Ticker

6/recent/ticker-posts

Jangan Heran !!! Level Keadaban Kita Memang Rendah

By: M. Ridwan



Berita aksi rebutan sembako berujung maut, terjadi lagi.
Tragisnya, kali ini terjadi di jantung Ibukota negeri ini, Jakarta. Tepatnya di Monas, yang tidak jauh dari istana Presiden. Miris sekali.

Tulisan ini tentu tidak akan masuk ke pembahasan "siapa salah", apalagi tentang "siapa benar". Soalnya, kalau urusan mencari pembenaran, manusia Jaman Now adalah ahlinya. Wong, bumi saja bisa dibilang datar kok..

Saya juga tidak akan menariknya ke dalam perdebatan politik yang sangat tidak sehat akhir-akhir ini.  Katanya, politik suka mencari kambing hitam. Ngeri...
Lagipula, sudah banyak yang ahli dalam ranah itu. Kita baca saja analisis mereka. Pasti seru dan lucu-lucu.

Saya cuma mau katakan. 
Beginilah level "keadaban" kita. Keadaban artinya kecerdasan lahir batin. Bukan sekedar budi pekerti yang tampak. Keadaban itu high character. Karakter tingkat tinggi. Holistik. Tidak sekedar ucapan namun juga praktik. Munculnya dari hati, produk kebiasaan berpuluh tahun.

Kadar keadaban inilah yang menentukan bagaimana kita memperlakukan manusia. Termasuk, menjawab mengapa manusia berprilaku ini dan itu.

Jangan-jangan, level keadaban masih rendah, lho.
Buktinya,,banyak warga negeri ini masih suka melihat manusia berebut sembako, mempertaruhkan nyawanya. Sama seperti ikan mas koki di rumah saya, yang berebut pakan setiap pagi, dan dipelototi oleh Neja, bocah 4 bulan yang senang dengan aksi rebutan itu. 

"Nak, ternyata, orang dewasapun paling suka melihat orang rebutan". 

Bayangkan, kalau yang berebut itu adalah keluarga kita. Tegakah kita melihat bocah tak berdosa meregang nyawa demi sembako yang masih menjadi senjata penarik minat?

Jangan-jangan, level keadaban kita memang begitu rendahnya,

Ketika negeri lain, memikirkan bagaimana cara ke luar angkasa dengan roket ala SpaceX, menaklukkan samudera dan membedah bumi, mendesain artifial intelligence, ternyata kita, masih suka melihat orang berderai airmata, berebut "kebaikan" dari kita yang katanya sangat dermawan ini.  Padahal, sebagian harta mereka mungkin berada di tangan kita.

Level keadaban berada pada titik nadir.

Kendati menginjak medio 2018, kesadaran warga tentang kebersihan masih sangat rendah. Lihat, betapa kotornya kali dan got negeri ini. Lihat pula, prilaku pengendara yang gemar membuang sampah, ugal-ugalan dan tidak patuh aturan. Tanpa merasa berdosa.

Mau lihat kondisi yang lebih high class?
Lihat tingkah kita ketika berdemokrasi. Entah itu Pilkada atau Pilpres, sama saja.

Kendati kata orang, adalah normal menggunakan berbagai trik bahkan tipuan untuk memenangkan calon, namun tetap saja, level keadaban lah yang sangat mempengaruhi tingkah berpolitik kita.

Kalau keadaban kita rendah, maka rendah pula kualitas prilaku politik kita.
Prilaku politiknya memakai kata semau gue. Asal menang, maka hebat. Asal menjabat sudah pasti negarawan. Asal kaya, hantam saja. Konsep dari mana itu?

Politik rendahan itu memakai pola Machievelli. Yaitu tujuan menghalalkan segala cara. Ini teori politik rendahan ala atheis. Namun, anehnya sangat digemari. Mengapa? Karena manusia sangat terbiasa menganggap kesucian dan kejujuran adalah prilaku rendahan. Kebenaran bisa dijengkali, dianggap gak keren dan tak membuat terhormat.

Ada yang stress dengan kondisi para pemimpin kita.?

Jangan heran, level keadaban kita baru mampu menghasilkan para pemimpin seperti itu kok. 
Jangan heran, jika kandidat pemimpin yang ada pun cuma segelintir saja. Entah kemana yang lainnya. Kata orang Jakarta, "Lue lagi, lue lagi". Tapi, gimana lagi? 

Keadaban yang rendahlah yang menyebabkan kita pun tidak suka dengan pemimpin yang idealis. Mungkin kita akan berkata, "Anda terlalu banyak teori, Mas. Kami lebih suka pemimpin yang jago orasi, tebar pesona dan pintar bicara ketika kampanye.

Kata ustaz nih..
Kalau semua prilaku kita membuat posisi kita di hadapan Tuhan menjadi rendah, maka prilaku itu adalah prilaku rendahan, kendati hebat pada pandangan manusia.  Tak ada yang bisa dibanggakan. Malu-maluin saja. 
Bahkan ia menjadi sampah di hadapan Tuhan dan menjadi alasan Tuhan mencampakkan kita ke neraka. Nauzubillah. 

Sayangnya, keadaban itu tidak linear dengan tingkat pendidikan, seabrek pengalaman atau titel.

Jangan dikira, orang berpendidikan tinggi lantas menjadi beradab. Tunggu dulu. 

Setahu saya, orang yang pintar justru paling mahir bermain kata, merubah mimik muka, intonasi nada dan menuliskan aksara kata.

Yang pintar bertengkar itu biasanya para cerdik cendikia, bukan?

Lihat saja tingkah kita di media sosial ini.
Siapa yang paling pintar menyebar gosip, fitnah, bodoh membodohi dan memprovokasi orang lain, bukankah kebanyakan mereka adalah orang pintar? Setahu saja, wong ndeso gak bakalan mampu melakukan aksi "tingkat tinggi" seperti itu.

Orang bilang, high conflict, ya pakai high politics. Padahal, betapapun bagusnya kata dirangkai, mempesona dunia, namun tetap saja kualitasnya rendah di mata Tuhan, kalau memakai cara-cara aneh dan niatnya busuk dan kotor. 

Makanya...
Berdoa saja, moga, ketika "keadaban" rendah itu kita praktikkan, malaikat Izrail tidak sedang mencabut nyawa ini. Berdoalah, ketika kita melakukan segala kerendahan adab itu, pintu taubat masih terbuka. 
Sehingga ketika mati nanti, dampak dari kerendahan adab itu tidak menjadi dosa yang mengalir ke dalam kubur kita. Itu kerugian besar. Tak ada gunanya menjadi jabatan seorang presiden sekalipun.

Saya ngeri membayangkannya.
Jangan-jangan, tulisan inipun tanpa disadari adalah manifestasi dari kerendahan adab diri saya sendiri. Siapa tahu? Afwan.

Wallahu a'lam.


Post a Comment

0 Comments