Ticker

6/recent/ticker-posts

Mengawal Spiritualitas Para Pemimpin

By: M. Ridwan

Ini tugas berat. Siapa yang berani mengawal spiritualitas para calon pemimpin yang akan berkompetisi di ajang pilkada ataupun pil-pil lainnya?.

Kalau untuk mengawal survey, kesehatan dan finansial mereka, mungkin sudah banyak yang melakukan. Tapi ini, mengawal spiritual, siapa yang sanggup?. Spiritual yang saya maksud adalah kejernihan dan ketulusan hati sesuai dengan bisikan Tuhan, bukan spiritual dalam arti percaya kepada dukun, demit, jin dan roh-roh sebagai pembantu. Ini namanya syirik.

Bukan apa-apa sih. Hati itu bolak-balik bukan?. Janji manis yang diucap ketika kampanye pasti akan "kesulitan bersaing" dengan ribuan kepentingan yang akan menyerang seorang pemimpin atau penguasa ketika nanti berkuasa. Biasanya kepentingan bisnis alias fulus.

Makanya, pemimpin atau penguasa harus dikawal secara spiritual. Tanpa itu mereka akan berpotensi menyimpang dan lari dari jalur.

Ya, secara hukum dan peraturan, pengawalan bisa dilakukan untuk memastikan bahwa seorang penguasa tidak akan menyalahgunakan kekuasaannya. Misal, menerapkan berbagai peraturan ketat seperti UU anti rasuah, pelaporan kekayaan, dan peraturan ketat lainnnya.

Namun, spiritualitas tidak sekedar itu. Spiritualitas juga menghendaki ketulusan dan keikhlasan. Ia harus ditampilkan dalam sikap rendah hati dan kelembutan. Cerdas tapi tidak "mintarin" orang. Bukankah repot, kalau seorang penguasa menjadi tidak ikhlas dan tulus, siapa yang bisa menasehatinya?

Makanya, saya setuju dengan pendapat bahwa seorang penguasa atau peminpin tanpa ada bimbingan agama (Tuhan) akan mudah tergelincir, apalagi para penguasa yang tidak memiliki sandaran tauhid dan nilai-nilai agama yang benar. Ia bisa "keluyuran" dan nabrak sana-sini.
Aneh bukan, jika ada timses dan calon penguasa yang percaya dukun, takhyul dan menghindar dari agama?. 

Bukankah naif, jika niat yang mendasari seseorang menjadi penguasa adalah untuk unjuk kehebatan dan keakuan diri dan kelompok? Sehingga main sikut sana-sini?

Dan, lucu bangetlah, jika niat awal menjadi penguasa adalah menjadi ladang amal, namun dalam perjalanan waktu, tampuk kekuasaan justru menjadi ladang ranjau akhirat?
Lantas, gimana mengawal mereka ya? Ini pekerjaan sulit. Yang bisa mengawal tentulah Tuhan dan niat hati mereka sendiri. 

Kita hanya bisa berdoa, bro. Moga kitapun punya kemampuan dan diberi hidayah oleh Tuhan untuk memilih pemimpin yang spiritualis, rendah hati, lembut, tegas dan cinta kepada rakyatnya. Wallahu a'lam.

Post a Comment

0 Comments