Ticker

6/recent/ticker-posts

Digital Sufism: Orang-Orang "Cerdas dan Mencerdaskan" di Era Digital

By: M. Ridwan


Orang cerdas (smart) itu biasanya dibedakan dengan orang pintar (clever). Cerdas lebih dimaksud dengan orang yang memliki kemampuan melihat sesuatu dari sudut yang berbeda, sedangkan pintar lebih diidentikkan dengan bidang akademis. Makanya ada yang membedakan antara smart work vs hard work. Kerja cerdas dan kerja keras. Maksudnya, orang yang bekerja keras belum tentu bisa menghasilkan lebih banyak dari orang yang bekerja keras. Orang cerdas itu kemungkinan besar pintar namun orang pintar belum tentu cerdas. Biasanya orang cerdas dianggap menggunakan otak kanan, berpikirnya leteral dan unik. Sedangkan orang pintar biasanya dianggap berpikir dengan dominan otak kiri dan tekstual.

Kendati saya tidak terlalu ambil pusing dengan perbedaan tersebut, tapi kali ini tidak apa-apalah. Kita bedakan saja ya. Jadi kita sepakat bahwa orang cerdas berbeda dengan orang orang pintar. Anda silahkan pilih yang mana suka. :)

Namun, kata "cerdas" di tulisan ini saya maksudkan untuk orang-orang yang begitu aktif memanfaatkan perkembangan teknologi digital untuk sharing kebaikan dan memposting berbagai hal yang bermanfaat bagi masyarakat dengan menggunakan sarana digital.

Saya menyebut mereka cerdas karena selalu saja ada hal-hal unik dan menarik yang mereka sajikan. Mereka memberikan sesuatu yang baru, inovatif, fresh dan tentunya menggairahkan ruhani.
Mereka menjadi penawar dahaga spiritualitas manusia di era modern. Banyak sekali postingan, boradcasting, maupun meme yang membuat hati ini menjadi membuncah, bahagia dan tersadarkan. Tak jarang iman kita juga bertambah karenanya, bukan?.

Di beberapa tulisan dahulu, saya menyebutkan bahwa terkadang kita tidak habis pikir melihat manusia yang cerdas-cerdas ini berkreasi dan melakukan inovasi teknik "dakwah" kebaikan. Entah kapan mereka menulis dan mendesain sebuah posting, meme atau video. Salut dan kagum.

Saya katakan mereka cerdas karena sepertinya mereka sesuai dengan hadis Nabi di bawah ini.

" الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت والعاجز من اتبع نفسه هواها وتمنى على الله الأماني

Terjemahan bebasnya kurang lebih begini:
"Orang cerdas itu adalah orang yang selalu memperhitungkan amalan dirinya dan selalu berbuat dan berorientasi untuk kehidupan sesudah kematian, sedangkan orang lemah/bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya namun berangan-angan untuk dekat dengan Allah". (HR. Tirmizi)

Nah, berdasarkan hadis ini, maka saya berani mengatakan bahwa orang-orang yang selalu mengirimi saya berbagai hal kebaikan melalui media sosial, meme, foto dan tausiyah berbau inspirasi atau dakwah sebagai orang cerdas di era digital. Saya tidak mengenal mereka, dan tidak pernah bertatap muka dengan si pengirim atau pembuatnya. Mereka cerdas memanfaatkan media digital sebagai sarana dakwah dan kebaikan. Investor dunia akhirat yang ulung

Sebaliknya, ada juga orang yang terlalu aktif mengirim berbagai postingan, meme, status atau foto dan video yang menyebabkan manusia lain menjadi gundah, resah atau kehilangan semangat spiritualnya. Provokatif dan fitnah. Tak jika kita memyebut mereka sebagai "orang bodoh/lemah" versi hadis nabi tadi bukan?  :)

Memang, kita hidup di jaman yang mudah terombang-ambing. Media digital dan cetak bisa saja berperan ganda. Menjadi pisau Iblis di satu sisi dan pena malaikat di sisi lain. Menjadi etalase setan di satu sudut atau "etalase Tuhan" di sudut lain.

Memang, mencukupkan media digital sebagai satu-satunya sarana memperkuat ruhani tentu bukanlah pilihan yang tepat. Apalagi sebagai sarana utama untuk mendaki jalan menuju Tuhan. Tapi, siapa tahu juga?. Soalnya setiap jaman atau masa memiliki "penanda atau ikon" sendiri. Dengan penanda itu, biasanya ruhani dan spiritual bisa masuk dari sisi itu. Dulu, di era ketika manusia lebih dominan mengamati hamparan padang pasir nan gersang, atau lautan luas dan bumi membentang, banyak sufi lahir dan bermunculan. Maka saya kira tidak berlebihan pula, jika di era digital dan hamparan "lautan informasi" dan "hutan data digital",  para sufi digital juga bisa saja bermunculan, bukan?. Saya menyebutnya digital sufism.

Tapi, saya tidak bermaksud "merendahkan" makna sufisme atau kalangan sufi yang sering kita baca dalam sejarah. Sama sekali saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa kita tidak memerlukan karya-karya monumental yang mereka hasilkan. Tentu saja, merujuk kepada karya dan pengalaman spiritual mereka menjadi hal penting yang harus kita lakukan jika ingin mengenal jalan yang mereka tempuh. 

Konsern saya bahwa apapun fenomena dunia, baik nyata, non nyata, analog maupun digital tentu bisa menjadi kawah dan dapur terbangunnya nilai-nilai spiritual dan sufistik.

Namun, tentunya, ada satu hal yang perlu diantisipasi. Tidak lain adalah aktifitas berupa kesibukan digital saat ini. Waktu yang tersita dan tercerabutnya nilai-nilai sosial dan keakraban yang terbangun. Makanya ada yang menyatakan bahwa media sosial itu mendekatkan yang jauh namun menjauhkan yang dekat. Soalnya semua sibuk mempeloti gadget sih. Lucu dan benar juga ya?

Makanya, tak salah saya menyebut bahwa era digital itu menawarkan berbagai jawaban atas imajinasi kita. Menawarkan harapan akan sebuah impian dan namun bisa menjadi pelarian dari berbagai masalah kita di dunia nyata. Jika yang terakhir ini terjadi, maka bersiaplah menghapi rasa keterasingan. Alienasi dan kehampaan spiritual pula. Wallahu a'lam. Selamat menyambut hari Jumat.

Post a Comment

0 Comments