By: M. Ridwan
Demo 4 November kemarin akhirnya terjadi juga. Kisah ini tentunya sudah tercatat di Lauhil Mahfuz. Itu takdir negeri hijau bernama Indonesia ini dan tentunya menjadi bagian dari cerita kehidupan anak negeri, siapapun dia, bukan hanya untuk Ahok atau Jokowi.
Bagi sebagian besar warga muslim negeri ini, demo kemarin tentunya bisa menjadi momentum untuk kembali kepada ajaran Alquran. Ada energi Alquran yang harus digali dan dimiliki. Ada kekuatan ukhuwah Islamiyah yang harus dipupuk dan ditata kembali. Kekuatan ini ternyata sangat besar dan tersembunyi. Dan, demo kemarin tentunya hanyalah sebagian kecil kekuatan yang ditunjukkan.
Namun, kita juga mafhum jika tidak semua orang paham apa yang terjadi. Tidak semua orang tahu apa itu tafsir, termasuk memahami apa isi al-Maidah ayat 51 itu. Wong, membaca Alquran saja terbilang jarang dilakukan dan tertatih-tatih. Konon pula memahami tafsirnya :).
Makanya, kita juga tidak heran bila banyak orang yang bengong, mencibir dan bertanya, kenapa muslim bisa bereaksi seperti kemarin?. Apa salahnya Ahok? Tidak adakah kemaafan bagi dirinya yang kemungkinan besar tidak pernah melafazkan ayat itu dalam teks Arabnya? Tidakkah itu terlalu lebay?
Ahok tentu tidak menyangka jika 3 kata yang diucapkannya di Kepulauan Seribu lalu akan mengundang ratusan ribu bahkan jutaan manusia dari berbagai tempat di Indonesia. Ia tentu terheran-heran melihat reaksi keras muslim negeri ini. Sama seperti herannya para politisi yang pasti menganggap ada upaya politisasi dan upaya menjegal Ahok dari calon gubernur.
Para ustaz dan guru sering memberi nasehat, hati-hati memperlakukan Alquran. Jangan pernah direndahkan apalagi dihinakan. Merendahkan Alquran itu ada dua bentuk pertama, terhadap fisik zahirnya dan kedua, merendahkan ajaran yang dikandung ayatnya. Nah, mungkinkah Ahok menerima "karma" dari Alquran karena melecehkan isinya? Nobody knows. Hanya Tuhan yang tahu. Yang jelas, tak usah heran jika Tuhan berkehendak. Ramalan Badan Meterologi bahwa akan ada hujan lebat di langit Jakarta pada tanggal 4 November kemarin, ternyata tidak terjadi. Kekuatan siapa yang mencegahnya?
Tapi, terus terang, bro.
Kalaulah benar Ahok terkena "karma" dari Alquran, maka sudah seharusnya kitapun layak ketar-ketir dan beristighfar.
Kalaulah benar Ahok terkena "karma" dari Alquran, maka sudah seharusnya kitapun layak ketar-ketir dan beristighfar.
Mengapa?
Saya katakan kita layak khawatir, bro karena jangan-jangan, Alquran juga telah kita lecehkan. Kita mungkin telah "menghinanya" tanpa disadari. Mungkin salah satunya dengan cara tidak peduli kepadanya.
Saya katakan kita layak khawatir, bro karena jangan-jangan, Alquran juga telah kita lecehkan. Kita mungkin telah "menghinanya" tanpa disadari. Mungkin salah satunya dengan cara tidak peduli kepadanya.
Atau, bisa saja kita telah "membakar" Alquran dengan prilaku yang jauh dari tuntunan isinya. Buktinya, kita disuruh jujur tapi senangnya malah berkhianat. Disuruh makan halal, namun kok suka korupsi dan makan haram. Pokoknya, semua larangan yang dikandungnya dilahap habis. Bukankah ini juga sebuah "penghinaan" terhadap Alquran?.
Tapi, kita tentu berkilah bahwa Ahok itu non muslim yang tidak boleh seenaknya saja menghina Alquran. Dia tidak berhak melakukan itu. Saya setuju.
Seperti kata seorang teman bahwa ketika di kepulauan Seribu itu, Ahok seolah-olah menunjukkan bahwa ia paham sekali dengan Alquran. Ia merasa cerdas dan lebih tahu dari seorang muslim sehinga dengan tanpa berdosa mengatakan bahwa surat Al-Maida ayat 51 itu bisa menjafi alat membodoh-bodohi orang.
Saya tidak mengiyakan tapi tidak menolak pendapat rekan ini. Artinya, kalaulah kali Ahok yang kena "karma" dari Alquran, bukankah hal yang sama bisa terjadi kepada siapa saja yang mencoba menghina dan merendahkan isinya? Termasuk kita ini juga? Astaghfirullah...
Apapun analisis kita terhadap kejadian kemarin, namun demo krmarin sudah terjadi. Ahok harus bertanggung jawab atas produk lidahnya. Biarlah hukum yang menentukan. Jangan sampai muncul kasus yang lain.
Tapi, seperti penjelasan di atas, kitapun harus lebih mawas diri dan muhasabah. Kejadian Ahok bisa menimpa siapa saja. Ketika Allah menganggap seseorang menghina kalam-Nya dan merendahkan martabatnya, maka bersiaplah dengan amarah dan karmaNya.
Saya setuju dengan Ustaz Yusuf Mansyur yang menghimbau kepada kita untuk berdoa supaya Allah memberi petunjuk jika tindakan kemarin adalah kebaikan maka agar Allah memberi kita kemampuan untuk mengikutinya. Dan, seandainya demo kemarin adalah tindakan yang salah, maka supaya Allah memberi kemampuan kepada kita untuk menghindarinya. Dan, apa jawaban Allah?, ternyata demo kemarin diikuti oleh ratusan ribu bahkan lebih dari satu juta manusia. Artinya, demo kemarin itu benar dalam pandangan Allah, bukan?
"Ya Allah, berilah kasih sayangMu dengan Alquran. Jadikanlah ia imam, cahaya, petunjuk dan rahmat bagi kami. Ya Allah, ingatkan kami ketika lupa, dan ajari kami ketika tidak tahu. Anugerahkan kami kemampuan dan keinginan untuk membacanya, siang dan malam. Dan jadikanlah ia hujjah bagi kami ketika menghadapMu nanti. Amin Ya Allah.
Damailah Indonesia, Damailah hati kami". Wallahu a'lam.


0 Comments