah tertangkap atau belum. :)

Dan kali ini, ada pula scorpion.
Kalajengking memang bisa membuat paranoid. Kita mengakui hal ini.
Bayangkan di tengah sawah dan reremputan, sewaktu-waktu, ia bisa muncul, mencapit dan menyuntikkan racunnya. Sosoknya misterius, kendati sangat cantik bagi para ilmuawan dan peneliti venom.

Namun, 
Ada hal menarik dari pengalaman masa kecil kami dulu. Dan, ini bisa menjadi iktibar kita.

Ternyata, tak satupun dari kami yang pernah kena sengatan kalajengking.
Justru kalajengking-lah yang harus tewas di tangan kami. Jumlahnya pun banyak. Ada persepsi di benak kami bahwa kalau ketemu kalajengking ya harus dibunuh. Dia berbahaya dan akan menyerang. Betapa berdosanya kami kala itu.

Sampai kini, saya yakin, apabila ketemu kalajengking, maka kemungkinan besar mereka akan meregang nyawa di tangan manusia. Entah apa saja alasannya. Mungkin dianggap makhluk ganas, makhluk jelek, dsb. Kasihan, bukan?
Kalajengking selalu kalah, dan kitalah pemenangnya. Sadarkah kita?

Kalajengking itu contoh keberhasilan manusia dalam memutar balikkan fakta.
Padahal, seekor kalajengking hanya akan menyengat dalam kondisi terdesak. Mereka tidak akan menyerang kalau tidak merasa terancam. Mereka adalah makhluk yang bisa menjadi imut dan bersahabat juga. Terbukti toh. Dalam berbagai tulisan ilmiah disebutkan bahwa justru kalajengking yang lebih sering menjadi korban makhluk lain. Mereka makhluk yang tidak suka cari musuh.

Justru manusia-lah yang banyak membunuh mereka.
Atas nama persepsi, kepentingan dan kemampuan memutarbalikkan fakta tadi.

Dengan merubah persepsi bahwa kalajengking adalah makhluk penyerang, maka mereka menjadi korban empuk manusia.
Kalau pakai bahasa media nih.
Kalajengking itu menjadi korban stigmatisasi, generalisasi, pandangan streotif,  atau seabrek istilah keren yang kita buat hanya untuk mendapatkan pembenaran atas kekejaman kita kepada mereka.  Dahsyat sekali. Pintar sekali.


Manusia selalu berambisi menjadi pemenang atas makhluk bumi lainnya.
Potensi ganasnya justru sangat kentara. Stigmatisasi dan generalisasi menjadi hal yang paling mudah kita buat.
Kita tuh mudah memberi stigma atas orang lain. Kafir, radikal, anti Tuhan, anti Pancasila, pro komunis, pro-khilafah, pro-syariat, dsb. Stigma yang kita buat diarahkan ke hal negatif banget. Sadarkah kita?. Tanpa sadar, kita membuat manusia lain bak kalajengking juga lho.

Apalagi jika dikaitkan dengan kepentingan ekonomi alias duit. Persepsi yang dibuat tadi akan menjadi semakin kuat, mencengkeram dan selalu harus dibenarkan, kalau perlu dipaksa.

Dear friends,,,
Saya tidak sedang membicangkan kepunahan kalajengking jika nanti perburuan makhluk ini jadi  dilakukan. Saya juga tidak sedang membicarakan potensi keuntungan ternak kalajengking yang mungkin akan dilakukan para bupati untuk mendapatkan sumber penghasilan terbarukan.

Apalagi, saya juga tidak akan menyoroti proses politik kita warga negeri ini. Entah itu, Pilpres atau Pilkada. Itu kan hak masing-masing, bukan?.
 
Saya justru sedang membicarakan manusia.
Saya sedang membicarakan kita-kita ini, makhluk cerdas bernama manusia yang karena takut dengan sesuatu, tanpa sadar "menjelma" menjadi makhluk justru sangat menakutkan.

Yes, manusia menjadi sangat menakutkan,
Tidak hanya bagi sesama manusia, namun juga bagi penghuni bumi lainnya. Seperti kalajengking itu.
Fa'tabiru ya ulil absar..

Wallahu a'lam.

Post a Comment

0 Comments