Ticker

6/recent/ticker-posts

The World of Consumerism: Melihat Prilaku Konsumen Lebay



Oleh: M. Ridwan

Dalam kelas mata kuliah ekonomi Islam, pembahasan mengenai prilaku konsumsi selalu saja menimbukan yang hangat, kritis dan produktif. Seperti yang kami lakukan minggu lalu. Apalagi, jika prilaku konsumsi ditinjau dari perspektif Islam, maka dipastikan dikusi menjadi semakin hot.
Apa sih, masalah dunia saat ini?

Kalau kita baca dari buku-buku terkait dengan konsumsi, misalnya buku Consumerism: as Way of Life karya Steven Miles, maka terlihat bahwa konsumerisme telah menjadi cara hidup manusia kontemporer di planet ini.  Lalu, apakah fenomena ini salah atau benar?

Tapi sebelumnya, perlu dibedakan pengertian konsumsi dan konsumerisme. Konsumsi adalah prilaku seseorang menggunakan produk atau jasa. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan, baik primer, sekunder ataupun tersier. Prilaku ini sudah menyatu (embed) sejak peradaban manusia ini  ada. Adam dan Hawa di surga-pun melakukan konsumsi bukan?. 

Ketika ia “jatuh” ke bumi, beserta isteri tercintanya, prilaku konsumsi ini juga dilakukan oleh anak cucunya, berabab-abad, sampai ke kita kini. Konsumsi dalam bentuk pemenuhan kebutuhan esensial manusia merupakan hal yang diperbolehkan bahkan diwajibkan jika itu mendukung aktifitas ibadah (dalam persepektif Islam).

Sedangkan, konsumerisme adalah prilaku konsumsi yang dilakukan bukan karena pemenuhan kebutuhan akan suatu barang atau jasa, melainkan karena tindakan mengkonsumsi itu sendiri menjadi kepuasan bagi dirinya?. 

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan konsumerisme sebagai “paham/gaya hidup yang beranggapan barang-barang (mewah) sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, gaya hidup tidak hemat, dsb”. (Jakarta: Balai Pustaka, 2001).

Contohnya, seseorang membeli baju. Jika tindakannya dilakukan untuk memnuhi kebutuhannya akan sebuah baju untuk menutup tubuh atau mengganti baju yang teah usang, maka tindakannya dikatakan mengkonsumsi. Sedangkan, jika ia membeli baju karena hanya mengikuti trend, atau membeli karena memiliki budget, apalagi hanya sebatas untuk gaya-gaya semata, maka tindakannya dikatakan sebagai konsumerisme. Intinya, konsumerisme adalah prilaku berlebihan dalam mengkonsumsi sesuatu.

Kapan sih munculnya konsumerisme?

Prilaku konsumsi secara berlebihan sebenarnya ada dalam setiap peradaban dunia. Sebut saja peradaban Babylonia, Mesir Kuno, Romawi, Persia bahkan pada Emperium Islam.  Manusia memang senang untuk mengkoleksi kekayaan dan barang-barang. It is natural, isn’t it?

Masalahnya, ketika revolusi Industri terjadi (1750-1850), konsumerisme melacu seperti tanpa rem. Yes, Revolusi Industri berhasil membawa manusia modern kepada keadaan yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Penemuan berbagai teknologi pertanian, manufaktur, transportasi, pertambangan, baja, termasuk juga pendirian pusat keuangan, menjadikan produk-produk industri menjadi murah dan mudah didapatkan. Alat-alat dan mesin hasil kreasi teknologi, berhasil memangkas ongkos produksi dan menjadikan tenaga kerja menjadi murah. Para pekerja di pabrik-pabrik bekerja bahkan mencapai 16 jam perhari selama 6 hari/minggu. Productions were in abundance. Produksi berlimpah, murah dan beragam. Welcome to industrial era

“Keberhasilan” penyebaran konsumerisme pada masa awal tak terlepas dari peran media seperti cetak, radio dan TV. Media secara gencar mengiklankan barang-barang hasil produksi. Akhirnya, manusia memasuki era konsumsi massal. Apalagi pada masa kini, penemuan internet dan teknologi informasi semakin menjadikan konsumerisme menjadi raja.

Lalu, apanya yang salah?

Hehe,,kok langsung to the point sih.
Tentu saja tidak ada yang salah kalau produk-produk yang dikonsumsi adalah sesuatu yang betul-betul dibutuhkan. Kalau produk yang dihasilkan adalah produk turunan atau tersier dan manusia kemudian menjadikannya sebagai kebutuhan utama, maka itu baru salah. Bukankah kita pernah mendengar bahwa ada seorang anak yang mencuri uang karena ingin membeli handphone?. Ada pula seorang remaja yang “rela” menjual dirinya karena ingin membeli baju dan memenuhi hasrat glamournya?. Atau, seorang koruptor melakukannya tindakannya karena ingin mengganti kendaraan dan menambah rumah atau bahkan –maaf- isterinya? :)

Prilaku di atas disebut conspicuous consumption (konsumsi secara mencolok) aau excessive consumption.  Dalam kondisi ini sudah tidak bisa dibedakan apakah yang menjadi biang keroknya adalah produsen atau konsumen sendiri. Produsen merasa tidak bersalah jika memproduksi barang-barang yang mungkin “aneh”. Toh, peminatnya ada dan ada permintaan pasar. Kami salah apa?. Mungkin begitu argumen mereka.

Pada sisi lain, konsumen merasa “tidak berkutik” ketika menyaksikan display barang-barang atau serbuan iklan yang membuat hatinya tertegun, dan terangsang membeli. Iklan itu sangat gencar bahkan datang tanpa diundang, apalah dayaku?. Sama seperti ketika saya mengetik di gadget ini, maka sudah lebih dari 20 iklan yang masuk tanpa diundang. Sangat menggoda. Kalau kita tidak memilki uang untuk membelinya tentu tidak akan terlalu bermasalah. Paling cuma menjadi impian atau keinginan terpendam. Namun, bayangkan, jika ternyata seorang konsumen memiliki budget untuk membeli produk itu, pastilah ia langsung menyikatnya, betul bukan?

Lalu, bagaimana memecahkan masalah ini?
Saya kira, prilaku kita yang harus dirubah. Baik sebagai produsen atau konsumen. Kita memerankan kedua aktor itu. kita adalah produsen, sekaligus konsumen juga. Makanya, etika yang dipakai haruslah ajaran Islam.

Bagaimana impelementasinya?
Seorang produsen islami akan menempatkan kemaslahatan sebagai misi produksi yang dilakukannya. Ia tidak akan serta merta memproduksi sesuatu yang hanya menciptakan prilaku konsumerisme masyarakat. Ia harus peka bahwa akan banyak kesulitan yang dialami konsumen jika produknya diproduksi.

Pada satu sisi, seorang konsumen juga harus cerdas. Tidak hanya dalam memilih apa yang akan dikonsumsinya tapi juga bertanya ke dalam hatinya, apakah barang atau jasa itu akan bisa menambah kualitas dirinya sebagai hamba dan makhluk sosial? Apakah tidak sekedar menambah beban hidup dan mengurangi kualitas kehambaannya?.

Mungkin, sulit menerapkan aturan di atas. Apalagi ketika kita hidup di jaman serba hedonis ini. Serba narsis dan “lebay” dimana ada anggapan memiliki sesuatu secara berlebihan itu adalah prestise, citra diri dan kebanggaan. Selamat buat iklan yang berhasil mempromosikannya. :)

Namun saya kira, kita adalah manusia beragama yang meletakkan Islam sebagai cara hidup. Lakukan dengan arif, seimbang dan penuh kebijaksanaan (kayak Pancasila sila ke-4). Kualitas hidup tentu tidak akan berkurang hanya karena kita tidak memiliki beberapa item barang seperti yang dimiliki orang lain. Kita juga tidak akan kehilangan etos kerja hanya karena keinginan mengkonsumsi menjadi lebih rendah dan lebih terarah.

Karena, kita tentu tidak akan mau menjadikan konsumerisme sebagai cara hidup menggantikan agama kita, bukan?. Seperti apa yang ditulis oleh oleh Steven Miles dalam bukunya Consumerism as Way of Life. Berani mencoba?



Post a Comment

0 Comments