Apapun pembelaan timses mantan PM Malaysia Najib Razak terhadap keberhasilannya memimpin Malaysia, namun apa mau dikata?. Publik Malaysia telah menjatuhkan pilihan.
Yes, mereka memilih Mohathir Muhammad menjadi PM yang baru menggantikan Najib Razak kendati sang PM baru ini cukup sepuh. Seorang kakek yang menjadi PM tertua di dunia. Keren bukan?
Bayangkan, ia telah berumur 92 tahun !! Bukan 29 tahun lho...!.
Betapapun sebagian publik agak sinis mengatakan bahwa kaderisasi kepemimpinan "macet" di negeri jiran ini, namun begitulah yang terjadi. Ia memenangkan kursi parlemen.
Selama kampanye, oposisi Malaysia mungkin dianggap terlalu paranoid, lebay atau provokatif dengan istilah bumiputera atau pribumi, namun itulah fakta yang kita lihat bahwa publik Malaysia sepertinya khawatir sangat lah (Malaysian style) gebrakan Najib Rajak, khususnya dengan membuka keran investasi dari negeri Tiongkok- akan menjadi mimpi buruk bagi pribumi Malaysia.
Dan yang terpenting, publik Malaysia tidak lagi mempercayai PM Najib karena dianggap terlibat skandal megakorupsi 1MDB itu. Meskipun ia dan partai Barisan Nasional menolak.
Kendati Mohathir adalah senior di Barisan Nasional dan Najib Razak adalah "murid politik"nya namun mereka harus mengakui kehebatan sang senior.
Ada hal menarik tentang istilah pribumi di Malaysia sekaligus membedakannya dengan gonjang-ganjing istilah pribumi di Indonesia.
Kalau di Malaysia sih, keberpihakan terhadap pribumi memang menjadi konsern pemerintah. Kendati demikian, gesekan pri dan non pri tidak begitu terasa. Apalagi sampai pada eskalasi yang membahayakan seperti di Indonesia. Biasa saja tuh.
Kalau di negeri kita kan beda.
Istilah pribumi dan non pri menjadi isu yang sensitif. Siapa yang memakai istilah ini maka akan dianggap rasis dan tidak adil. Lihat apa sikap orang dengan pidato Gubernur DKI lalu.
Padahal, seharusnya kita bisa saja belajar dari Malaysia yang berhasil mengharmoniskan berbagai ras yang ada. Tidak hanya dalam bentuk jargon, namun dalam kebijakan ekonomi yang diawasi ketat.
Misalnya, pendidikan gratis, kesehatan gratis, atau akses perbankan yang mudah. Tak heran, jika dalam tempo singkat, kesetaraan ekonomi antara pribumi dan non pribumi terwujud di Malaysia. Tak payahlah....
Saja jadi teringat film Upin dan Ipin lho.
Film ini menggambarkan kemajemukan Malaysia. Ada Upin dan Ipin yang bersuku Melayu. Ada Rajit Singh dari ras India atau Mei-Mei dari etnis Thionghoa. Mereka hidup rukun, bukan?.
Memang sih, tidak enak kalau ada orang yang membanding-bandingkan negeri kita dengan negeri lain. Kita akan marah, apalagi kalau kita berada pada posisi pemegang kebijakan. Namun, itulah kenyataannya. Laporan Oxfam 2018 sebagaimana dirilis Kompas menyebutkan bahwa 1% penduduk Indonesia menguasai setengah dari kekayaan penduduk negeri ini. Mau bilang apalagi?. Apakah ini mau kita tutupi?. Lalu berapa orang dari 1% itu yang pribumi?
Kendati, di negeri kita, kebijakan pro rakyat kecil marak dilakukan, namun beberapa analis menyebutkan bahwa karena kita masih malu-malu memfokuskan pada pribumi, maka beberapa program unggulan pemerintah bisa saja tidak tepat sasaran.
Misalnya, penyaluran kredit mikro atau usaha rakyat itu. Apakah kredit itu benar-benar bisa dinikmati pribumi?. Apakah tidak malah kembali kepada pemilik usaha besar yang notabene telah sangat akrab dengan perbankan?. Siapa yang paling dipercaya mengakses perbankan?
Lalu,
Apakah fenomena negeri Upin dan Ipin bisa memberi efek bagi proses demokrasi Indonesia dalam waku dekat?. Katakanlah, mempengaruhi Pilkada atau Pilpres? Apakah Mohathir Effect ini membahayakan atau menguuntungkan pihak-pihak terkait? ...
Saya kira, bisa saja sih.
Mohathir effect pasti akan dimanfaatkan bagi OPOSISI pemerintah untuk menunjukkan kepada publik bahwa kebijakan ala Tun Najib di Indonesia juga membahayakan dan layak ditinjau ulang.
Misalnya, membuka keran investasi masif dari Tiongkok, kebijakan TKA atau kebijakan pencabutan subsisi serta adanya kenaikan BBM yang tak heboh itu.
Pemerintah harus gencar membuktikan bahwa kebijakan yang dilakukannya menguntungkan masyarakat. Misal, dengan menyatakan bahwa kebijakan investasi Tiongkok kita berbeda dengan Malaysia, atau menyanggah bahwa kebijakan TKA kita tidak pro pribumi. Termasuk membuktikan bahwa kenaikan BBM atau utang negara sekarang ini akan menyelamatkan negara dan tidak berbahaya. Agak berat sih. Soalnya apa yang terjadi di Malaysia sudah terlanjur jadi perbandingan. Jika tidak, bersiaplah melihat hasil Pilpres 2019.
Namun, saya kira, skandal korupsi 1MDB adaah faktor utama kejatuhan PM Najib Razak. bayangkan, trilyunan dana negera ditilep. Akibatnya, kepercayaan publik Malaysia menjadi hilang.
Nah, saya melihat, bahwa kondisi ini berbeda dengan Indonesia. Pemerintah Indonesia masih cukup dipercaya dan konsern dengan pemberantasan korupsi. Sehingga, keberhasilan ini masih bisa dijadikan amunisasi untuk meyakinkan publik bahwa korupsi dan kolusi diberangus di era ini. Jadi, amanlah..
Namun, saya lebih tertarik dengan istiah musuh bersama atau sering disebut common enemy.
Saya hanya mau menggaris bawahi, bahwa seharusnya kita fokus pada
musuh bersama yang lebih luas spektrumnya.
Musuh kita, sebenarnya bukanlah oposisi atau partai lain. Bukan pula timses lain. Sehingga, kita tidak perlu saling pamer jagoan, saling buat istilah peyoratif, saling bully, untuk menyudutkan lawan apalagi fitnah. Toh Mohathir dan Anwar Ibrahim bisa berteman bukan?. Kurang tega apa Mohathir memperlakukan Anwar Ibrahim?.
Kendati demikian, Mohathir tanpa sungkan meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Ia mengakui wajar orang melihat dirinya terlihat dikatator. Ia dan Anwar memang berjiwa besar karena mereka sepakat melihat ada musuh yang jauh lebih besar dan nyata.
Seharusnya, musuh bersama kita adalah kesenjangan ekonomi, kezaliman, kemiskinan, kebodohan, sikap egois atas nama apa saja dan permusuhan kepada ajaran Tuhan.
Sehingga, seharusnya, jika ada warga negeri ini menyatakan bahwa ia sedang berjuang melwan musuh ini, mengapa pula harus dicemooh dan di-bully habis-habisan?. Masihkah kita berseteru padahal umur dunia sudah berada pada akhirnya? :)
Bravo untuk Mohathir Muhammad, Bravo untuk Malaysia.
Doakan negeri kami Indonesia ya......amin


0 Comments