Oleh: M. Ridwan
Iseng-iseng saya mengetikkan kata
“The Pursuit of Happiness” (Pencarian Kebahagiaan) di search engine Google.
Wow, jumlah para pencari kata ini ternyata sebanyak 36.7 juta pencarian. Jumlah
ini lebih banyak 7 kali lipat jika kita melakukan pencarian yang sama di mesin
Yahoo yang “hanya” berjumlah sekitar 5 juta hasil. Kedua hasil di mesin
pencarian ini tentu tidak bisa menjadi representasi dari keinginan seluruh populasi
manusia di planet ini. Namun setidaknya, jumlah ini menunjukkan bahwa pencarian
kebahagian menjadi obsesi banyak manusia di planet bumi yang saat ini (2015) telah
mencapai 7,3 milyar jiwa. Oh ya, PBB memprediksi bahwa jumlah ini akan
bertambah menjadi 8.5 milyar di tahun 2050 dan 11 milyar di tahun 2100.
Buanyakk ya, gimana cara makannya ya?. Hehe,,,pakai tangan dong..:) (mode: lebay :
ON)
Konsen saya kali ini bukan
tentang jumlah penduduk dunia yang semkin bertambah ini. Memang, memahami pertambahan
jumlah penduduk dunia itu sangat penting, apalagi bagi para pimpinan
negara-negara dunia. Soalnya, semakin banyak manusia, semakin banyak yang harus
dipenuhi kebutuhannya. Dipenuhi makan dan pakaiannya, diperhatikan
kesehatannya. Belum lagi, terkait jiwa, hati dan pikirannya. Apalagi, berkat
teknologi kesehatan yang semakin canggih, maka angka kematian, lebih mampu “ditekan”
dan berada jauh di bawah angka kelahiran. Artinya?, jumlah penduduk dunia pasti
melaju lebih cepat.
Apa itu kebahagian?
Tahun 2006 lalu, ada sebuah film dengan judul yang sama
artikel ini. “The Pursuit of Happiness” (Pencarian Kebahagiaan). Pemeran utama
adalah Will Smith. Aktor kawakan yang pernah bermain dalam The Independence
Day, Hancook, My Name is Smith, dll. Kok jadi resensi film sih? :)
Filmnya diangkat dari kisah nyata yaitu tentang seorang
laki-laki bernama Chris. Ia adalah seorang ayah dan suami yang berjuang keras mencapai
kesuksesan hidup, namun tak kunjug datang. Berbagai kegagalan menerpa hidupnya.
Isterinya pergi dari rumah dan ia hidup menjadi gelandangan karena tak mampu
membayar sewa rumah. Pokoknya, susah lah. Silahkan tonton saja kalau tidak
percaya. Namun, seperti layaknya fim Hollywood yang selalu berakhir “happy
ending”, Chris dan anaknya berhasil melewati masa-masa sulit dan kemudian
menjadi pialang saham yang sukses. Berakhir bahagia, dan penonton puas. Tamat.
Lalu, seperti itukah kebahagiaan?
Saya kira, banyak orang yang
mendambakan menjalani skenario kehidupan seperti si Chris ini. Namun, sayangnya,
tidak semua kehidupan berakhir bahagia seperti ceritanya. Banyak film nyata
dalam kehidupan ini yang tidak pernah mengalami “happy ending” seperti apa yang
dicapai si Chris. Kita tentu sering melihat betapa banyaknya keluarga susah dan
melarat di negeri ini yang sampai akhirnya hidup kepala keluarganya tetap mengalami
“penderitaan”. Bahkan, ada yang terus mewariskan penderitaan itu kepada ahli
warisnya.
Kita tentu bisa berargumen bahwa
kebahagiaan itu bukan diukur dari pencapaian materi seperti si Chris.
Kebahagiaan itu, adalah kemampuan mendalami makna hidup, kemampuan meresapi
hikmah dan tentu kemampuan untuk menjadi hamba Tuhan yang benar. Benar, itulah
hakikatnya. Namun, sayangnya, ketika dihadapkan pada proses ini, banyak manusia
yang “bertumbangan”.
Mereka “tumbang” karena parameter
kebahagiaan itu menjadi kabur. The Pursuit of Happiness telah dipelesetkan
menjadi The Pursuit of Pleasure (Pencarian Kesenangan yang berorientasi benda
atau barang). Lho, Apakah itu salah?. Tentu tidak. Kesenangan adalah bagian
kecil dari kebahagiaan. Namun, kebahagiaan itu mencakup outer dan
inner pleasure (kesenangan fisik, mental dan jiwa).
Nah, karena makna pencarian
kebahagian sering dipersepsikan sama dengan pencarian kesenangan, maka praktiknya
menjadi berbeda. Kalau tidak mendapatkan kesenangan atau dianggap orang lain
bahwa ia bukanlah orang-orang senang, maka dia merasa tidak
berbahagia. Merasa hidupnya sempit, gagal dan malu.
Nah, kesalahan inilah yang
menjadi biang kerok kerusakan peradaban. Wah, kok jadi serius begini jadinya? :)
Berbagai konflik di dunia pasti
disebabkan karena pencarian kesenangan ini. Kesenangan fisik. Entah itu,
perebutan tanah, emas, minyak, hutan, laut, pastilah diawali dari keinginan untuk
menyenangkan fisik. Atau, berbagai kekisruhan ekonomi, persitengangan buruh dan pemilik modal, mungkin saja sebagian besar karena pencarian kesenangan ini.
Memang sih, logika yang biasanya dibangun, "mana mungkin bisa bahagia jika kesenangan fisik tidak dicapai terlebih dahulu?. Mana mungkin bahagia jika tidak bisa makan, minum atau berpakaian apalagi tidak punya rumah dan kendaraan, mungkin begitu argumennya ya?.
Memang sih, logika yang biasanya dibangun, "mana mungkin bisa bahagia jika kesenangan fisik tidak dicapai terlebih dahulu?. Mana mungkin bahagia jika tidak bisa makan, minum atau berpakaian apalagi tidak punya rumah dan kendaraan, mungkin begitu argumennya ya?.
Itu benar sekali. Kita tidak bisa
bahagia tanpa melewati pemenuhan kesenangan terlebih dahulu. Orang yang bisa melewati
tahapan pemenuhan kebutuhan fisik, dipastikan akan lebih mudah mendapatkan
kebahagiaan. Mana mungkin bisa enak sholat dan beribadah dalam keadaan perut
lapar dan rumah mau runtuh, bukan?
Masalahnya bagi sebagian besar
manusia, adalah ukuran kesenangan itu yang tidak jelas. Parameter yang
digunakan berantakan. Mungkin parameternya berasal dari iklan di TV, film,
selebriti, atau ikon-ikon imajinatif. Outer parameter-lah. Maka, simsalabin,
terjadi kekacauan pikiran. Banyak manusia yang stress, karena tidak bisa seperti kehidupan orang lain. Sebagian lain depresi, tertekan karena dianggap miskin, hina, jelek atau terkelakang. Mereka kalut dan kehilangan kepercayaan diri.
Para sufi bilang, manusia seperti ini telah kehilangan jati diri atau kesadaran diri. Dia tidak bisa “present” (hadir) di kehidupan nyata. Dia tidak bisa “sadar” bahkan ketika matanya “terbelalak”. Dia terpengaruh menjadi “ribut” dalam keriuhan kehidupan. Wah, dalam sekali ya…
Para sufi bilang, manusia seperti ini telah kehilangan jati diri atau kesadaran diri. Dia tidak bisa “present” (hadir) di kehidupan nyata. Dia tidak bisa “sadar” bahkan ketika matanya “terbelalak”. Dia terpengaruh menjadi “ribut” dalam keriuhan kehidupan. Wah, dalam sekali ya…
Semoga kita bisa lebih mendalami
makna hidup. Mencari kebahagiaan dengan jalan yang benar dan mengikuti parameter
orang berbahagia. Saling mendoakan kebahagiaan antar sesama manusia. Menjaga
anak-anak dan keluarga kita. Supaya kita tidak dibingungkan oleh kehidupan ini,
sama seperti kebingungan Aisha -yang bertanya yang sedari tadi memperhatikan si ayah-, “Ayah, tulisan ini tentang
apa dan untuk siapa?. Untuk anak-anak atau orang tua? Pertanyaan lucu.. Hehehe…oke deh, mari
berangkat ke sekolah dan sore nanti kita pergi ke toko buku lagi ya….

0 Comments