Ticker

6/recent/ticker-posts

Pintar Cari Duit (Bagian 2)

Oleh:  M.Ridwan

Perhelatan akbar Asosiasi Fakultas Ekonomi (AFEBI) sedang berlangsung di Pontianak. Forum ini merupakan kumpulan para pengelola fakultas ekonomi seluruh Indonesia, termasuk Fakultas Ekonomi Islam yang berada di bawah IAIN aau UIN se-Indonesia. Ratusan peserta mewakili lebih dari 60 universitas berkumpul di sini.

Pagi ini, pembicara adalah Prof. DR. Armida S. Alisjahbana yang menguraikan tentang Green Economy dan Sustainable Development (SDGs). Saya kira, kita mengenal tokoh perempuan yang super ini. Tidak hanya kiprah beliau yang pernah menjadi Menteri / Kepala Bapenas di Era SBY, namun juga sebagai Guru Besar Ekonomi di Universitas Padjajaran.

Topik pagi ini tentang Green Economy and Sustainable Developments (SDGs). Apakah itu?

Ringkasnya begini. Dunia ingin mencapai pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, namun pada satu sisi, pembangunan ekonomi tersebut harus bisa mamastikan pelestarian alam dan perlindungannya. Lalu, apa tujuan pembangunan ekonomi ala SDGs tersebut?  Tentu saja kesejahteraan, kemakmuran dan kelayakan hidup. Indikatornya adalah turunnya angka kemiskinan atau bahkan hilangnya kemiskinan di tahun 2030, serta selalu tersedianya Sumber Daya Alam bagi generasi berikutnya.

Untuk Indonesia, tidak muluk-muluk. Targetnya, jika terjadi pengurangan kemiskinan, setengah saja dari angka sekarang (11-12%), menjadi 5-6 % di tahun 2030, sudah merupakan prestasi sangat baik.  Sebuah tujuan yang mulia dan tentu kita akan dukung. Kita mau menuju dunia dengan zero poverty. Dahsyat. Apakah masalahnya sudah selesai sampai di situ?

Tentu tidak. Kendala mewujudkan hal di atas masih cukup banyak. Entah itu implementasi yang tersendat terutama di pemerintah daerah atau ketersediaan SDM ekonomi yang mumpuni atau kebijakan-kebijakan yang harus segera direvisi untuk semakin pro kepada rakyat dan kecintaan pada negara.

Pemaparan Prof Armida dilanjutkan dengan pemaparan Prof. Bambang Brojonegoro, yang datang satu jam kemudian. Menteri Keuangan RI sekaligus Ketua Umun Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Pusat ini membeberkan secara gamblang tentang keadaan ekonomi Indonesia terkini dan prediksi ke depan. Ringkasnya, ia menyatakan kendati pertumbuhan ekonomi kita masih relatif stabil sebagai emerging country atau defisit anggaran sebatas 3 persen, namun dikarenakan ketergantungan kita yang sangat dominan pada ekspor bahan baku, menyebabkan ekonomi kita sangat rentan dengan gonjang-ganjing ekonomi luar negeri seperti fluktuasi harga. (Misal harga sawit, minyak atau nikel- pen). Saran beliau, saatnya untuk berinovasi dan mengembangkan produk lokal dan basis kewirausahaan yang kuat. Selesai. :).

Apa hubungannya materi AFEBI hari ini dengan judul di atas, Pintar Cari Duit ?

Banyak.
Ternyata, permasalahan mencari makan dan duit juga selalu menyertai negara-negara dunia. Adanya gap antara negara berpunya (the have) atau negara maju dengan negara miskin (the have not) atau juga negara berkembang merupakan realita.
Bahkan, gap ini terkadang sangat terasa, kendati, permasalahan ekonomi suatu negara juga muncul dari efek politik, mentalitas suatu bangsa, atau mismanagement, namun secara umum, permasalahan ekonomi suatu negara harus segera diatasi supaya tidak menjadi bom waktu yang juga bisa menyeret negara lain pada konflik berkepanjangan. Lihat Yunani.

Saya kira, negara-negara dunia bisa saja kita kategorikan sebagai negara yang pintar cari duit, negara kurang pintar atau bahkan bodoh cari duit. Lalu, Indonesia masuk pada kategori negara yang mana ya? :).

Hemat saya, negara yang pintar cari duit adalah negara yang memiliki warga bermental wirausaha. Negara yang bisa ini memberikan nilai tambah dalam produk atau jasa yang mereka kelola. Seperti pernyataan Prof. Bambang, bahwa Turki  adalah negara yang memiliki wirausaha yang banyak dan kuat.

Kondisi Turki berbeda dengan Arab Saudi yang saat ini mulai mengalami kesulitan, karena harga minyak dunia yang turun. Ternyata, selama ini, Arab Saudi sangat dimanjakan dengan minyak yang melimpah. Namun, era minyak ini ditengarai bisa saja berakhir, lalu apa kabar Arab sesudahnya?

Syukurlah, posisi Indonesia boleh dikatakan lebih baik dari Arab Saudi namun masih berada di bawah Turki. So, bagaimana supaya skill cari duit negara ini melesit dengan cepat? Yah, itu lagi, perbanyak para wirausahanya. Tapi pastikan, para wirausahanya adalah yang genuine, berkomitmen, bukan karbitan dan cenggeng. Siapa berani?




Post a Comment

0 Comments