Ticker

6/recent/ticker-posts

Seandainya Di Surga Ada Pilkasu, Gimana Ya?

By: M. Ridwan

Pilkasu itu singkatan dari Pemilihan Ketua Surga. Ini istilah sangat khayali. Imajinasi lintas dimensi. Seandainya nih, di surga nanti, Tuhan meniupkan kembali nafsu berkuasa kepada penghuninya, maka saya kira, hal yang pertama kali dilakukan penghuninya adalah mengadakan Pilkasu bukan?

"Harus ada kejelasan nih, siapa yang memimpin kita," mungkin ini kata penghuni surga Darussalam. "Ketua surga harus dari kita. Surga kita adalah kategori tertinggi" usul penghuni Firdaus. Maklum, Firdaus itu berada di bawah Arasy.

Yang berbahaya, sekiranya penghuni neraka diikutsertakan. Pastilah mereka bersorak-sorai menunjuk pemimpin untuk menyalurkan aspirasi ke-neraka-an mereka. "Kita ingin siksaan diringankan. Kita ingin amnesty dan keadilan, mungkin demikian permintaan mereka. 

Apalagi, jika mereka diikutsertakan mengikuti Pilkasu. Pastilah kebahagiaan mereka semakin mendalam. Siapa sih yang tidak tertarik dengan kekuasaan memimpin surga yang penuh kemakmuran. Gemah Ripah Loh Jinawi. Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur. Iya kan?

Kendati saya tidak setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa politik dan kekuasaan itu kotor, namun saya setuju bahwa jika politik berupaya mewujudkan kepentingan, entah untuk pribadi atau kelompok maka niat baik dan kotor bisa masuk ke dalam tujuan mulia itu. Permasalahannya, niat mana yang mendominasi? Bagaimana memastikan politik dilakukan dengan hati yang bersih?

Beberapa minggu ini, situasi politik di tanah air cukup hangat. Apalagi kalau bukan dipicu situasi Pilkada DKI. Ya, untuk memilih gubernur sang pembawa kemakmuran Jakarta. Pilkada gubernur bercita rasa Pilpres ini dinanti banyak pihak dan tentunya banyak "pemain" yang terlibat.

Nun jauh di sana, di negeri Paman Sam, kehebohan pilpres juga terasa. Pertarungan antara Hillary Clinton dan Si Rambut unik, Donald Trump, katanya, menjadi tumpuan harapan milyaran penduduk dunia. Pilpres negara yang "mengatur stabilitas dunia" lho. 

Bukan rahasia umum bahwa US banyak terlibat di hampir semua negara, sehingga siapapun presidennya akan menentukan masa depan negara-negara dunia. Hebat ya.

Wajar kita sedih melihat kondisi dunia Islam dan kaum muslimin. Soalnya, dalam percaturan politik dimanapun berada, umat ini sepertinya mudah kalah, dipecundangi, diobok-obok dan diprovokasi. 

Bahkan di negara muslim sendiri, politik yang dipraktikkan cukup membuat miris dan air mata. Pertarungan politik yang terjadi biasanya memakan korban rakyat jelata yang tak berdosa. Suriah, Irak, Afganishtan adalah contoh nyata.

Wajar kita heran lho. Apa sih yang harus dikejar sehingga harus tega  mengorbankan orang lain?. Kok bisa-bisa bom setiap hari meledak di Irak. Kok tega sih membunuh sesama muslim yang membaca Alquran yang sama?. Kok ISIS bisa muncul meski katanya didalangi negara lain?. terpana godaan fulus ya?

Kalau katanya politik untuk memperjuangkan kepentingan, lalu kira-kira nih, kepentingan apa yang lebih besar dan layak diperjuangkan kalau bukan kepentingan kita dengan Tuhan?

Tragisnya, saat ini, banyak pula pihak yang berlindung di balik kata "kepentingan Tuhan", lalu memperkosa ayat dan mempelintir hadis. Lengkaplah sudah penderitaan ini. 

Lalu, yang benar-benar kepentingan dengan Tuhan yang mana ya?
Kalau saya ditanya. Kita bisa pakai 2 indikator yaitu indikator cara dan hasil. 

Jika cara berpolitik yang digunakan berakibat pada penistaan nilai-nilai, simbol, tokoh agama atau menyuburkan kebencian dan fitnah, maka politik seperti itu pasti tidak bertujuan memperjuangkan kepentingan dengan Tuhan. Itu indikator cara.

Demikian pula, jika sesantun apapun politik itu dijalankan namun menghasilkan pemimpin yang bejat, zalim dan menjauhkan rakyat dari Tuhan, maka politik jenis inipun pasti tidak punya urusan dengan Tuhan. Ini indikator hasil.

Lalu gimana memastikan politik sesuai dengan etika dan nilai-nilai ketuhanan? Jawabannya ya harus pakai siyasah syariah. Politik yang mengedepankan prinsip syariah. Membawa nilai Alquran ke dalamnya. Mengedepankan kasih sayang, cinta kasih dan keadilan.

Tanpa nilai agama atau syariah, maka dipastikan politik yang dijalankan hanya menambah dosa dan kezaliman. Boro-boro untuk nambahin pahala, justru politik yang dilakukan bahkan tidak bisa mengurangi dosa. Rugi lah.

Eh, apa hubungannya dengan Pilkasu di awal tulisan ini?

Pilkasu di surga itu pasti akan terjadi jika nafsu berkuasa dan ambisi ditiupkan kembali ke diri manusia. Tanpa ambisi berkuasa, mana mungkin di surga ada Pilkasu.

Tapi, hati-hati, nafsu berkuasa jugalah yang menyebabkan Iblis dilaknat, terusir dari surga dan masuk ke neraka. Sehingga, jangan-jangan, ketika nafsu berkuasa ini kembali ditiupkan ke penghuni surga, maka justru mereka akan terusir dari surga?.  

Syukurlah, Tuhan telah mencabut rasa benci dan sifat ambisius pada penghuni surga nanti sehingga kita tidak perlu khawatir Pilkasu akan terjadi. Lagipula, Iblis dan setan juga telah "diamankan" di neraka. Don't worry...

Cuma saja, judul di atas sekedar bahan intropeksi saja. Untuk muhasabah dan memprediksi nasib kita nanti, apakah berpotensi masuk surga ataukah neraka.

Caranya?
Ukur saja seberapa besar nafsu dan ambisi berkuasa kita di dunia saat ini. Apakah se-ambisius Iblis atau setenang malaikat? Sepanas bara api atau sedingin air? Membaikkan dunia atau memporak-porandakannya ?Menghalalkan segala carakah? 
Wallahu a'lam. Hanya Tuhan yang tahu apa niat di hati kita.

Post a Comment

0 Comments