Arti judul di atas kira-kira begini. Sufi tanpa Sufisme atau Sufisme tanpa Sufi. Sengaja dibuat untuk terkait diskusi kami di FB beberapa hari ini.
Sufi adalah istilah yang ditujukan kepada orang-orang yang berupaya membersihkan hatinya dari kotoran-kotoran dosa, baik dosa kecil apalagi dosa besat. Bahkan, hal-hal yang meragukan-pun (syubhat) ditinggalkan.
Dalam sejarah, tokoh sufi sudah banyak dikisahkan, tercatat dan dipelajari. Ada sufi yang yang kemudian memiliki tarekat (sebutan untuk komunitas pembelajaran teknis pembersihan hati) dan ada juga sufi yang tidak memiliki tarekat. Sufi yang terakhir ini juga kadang tidak diketahui keberadaannya. Soalnya, masalah hati siapa yang tahu, bukan?
Terkait sufi dan ajarannya, ada komunitas yang menolaknya. Argumen yang mereka sampaikan bahwa ajaran sufi ini tidak ada di jaman nabi. Beberapa praktik yang dilakukan para sufi atau tarekat dianggap menyimpang dari tidak ada panduan dari Alquran dan hadis.
Untuk kelompok ini, saran saya, pakai saja istilah lain, misalnya orang sholeh, orang baik atau orang yang berupaya untuk mensucikan hati. Kalau istilah ini dipakai, maka para Nabi, sahabat dan orang-orang hebat pada masa nabi dapat kita katakan sebagai para sufi atau wali Allah. Sehingga, sebutan sufi tidak lagi menjadi istilah yang ekslusif dan lain dari pada yang lain.
Sehingga, kaum sufi itu sebenarnya sudah ada sejak manusia itu ada. Saya mengecualikan para nabi dan rasul. Para wali juga. Nah, untuk sebutan wali biasanya diidentikkan dengan karamah atau keistimewaan tertentu misal mampu berjalan di atas air, tidak terbakar api, dll. Saya kira, wali tidak mesti diidentikkan dengan karamah supaya manusia kini tidak mudah terkecoh ketika melihat seseorang memilik keahlian khusus dan metafisik lantas berbondong-bondong berba'it dan mendewakannya. Karena dianggap wali kemudian kata-kata dan perbuatannya lantas diaminkan bahkan melebihi kemuliaan nabi pula. Kayak di Probolinggo itu. Wallahu a'lam.
Saya kira, Alquran ada menyebut keberadaan para wali ini. Misal, pemuda Ashabul Kahfi, Luqmanul Hakim, Siti Hajar, Khaidir (ada yang menyebut dirinya Nabi), Murid Nabi Sulaiman yang memindahkan istana Ratu Bilqis, saudari Nabi Musa, atau para tukang sihir Fir'aun yang bertaubat itu. Perhatikan, tidak semua wali yang saya sebutkan di atas yang memiliki karamah fisikal, bukan? Bahkan ada yang disiksa dan mendapatkan kesulitan hidup, misal pemuda Kahfi dan tukang sihir Fir'aun. Pertanyaannya, kok mereka tidak menggunakan fasilitas doa dan bermohon kepada Allah untuk menyelamatkan hidupnya?
Jawabannya, karena mereka WALI ALLAH. Lho?
Wali Allah yang sejati itu biasanya tidak suka menggunakan fasilitas karamah dari Allah apalagi pamer. Mereka ridho terhadap kehidupan yang diberikan Allah kepada mereka. Biasanya yang suka pakai fasilitas karamah sekaligus memamerkannya adalah justru para wali "pemula", belajar jadi wali atau pingin sekali menjadi wali tapi gak bisa-bisa. WALI-WALIAN.
Makanya, kita pakai saja istilah yang lebih bersahabat untuk konteks kini. Wali atau Sufi itu adalah orang sholeh atau orang yang ingin sekali menjadi orang baik sesuai ketentuan dan syariat Allah. Batasan adanya syariat ini untuk mengeluarkan komunitas atau individu yang ingin melakukan pensucian hati tanpa mengikuti koridor hukum Islam atau non Islami. Sehingga wali atau sufi pasti bukan orang non muslim atau tidak melakukan kewajiban syariat.
Memang, ketika menggunakan istilah sholeh ini untuk diri kita, bisa menjadi masalah juga. Misal, suatu ketika saya mengatakan bahwa diri saya orang sholeh atau sedang berupaya menjadi sholeh, maka dipastikan ribuan orang akan menghujat. Sok lu.,, ngaca lu,,,sok suci.
Apalagi kalau saya pakai saya sufi atau salik (seorang yang berupaya untuk menjalani kehidupan suci). Pastilah kemudian orang akan menghujat dan sebelah mata melihat. Kamu siapa sih..? ke ge-er-an banget.
Tapi, sikap ini pasti salah. Seharusnya kita mendukung semua kebaikan dan keinginan orang menjadi baik. Kita tidak boleh menilai orang lain dan menyatakan dirinya tidak baik, tidak sholeh atau tidak sufi. Apalagi kalau kita belum menjadi orang baik. Apa sulitnya sih mendukung dan mendorong orang menjadi baik? Mudah-mudahan kita kecipratan menjadi orang baik, bukan?
Makanya, seorang bapak pernah menasehati saya. Jangan pernah sekalipun melihat sisi buruk orang lain apalagi kehidupan ini. Walapun secara zahir kamu menyaksikan dan merasakan hal itu, maka maafkan dan serahkan kepada Allah. Jangan sibukkan dirimu dengan aib orang lain. Hidup ini terlalu singkat untuk melakukan hal-hal seperti. Rugi.
Sejujurnya, melakukan nasehat itu sulit sekali. Apalagi di jaman serba terbuka saat ini. Aib dan keburukan orang silih berganti masuk ke rumah dan hati kita. Medsos dan media tiba-tiba berubah menjadi wasilah dan tawasul keburukan.
Namun, saya optimis, di tengah kondisi seperti ini justru para wali, sufi atau orang sholeh itu akan muncul. Dalam literatur sejarah, kemunculan para nabi atau orang suci biasanya selalu diawali dengan adanya kondisi jaman yang "rusak parah" dan amburadul.
Tapi, sikap ini pasti salah. Seharusnya kita mendukung semua kebaikan dan keinginan orang menjadi baik. Kita tidak boleh menilai orang lain dan menyatakan dirinya tidak baik, tidak sholeh atau tidak sufi. Apalagi kalau kita belum menjadi orang baik. Apa sulitnya sih mendukung dan mendorong orang menjadi baik? Mudah-mudahan kita kecipratan menjadi orang baik, bukan?
Makanya, seorang bapak pernah menasehati saya. Jangan pernah sekalipun melihat sisi buruk orang lain apalagi kehidupan ini. Walapun secara zahir kamu menyaksikan dan merasakan hal itu, maka maafkan dan serahkan kepada Allah. Jangan sibukkan dirimu dengan aib orang lain. Hidup ini terlalu singkat untuk melakukan hal-hal seperti. Rugi.
Sejujurnya, melakukan nasehat itu sulit sekali. Apalagi di jaman serba terbuka saat ini. Aib dan keburukan orang silih berganti masuk ke rumah dan hati kita. Medsos dan media tiba-tiba berubah menjadi wasilah dan tawasul keburukan.
Namun, saya optimis, di tengah kondisi seperti ini justru para wali, sufi atau orang sholeh itu akan muncul. Dalam literatur sejarah, kemunculan para nabi atau orang suci biasanya selalu diawali dengan adanya kondisi jaman yang "rusak parah" dan amburadul.
Nah, jika kita menganggap jaman kini sudah berada pada puncak kerusakannya, maka berarti orang-orang sholeh dan wali pun sudah pasti bermunculan bukan? Saya melihat banyak sekali status di FB, WA atau medsos lainnya fenomena orang berbondong-bondong melakukan sharing kebaikan, dengan kata dan tulisan atau gambar-gambar yang mencerahkan dan mendekatkan diri kita kepada Allah dan kebaikan. Ada sufi di bidang politik, ada orang sholeh di persahaan, ada wali sebagai pedagang dan sufi ibu rumah tangga.
Syukurlah. Fenomena ini tentunnya bersaing ketat dengan aktifitas berseberangan yaitu komunitas yang gemar pula menyebarkan keburukan baik dengan kata dan gambar. Lihat, betapa banyak status dan gambar porno bertebaran. Rasakan gundahnya kita membaca status provokatif dan kering di medsos dan smartphone kita. Meski saya kira, wajar juga, namanya hidup di dunia. Ada terang vs gelap, atau keburukan vs kebaikan. Selalu ada protagonis dan antagonis. Tinggal pilih mau jadi fans yang mana.
Cuma, seperti judul, dahulu, nilai-nilai kebaikan dan sufisme itu mudah terlihat dimana-mana tapi orang atau tokohnya mungkin tidak banyak terlihat. Mereka tidak suka menonjolkan diri. Mereka hidup dalam keasyikan dirinya dan Tuhan.
Cuma, seperti judul, dahulu, nilai-nilai kebaikan dan sufisme itu mudah terlihat dimana-mana tapi orang atau tokohnya mungkin tidak banyak terlihat. Mereka tidak suka menonjolkan diri. Mereka hidup dalam keasyikan dirinya dan Tuhan.
Sedangkan kini, bisa saja kajian dan diskursus tentang sufi dan kewalian marak dan berkembang, namun para sufi dan walinya juga tidak terlihat dan terasa keberadaannya.
Lalu bagaimana mengetahui seorang itu wali atau sufi?. Kalau ada yang bertanya sih.
Nah, saya menganggap pertanyaan ini merepotkan diri sendiri.
Saya kira, pastikan saja diri kita menjadi orang yang berkomitmen untk menjadi baik terlebih dahulu. Pastikan saja kita berupaya menjadi orang yang memiliki hati yang bersih. Pastikan kita berkomitemen kepada kebaikan dan kebenaran.
Lalu bagaimana mengetahui seorang itu wali atau sufi?. Kalau ada yang bertanya sih.
Nah, saya menganggap pertanyaan ini merepotkan diri sendiri.
Saya kira, pastikan saja diri kita menjadi orang yang berkomitmen untk menjadi baik terlebih dahulu. Pastikan saja kita berupaya menjadi orang yang memiliki hati yang bersih. Pastikan kita berkomitemen kepada kebaikan dan kebenaran.
Kalau tahapan ini sudah berhasil dilewati, maka biasanya wali dan orang-orang suci/ sufi itu akan mudah terlihat. Mereka muncul dalam jumlah masif, terlihat jelas di hadapan kita.
Tanpa melalui proses pembersihan internal hati kita, maka kemampuan melihat dan merasakan keberadaan para wali di sekeliling kita akan lemah. Alih-alih bertemu dengan wali atau sufi, yang terjadi justru kita bisa saja akan bertemu dengan musuh Allah atau wali syeitan. Na'uzubillah. Setujukah Anda? Wallahu A'lam.


0 Comments