Oleh: M. Ridwan
Saya pernah punya pengalaman yang cukup menarik. Beberapa tahun
lalu. Seorang anak muda, yang kebetulan baru menginjakkan kakinya pertama kali
di Jakarta, bertanya serius. “Bang, gedung apa itu ya, tinggi-tinggi sekali. Kira-kira, bagaimana sih cara yang
dilakukan oleh orang-orang yang berada di gedung-gedung itu
untuk makan dan mencari duit?”.
Pertanyaan ini diajukan setelah sebelumnya, ia berkeliling
di Jakarta. Jarang-jarang, pertanyaan
ini saya dengarkan. Lucu dan lugu. “Oh ya, Dik, gedung-gedung itu adalah kantor
berbagai perusahaan. Kebanyakan kantor lembaga keuangan, namun ada juga hipermarket,
hotel atau gedung pemerintah. Banyak deh. Orang-orang di dalamnya mengurus
berbagai bisnis, dan melayani masyarakat. Cabang-cabang dari perusahaan mereka
menyebar di seluruh Indonesia bahkan sampai ke luar negeri. Pusatnya ya di
Jakarta ini. Oh ya, tentang makan, mereka makan nasi dan lauk-pauk juga,
kendati tidak bercocok tanam dan menangkap ikan seperti orang desa dan nelayan”.
Cari makannya pakai otak yang pintar”, jawab saya sekenanya, sambil tertawa.
Lucu sih.
Jawaban saya ternyata tidak berhasil menghentikan pertanyaan
berikutnya. “Enak juga yang bang, kerja tidak keluar keringat, tidak perlu menanam
padi, atau angkat karung yang berat. Tidak perlu repot-repot ke laut atau
menambal ban. Pintar cari duit, Enak teunan,” ujarnya serius. “Betul, makanya,
kamu harus belajar, harus menjadi orang pintar, biar mendapatkan pekerjaan yang
lebih mengandalkan otak ketimbang otot,” saya menggunakan jawaban standar yang
biasanya disampaikan para orang tua di negeri ini. Belajar yang rajin, pasti
kau dapat. Cita-citamu akan tercapai, bla-bla, dst. Caile….
Kenangan saya dengan anak itu muncul saja malam ini. Bukan
tentang gedung-gedung itu, tapi tentang cara mencari duit atau pintar cari duit yang ia maksudkan. Saya teringat kepadanya ketika beberapa hari ini beberapa media gencar memberitakan tentang para tersangka korupsi yang berhasil diungkap. Entah itu gubernur, walikota, hakim, pengacara, dll. Apalagi, berita minggu ini, tentang dugaan seorang petinggi negara yang "katanya" meminta saham di Freeport. Perusahaan internasional yang menggali emas di Papua. Pintar cari duitkah mereka?.
Apa sih maksudnya pintar cari duit?
Istilah “pintar cari duit” adalah ungkapan lazim kita
dengar terutama pada jaman ini. Kendati, saya kira, ketika sekolah dulu, tidak ada terma itu dalam kosakata bahasa Indonesia. Yang ada, pintar matematika, pintar di kelas, pintar biologi, fisika, atau mata pelajaran lain. Tidak ada istilah, pintar cari duit. Para orang tua dan guru biasanya hanya menganjurkan supaya pintar menguasai ilmu, dan dengan ilmu itulah uang atau duit biasa didapat. Jadi, prosesnya yang lebih penting.
Silahkan baca buku tentang uang. Saya merekomendasikan satu buku The Lost Science of Money karya Stephen Zarlenga. Buku ini menarik. Menceritakan asal muasal benda bernama uang ini. Dari peradaban kuno, Babylonia, Yunani, Romawi, Islam sampai modern, termasuk prediksi sistem moneter ke depan. Termasuk konflik ynng terjadi akibat saah guna uang. Sayangnya, juga tidak ditemukan istilah pintar cari uang, atau uang adalah tujuan. Tapi...
Waktu memang cepat berjalan. Fungsi uang yang merupakan alat tukar, berubah drastis menjadi komoditi dan tujuan utama kehidupan. Proses mencarinya tidak terlalu penting lagi, yang penting berapa banyak uang yang bisa dikumpulkan, berapa digit yang bisa diciptakan untuk menambah pundi tabungan, deposito atau saham. tragisnya, dunia pendidikan terkadang dipandang "rendah". Ada jargon yang dikembangkan, "buat apa pintar di kelas atau kampus", yang penting "pintar cari uang". Lulusan sekolah atau perguruan tinggi bahkan dianggap tidak pintar cari uang. Begitukah?
Tiba-tiba, uang tidak hanya menjadi representasi nilai barang dan jasa tapi telah menjadi representasi harga diri, prestise dan ukuran kepintaran seseorang. Maka, jangan heran, jika seseorang bisa saja dianggap bodoh jika tidak mampu men-create- uang yang banyak. Harga diri seseorang mungkin saja akan jatuh jika uang yang dimilikinya hanya sedikit. Itu di negeri saya, bagaimana dengan negeri Anda?
Akibatnya, banyak yang panik. Seketika uang menjadi hantu dan momok yang menakutkan. Belum lagi, kalau kita mengkaji bahwa jumlah uang ternyata telah mengelembung di dunia saat ini. Uang yang beredar ternyata lebih banyak dari sektor riil yang seharusnya mem-backup.
Sederhananya, kita bekerja untuk mewujudkan angka-angka yang telah dibuat. Misalnya, pertumbuhan ekonomi yg hendak dicapai, profit yang hendak diraih, atau nilai saham yang hendak digenjot. Multiplier effect di sektor riil memang tetap ada, tapi tak bisa mengimbangi perkembangan sektor keuangan yang lebih cepat menggelembung. Manusia menjadi robot dan budak angka-angka.
Dalam kondisi seperti ini, tidak heran kalau muncul kompetisi. Apalagi kalau bukan kompetisi cari duit. Alquran menyebutnya dengan "takasur, atau tafakhur". Kompetisi untuk "gaya-gayaan" dan "banyak-banyakan". Banyak duit, banyak anak atau banyak isteri ya: ). Lu punya berapa,? gua punya ini, lho..
Kondisi ini menyuburkan pragmatisme. Makanya, buku-buku yang laris saat ini biasanya bernuansa cari duit dengan mudah semisal "Rahasia Sukses jadi kaya", "Kiat jadi investor atau milyuner", "Investasi tanpa modal", dll. Bahkan, praktik-praktik ibadah yang hakikatnya adaaah charity atau sedekah, bisa diplot menjadi kiat khusus untuk menjadi kaya. Salahkah? Tentu tidak, jika si pembaca memahami terlebih dahuku hakikat uang. Jika tidak?, ia pasti akan panik lagi jika tidak berhasil. Menyelesaikan masalah dengan masalah..
Saran saya, jangan terobsesi dengan istilah pintar cari uang. Ukurannya subjektif dan unlimited. Lalu?
Saya kira, terobsesi saja untuk menjadi hamba Tuhan yang pintar dengan mempersiapkan bekal untuk menikmati investasi akhirat dan properti di sana. Dan, saya kira, hamba Tuhan yang pintar dipastikan adalah orang yang pintar cari duit. Sebaliknya, orang yang pintar cari duit belum tentu pintar menjadi hamba Tuhan yang baik. Do you belive it?,...:), Silahkan implementasikan pada kasus-kasus yang saya nukil di awal tulisan ini (bersambung)

0 Comments