By: M. Ridwan
Pengajian subuh Minggu kemarin, diisi oleh ustaz Zulkarnain. Ustaz yang kaya ilmu ini menyetir sebuah hadis nabi tentang kehebatan orang mukmin.
Bunyi hadisnya, "Orang mukmin itu seperti satu tubuh dalam kasih sayang. Jika ada satu anggota tubuh yang sakit, maka anggota tubuh yang lain ikut merasakannya dengan tidak tidur dan demam".
Saya kira, kita sudah sering mendengar hadis ini. Mungkin sejak SD sampai kini. Tapi, subuh tadi, pesan hadis ini begitu merasuk di hati. Setidaknya begitu yang kami akui. Diskusi tadi pagi berkembang. Dimulai oleh ustaz Zul seputar prihal tubuh yang sakit.
Katakanlah, suatu ketika kaki menginjak paku atau kaca. Luka dan berdarah. Apakah reaksi tubuh lainnya?.
Tangan akan memegang kaki yang berdarah. Mata akan memastikan langkah kaki yang lain untuk menuju rumah sakit. Mulut dan lidah menghibur dan pikiran dan hati akan mengarahkan semua panca indera lain memikirkan hal terbaik untuk menyembuhkannya.
Menariknya, kaki yang terluka akan mempercayakan "sahabatnya" (anggota tubuh yang lain) untuk memikirkan kesembuhnnya. Tidak ada komplain dari si kaki, misalnya dengan menyalahkan mata yang tidak awas memperhatikan jalanan atau menyalahkan tangan yang dianggap enak-enak bergoyang sementara ia menanggung risiko diinjak dan berada di bawah. Tidak pernah sama sekali, bukan?.
Ketika kaki sakit, maka semua anggota tubuh ikut menanggung derita dan serta rela berkorban demi proses kesembuhan itu. Semua indera menjalankan fungsinya dengan baik demi nasib "sahabat" yang sedang berduka.
Demikianlah seharusnya umat ini. Kita harus saling menanggung derita, empati terhadap sakit dan kepedihan saudara seakidah. Namun, hanya seorang muslim yang mukminlah yang bisa melakukan itu. Tidak sekedar muslim.
Mengapa dibedakan?
Label seorang muslim akan mudah didapat dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun seorang mukmin membutuhkan pembuktian dengan perbuatan. Tidak bisa hanya manis di bibir, tapi juga butuh keikhlasan dan ketulusan dari dalam hati.
Saat ini, umat kita banyak yang menderita sakit. Entah itu sakit beneran atau sakit mental dan ruhani. Kalau tidak sakit, maka tentu problem umat tidak sebanyak kini. Nah, jika kita sepakat bahwa umat ini sedang sakit, maka apa yang dilakukan oleh tubuh di atas harus kita lakukan.
Kita harus rela menjadi kaki, tangan, mata, kepala dan hati umat. Kita harus saling percaya dan berkorban. Kita harus memupuk persahabatan kendati tanpa keuntungan materi. Kita harus peka melihat saudara yang berada dalam kesusahan.
Tapi, hanya orang beriman tinggi yang mampu melakukannya. Semakin tinggi iman maka seharusnya kita semakin saling mencintai dan saling bahu membahu.
Maka terkadang, kita miris nih ketika melihat banyak muslim tetapi mungkin tidak mukmin ya. Berantem terus...
Betul analisis bg Junaidi Lubis itu. Satu persatu ulama pewaris nabi di negeri ini gugur dan tersapu gelombang politis. Aa Gym, Quraish Sihab, Buya Syafii Maarif, dll.
Siapa menyusul.?. Atau kita mau ikut serta menyspu mereka?
Pilkada silih berganti, selesai dan terus ada, namun marwah ulama tak tergantikan.
Melahirkan seorang ulama itu biaya dan investasi sosial dan agama kita mahal. Menghancurknnya hanya dalam hitungan hari.
Dahsyat analisis abg ini...setuju...
Mudah2an jgn ada korban kyai atau ulama yg lain gara gara segelintir kepentingan yg katanya politis itu. Mari menjadi "penyembuh umat, sebagaimana hadis di atas. Mari pula kita bantu sesama muslim yangsaat ini benar-benar sakit dan dirawat di Rumah Sakit. Berat sama dijinjing, ribgan sama dipikul. Buktikan iman kita, bro....:)
Moga kita segera "disembuhkan" oleh Allah. Amin


0 Comments