Posts

November, 4, 2016: Ketika Alquran Menarik Jiwa Anak Negeri

Image
By: M. Ridwan Demo 4 November kemarin akhirnya terjadi juga. Kisah ini tentunya sudah tercatat di Lauhil Mahfuz. Itu takdir negeri hijau bernama Indonesia ini dan tentunya menjadi bagian dari cerita kehidupan anak negeri, siapapun dia, bukan hanya untuk Ahok atau Jokowi. Bagi sebagian besar warga muslim negeri ini, demo kemarin tentunya bisa menjadi momentum untuk kembali kepada ajaran Alquran. Ada energi Alquran yang harus digali dan dimiliki. Ada kekuatan ukhuwah Islamiyah yang harus dipupuk dan ditata kembali. Kekuatan ini ternyata sangat besar dan tersembunyi. Dan, demo kemarin tentunya hanyalah sebagian kecil kekuatan yang ditunjukkan. Namun, kita juga mafhum jika tidak semua orang paham apa yang terjadi. Tidak semua orang tahu apa itu tafsir, termasuk memahami apa isi al-Maidah ayat 51 itu. Wong, membaca Alquran saja terbilang jarang dilakukan dan tertatih-tatih. Konon pula memahami tafsirnya :). Makanya, kita juga tidak heran bila banyak orang yang bengong, me...

The Beauty of Islam: Menjadi Penyembuh Umat

Image
By: M. Ridwan Pengajian subuh Minggu kemarin, diisi oleh ustaz Zulkarnain. Ustaz yang kaya ilmu ini menyetir sebuah hadis nabi tentang kehebatan orang mukmin.  Bunyi hadisnya, "Orang mukmin itu seperti satu tubuh dalam kasih sayang. Jika ada satu anggota tubuh yang sakit, maka anggota tubuh yang lain ikut merasakannya dengan tidak tidur dan demam". Saya kira, kita sudah sering mendengar hadis ini. Mungkin sejak SD sampai kini. Tapi, subuh tadi, pesan hadis ini begitu merasuk di hati. Setidaknya begitu yang kami akui. Diskusi tadi pagi berkembang. Dimulai oleh ustaz Zul seputar prihal tubuh yang sakit.  Katakanlah, suatu ketika kaki menginjak paku atau kaca. Luka dan berdarah. Apakah reaksi tubuh lainnya?. Tangan akan memegang kaki yang berdarah. Mata akan memastikan langkah kaki yang lain untuk menuju rumah sakit. Mulut dan lidah menghibur dan pikiran dan hati akan mengarahkan semua panca indera lain memikirkan hal terbaik untuk menyembuhkannya. Men...

Seandainya Di Surga Ada Pilkasu, Gimana Ya?

Image
By: M. Ridwan Pilkasu itu singkatan dari Pemilihan Ketua Surga. Ini istilah sangat khayali. Imajinasi lintas dimensi. Seandainya nih, di surga nanti, Tuhan meniupkan kembali nafsu berkuasa kepada penghuninya, maka saya kira, hal yang pertama kali dilakukan penghuninya adalah mengadakan Pilkasu bukan? "Harus ada kejelasan nih, siapa yang memimpin kita," mungkin ini kata penghuni surga Darussalam. "Ketua surga harus dari kita. Surga kita adalah kategori tertinggi" usul penghuni Firdaus. Maklum, Firdaus itu berada di bawah Arasy. Yang berbahaya, sekiranya penghuni neraka diikutsertakan. Pastilah mereka bersorak-sorai menunjuk pemimpin untuk menyalurkan aspirasi ke-neraka-an mereka. "Kita ingin siksaan diringankan. Kita ingin amnesty dan keadilan, mungkin demikian permintaan mereka.  Apalagi, jika mereka diikutsertakan mengikuti Pilkasu. Pastilah kebahagiaan mereka semakin mendalam. Siapa sih yang tidak tertarik dengan kekuasaan memimpin surga ya...

Digital Sufism: Orang-Orang "Cerdas dan Mencerdaskan" di Era Digital

Image
By: M. Ridwan Orang cerdas (smart) itu biasanya dibedakan dengan orang pintar ( clever ). Cerdas lebih dimaksud dengan orang yang memliki kemampuan melihat sesuatu dari sudut yang berbeda, sedangkan pintar lebih diidentikkan dengan bidang akademis. Makanya ada yang membedakan antara smart work vs hard work . Kerja cerdas dan kerja keras. Maksudnya, orang yang bekerja keras belum tentu bisa menghasilkan lebih banyak dari orang yang bekerja keras. Orang cerdas itu kemungkinan besar pintar namun orang pintar belum tentu cerdas. Biasanya orang cerdas dianggap menggunakan otak kanan, berpikirnya leteral dan unik. Sedangkan orang pintar biasanya dianggap berpikir dengan dominan otak kiri dan tekstual. Kendati saya tidak terlalu ambil pusing dengan perbedaan tersebut, tapi kali ini tidak apa-apalah. Kita bedakan saja ya. Jadi kita sepakat bahwa orang cerdas berbeda dengan orang orang pintar. Anda silahkan pilih yang mana suka. :) Namun, kata "cerdas" di tulisan ini saya maksu...

Mengawal Spiritualitas Para Pemimpin

Image
By: M. Ridwan Ini tugas berat. Siapa yang berani mengawal spiritualitas para calon pemimpin yang akan berkompetisi di ajang pilkada ataupun pil-pil lainnya?. Kalau untuk mengawal survey, kesehatan dan finansial mereka, mungkin sudah banyak yang melakukan. Tapi ini, mengawal spiritual, siapa yang sanggup?. Spiritual yang saya maksud adalah kejernihan dan ketulusan hati sesuai dengan bisikan Tuhan, bukan spiritual dalam arti percaya kepada dukun, demit, jin dan roh-roh sebagai pembantu. Ini namanya syirik. Bukan apa-apa sih. Hati itu bolak-balik bukan?. Janji manis yang diucap ketika kampanye pasti akan "kesulitan bersaing" dengan ribuan kepentingan yang akan menyerang seorang pemimpin atau penguasa ketika nanti berkuasa. Biasanya kepentingan bisnis alias fulus. Makanya, pemimpin atau penguasa harus dikawal secara spiritual. Tanpa itu mereka akan berpotensi menyimpang dan lari dari jalur. Ya, secara hukum dan peraturan, pengawalan bisa dilakukan untuk mem...

Sufis Without Sufism or Sufism Without Sufis?

Image
By: M. Ridwan Arti judul di atas kira-kira begini. Sufi tanpa Sufisme atau Sufisme tanpa Sufi. Sengaja dibuat untuk terkait diskusi kami di FB beberapa hari ini. Sufi adalah istilah yang ditujukan kepada orang-orang yang berupaya membersihkan hatinya dari kotoran-kotoran dosa, baik dosa kecil apalagi dosa besat. Bahkan, hal-hal yang meragukan-pun (syubhat) ditinggalkan. Dalam sejarah, tokoh sufi sudah banyak dikisahkan, tercatat dan dipelajari. Ada sufi yang yang kemudian memiliki tarekat (sebutan untuk komunitas pembelajaran teknis pembersihan hati) dan ada juga sufi yang tidak memiliki tarekat. Sufi yang terakhir ini juga kadang tidak diketahui keberadaannya. Soalnya, masalah hati siapa yang tahu, bukan? Terkait sufi dan ajarannya, ada komunitas yang menolaknya. Argumen yang mereka sampaikan bahwa ajaran sufi ini tidak ada di jaman nabi. Beberapa praktik yang dilakukan para sufi atau tarekat dianggap menyimpang dari tidak ada panduan dari Alquran dan hadis. Untuk kelompok...

Andaikan Sam Poo Kong Ada Di Jakarta

Image
By: M. Ridwan Siapa yang pernah ke Semarang, silahkan mampir mengunjungi kelenteng Sam Poo Kong. Saya pernah sekali ke sana. Ternyata  patung itu didekasikan untuk mengenang Laksama Chengho. Salah seorang panglima perang ternama negeri Tiongkok. Sam Poo Kong adalah nama lain dari Chengho. Laksama Chengho berasal dari China Selatan, tepatnya di Propinsi Yunan. Ia muslim yang taat dan sudah naik haji. Sosoknya berwibawa, tegas dan arif bijaksana. Kaisar China mempercayakannya menjadi salah seorang panglima perang terkemuka saat itu. Dengan ratusan kapal layar dan diiringi pengikutnya yang setia, ia datang ke tanah Nusantara sekitar tahun 1406-1416. Pasai, Palembang dan Tanah Jawa, termasuk kawasan Tanjung Priok dan Ancol pernah dikunjunginya sebelum berakhir di Semarang. Ekspedisinya bertujuan damai, perdagangan dan persaudaraan. Beda sekali dengan misi VOC yang memang mau melakukan kolonialisasi. Setiap daerah yang disinggahinya menjadi semarak dan berkembang. Ten...