Ticker

6/recent/ticker-posts

Andaikan Sam Poo Kong Ada Di Jakarta

By: M. Ridwan

Siapa yang pernah ke Semarang, silahkan mampir mengunjungi kelenteng Sam Poo Kong. Saya pernah sekali ke sana. Ternyata  patung itu didekasikan untuk mengenang Laksama Chengho. Salah seorang panglima perang ternama negeri Tiongkok. Sam Poo Kong adalah nama lain dari Chengho.

Laksama Chengho berasal dari China Selatan, tepatnya di Propinsi Yunan. Ia muslim yang taat dan sudah naik haji. Sosoknya berwibawa, tegas dan arif bijaksana. Kaisar China mempercayakannya menjadi salah seorang panglima perang terkemuka saat itu.

Dengan ratusan kapal layar dan diiringi pengikutnya yang setia, ia datang ke tanah Nusantara sekitar tahun 1406-1416. Pasai, Palembang dan Tanah Jawa, termasuk kawasan Tanjung Priok dan Ancol pernah dikunjunginya sebelum berakhir di Semarang.

Ekspedisinya bertujuan damai, perdagangan dan persaudaraan. Beda sekali dengan misi VOC yang memang mau melakukan kolonialisasi. Setiap daerah yang disinggahinya menjadi semarak dan berkembang. Tentu saja, agama Islam juga tersebar. Dia berhasil memikat penduduk setempat yang kemudian juga banyak menjalin hubungan pernikahan dengan para delegasinya. Tak heran, jika Laksama Chengho dikagumi banyak orang dari abad ke abad dan namanya diabadikan dalam sejarah Islam tanah air.

Namun, misinya di Semarang lebih banyak, yaitu dilakukan sebanyak dua kali yaitu tahun 1406 dan 1415 M. Makanya, patung Sam Poo Kong dibangun di Semarang, untuk mengenangnya. Dengar-dengar, ada yang mengkultuskan patung ini. 

Bahkan dari info yang saya baca bahwa etnis Thionghoa non muslim banyak mengagumi dan berziarah ke  patung ini. Katanya, banyak yang hajatnya dikabulkan di sini. Wah, wah, mau ambil berkah juga.

Memang, pasukan Chengho sempat mampir di Jakarta, namun hanya sebentar. Makanya, setahu saya, jejak Chengho tidak begitu terlihat di Jakarta.
 
Nah, kalau seandainya dulu dia melabuh-akhirkan pasukannya di Batavia atau Sunda Kelapa serta lebih lama berinteraksi dengan penduduk setempat, maka dipastikan patung Sam Poo Kong akan berdiri di Jakarta. Mungkin di Ancol, Sunda Kelapa atau Glodok ya?. Tapi, sejarah tidak bisa diulang, bukan?

Memangnya, kenapa kalau Sam Poo Kong ada di Jakarta? Bagaimana kalau Chengho menetap lama di Jayakarta saat itu?

Efeknya pasti ada. Misal, orang akan semakin tahu bahwa etnis Tionghoa memang tidak bisa dipisahkan dari keberadaan Islam Nusantara. Sehingga, yang mengaku muslim, tidak lagi memandang sebelah mata. Atau, yang merasa Tionghoa juga seharusnya tidak risih dengan Islam. Benar bukan?

Sejak 600 tahun lalu, etnis Tionghoa sangat berkontribusi bagi terbentuknya karakter muslim bangsa ini. Berterima kasihlah dan jangan sepelekan Tionghoa. Keberadaan mereka punya andil yang sama dengan para penyebar Islam dari Hadramaut, India dan Parsi, bukan?. 

Termasuk pula, jika Anda beretnis Tionghoa, yakinkan diri bahwa Islam juga bagian dari Tiongkok dan da'i Islam Nusantara aberasal dari negeri Tirai Bambu ini. Banggalah.

Makanya, saya miris melihat kondisi saat ini yang seolah ingin membenturkan keberadaan Tionghoa dengan pribumi. Ini jelas salah kaprah. Termasuk jika ada orang, dari etnis apa saja, yang masih menganggap mereka bukan bagian dari negeri ini. Sehingga masih merasa outgroup. Dikit-dikit melapor ke luar negeri, dikit-dikit kabur dan happy-happy di negeri asal. Untuk mereka ini, silahkan saja cari negeri lain, bukan?

Akhir-akhir ini, saya menerima banyak BC. Ada yang berbau provokasi dan ada juga yang arif bijaksana menyikapi pilkada DKI. Kendati saya bukan warga DKI tapi pesta demokrasi di propinsi ini memang pilkada gubernur tapi ber "cita rasa pilpres".

Syukurlah, negeri inipun terbiasa menerima keragaman. Masyarakat kita tidak mudah panas hati, asal memang jangan dipanas-panasi. Konflik SARA itu memang pernah terjadi, tapi biasanya karena ada yang sengaja memprovokasi. Kasus 1998 adalah cerita buruk yang jangan diulang kembali. Kasihan negeri ini, terutama etnis Thionghoa yang tak berdosa saat itu.

Orang mengatakan bahwa karakter etnis Thionghoa itu ulet dan gigih. Ada buku tentang hal itu. Judulnya " Rahasia Bisnis Orang China". Bukunya bagus dan saya setuju.

Kendati sebenarnya semua etnis di negeri inipun berkarakter yang sama. Lihat saja, etnis pribumi, misal Aceh, Padang atau Bugis. Termasuk juga para santri dan kyai di tanah Jawa. Semuanya jago dagang, pintar bisnis. Tinggal lagi, apakah ada keberpihakan atau tidak.

Makanya, saya tidak setuju jika suatu karakter itu dianggap dominan pada satu etnis saja. Toh, semuanya makhluk ciptaan Tuhan. Tapi, masalahnya mungkin image nya sudah kadung terbangun untuk satu etnis yang dianggap lebih inferior.

Adalah fakta kini bahwa etnis Thionghoa negeri ini banyak yang berhasil memiliki pundi-pundi kekayaan. Lihat, siapa saja taipan dan konglomerat tajir terkenal di Indonesia, banyak didominasi etnis Thionghoa.
Tapi, jangan cemburu. Tuhan akan memberikan dunia kepada siapa yang berupaya mengejarnya. Saudara-saudara kita dari etnis Thionghoa berhasil menggapai sifat rahmanNya Tuhan. Siapa yang bekerja keras pasti akan mendapat.

Nah, berkaitan dengan Tuhan. Laksama Chengho adalah muslim tulen. Dia meyakini Allah itu Esa. Tapi, dia tidak pernah melakukan penindasan atas nama agama kepada pasukannya dan penduduk setempat.

Sebabnya apa?
Ya jelaslah, Islam itu agama damai. Tidak ada teks Alquran yang menyuruh kita membunuh orang kafir atau berjihad tanpa ada sebab musababnya. Kecuali, jika ayat Alqurannya dipelintir.
Laksamana Chengho pasti tidak berani melakukan itu karena dia muslim sejati. Dia tidak akan berani mengatakan bahwa ayat Alquran itu bisa dipakai untuk membodoh-bodohi orang. Bisa kena murka dari Tuhan nantinya. :)

Kalaulah Chengho saat itu lama menetap di Jakarta, maka saya yakin saat ini akan banyak keturunannya yang menjadi tokoh agama, pemimpin dan pengusaha sukses.

Dan, bukan tidak mungkin pula dari keturunannya akan lahir seorang gubernur DKI saat ini. Wah, pasti keren tuh. Saya yakin, Gubernur keturunan Chengho ini pasti pintar baca Alquran, jago bisnis, tegas namun lembut dan santun kepada rakyatnya. Tidak asal main gusur dan suka semprot sana sini ya?. Hehe...Apakah saya tidak berlebihan?  Hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi di Jakarta. Semoga semakin membaik adanya. Wallahu a'lam.

Post a Comment

0 Comments