Oleh: M. Ridwan
Di jaman modern ini, investasi merupakan trend. Kebiasan investasi merupakan hal yang harus dipupuk sejak dini. Ribuan buku tentang investasi memenuhi rak-rak toko buku atau juga mungkin lemari buku kita. Semuanya menganjurkan hal yang sama, Segeralah Berinvestasi..!!!
Berinvestasi itu bisa dilakukan di berbagai instrumen. Bisa ke saham atau reksadana, properti, atau emas (sebagian mengatakan emas bukan instrumen investasi, hanya lindung nilai). Berbagai perusahaan ataupun personal menawarkan produk investasi yang beragam dan tentunya menjanjikan bisa "membiakkan" uang Anda. Mantap.
Namun, tulisan saya tidak berhubungan sama sekali dengan investasi ke dalam instrumen keuangan ala saham, properti atau reksadana. Silahkan saja buku-buku tentang investasi. Oh ya, saya juga ada memasukkan beberapa pembahasan mengenai investasi di buku teranyar 2015 ini, terbitan FEBI Press dengan judul "The Handbook of Islamic Financial Planning for Family". Kebetulan, buku ini adalah made in "dewe". Thanks to DR. Azhari Akmal Tarigan dan DR. Muhammad Yafiz dan DR. Chuzaimah Batubara yang telah memprakarsai penerbitan buku ini. Di dalamnya, saya memuat hal-hal yang harus dipahami mengenai perencanaan keuangan sesuai Islam, termasuk juga mengupas mengenai instrumen investasi yang harus dikuasai. Miliki segera, ya, bukunya bagus..(kok jadi promosi nih :).
Kembali ke laptop
Nenekku seorang "investor"?. Bagaimana mungkin?
Kami memanggilnya "Andong". Itu adalah sebutan khas dalam bahasa Melayu Langkat untuk mengganti sebutan nenek yang sering dipakai dalam bahasa Indonesia.
Nenekku ini bernama Taksiah. Meninggal dalam usia 86 tahun pada tahun 2003 lalu.
Ia tidak mengecap pendidikan sama sekali. Sehingga ia tidak bisa membaca dan menulis Ia lebih senang mendengarkan bacaan dari para cucunya. Kendati demikian, ia memiliki bakat berdagang dan merupakan sosok pekerja keras. Anak-anaknya diajarkan untuk mandiri dan pantang menyerah dalam hidup.
Lalu, kenapa saya menyebut sebagai "investor"?.
Investor yang saya maksud adalah investor akhirat. Akhirat juga layak menjadi "instrumen" investasi. Soalnya, fasilitas dan properti di dalamnya luar biasa indah, nikmat, sehingga tentu saja sangat mahal. Saya kira, harga tanah per meter di surga itu pasti lebih dari ribuan trilyunan. Itu satu meter lho. Belum lagi dengan fasilitas yang ada di atasnya. Tak terhitung dan tidak bisa dibandingkan dengan properti di Dubai, Baverly Hills, atau Pantai Indah Kapuk (PIK) ya..:)
Nah, apa yang dilakukan nenekku ini unik. Setiap pagi, ia memberikan kue dan sarapan kepada kami -para cucunya- yang hendak berangkat ke sekolah. Kue dan sarapan itu dikirimnya dengan perantaraan orang lain ke rumah. Kendati, saya sudah sarapan di rumah, namun selalu saja kue itu hadir setiap pagi ke rumah.
Di lain waktu, saya melihatnya menanam beberapa pohon durian di pinggir sebuah sungai. Beberapa anak-anak pernah bertanya, "Nek, mengapa harus menamam pohon durian?. Bukankah ia membutuhkan waktu lama untuk berbuah?. Si nenek hanya tersenyum. Dan kini, buah dari pohon itu selalu dinikmati anak-anak yang lalu di sekitarnya. Kendati ia telah meninggal, hasil usahanya (asar) nya dinikmati orang lain. Ia mempraktikkan betul hadis nabi, "Jika engkau memiliki sebiji kurma untuk ditanam, maka tanamlah meskipun esok akan kiamat." Luar biasa.
Dalam ke-ummi-annya, nenek ini melakukan apa yang menurutnya mampu dilakukan. Kendati menyadari bahwa ia bukanlah sosok yang hebat hebat, ia justru ikhlas dan bangga menjadi investor akhirat. Ia berinvestasi dalam kesuksesan orang lain. Menjadi makelar rejeki dan ilmu. Beberapa anaknya, ada yang menjadi guru, dosen, dan pengusaha. Wah, investasi akhiratnya pasti terus bertambah. Mengalir.
Saya kira ia adalah orang-orang cerdas dan itu baru disadari ketika ia justru tidak lagi berada di tengah-tengah keluarganya.
Sang nenek tentu tidak memahami dunia investasi di pasar saham, atau properti ala manusia modern saat ini. Ia tidak pernah tahu apakah ia adalah tipe investor yang risk taker atau tidak. Bahkan, ia tidak mempertanyakan berapa "capital gain" yang ia dapatkan.
Orang seperti ini, saya kira cukup banyak di negeri ini. Saya sering bertemu dengan sosok-sosok seperti itu. Dari berbagai kalangan. Mereka bekerja tanpa pamrih untuk memberikan kebaikan bagi masyarakat. Nama mereka mungkin tidak dicatat dalam sejarah, tidak dipublikasikan media karena mereka memang tidak mahir selfie dan narsis :). Mereka tidak suka keriuhan.
Nabi menyebut mereka sebagai orang yang "aneh" atau "ghuraba". Ceritanya begini, Nabi pernah menyatakan bahwa Islam itu pernah dianggap aneh ketika datang pertama kali kepada manusia. Menurut Rasul, pada akan datang suatu jaman, dimana Islam juga akan kembali dianggap anehnya. Ajarannya dipandang sebelah mata, atau mungkin dicemooh.
Dalam kondisi seperti ini, -menurut Nabi- akan muncul orang-orang aneh. Salah satu kriteria orang aneh tersebut adalah mereka yang selalu memberi nilai tambah dalam kehidupan (Allazina yaziduna iz naqasa al-nas: Orang yang memberi nilai tambah ketika manusia lainnya menguranginya).
Bumi ini membutuhkan para investor akhirat dan para ghuraba' (orang-orang aneh). Orang yang tidak hingar bingar dalam berjuang, namun hasil kerjanya terasa, lezat dan bermanfaat. Keberadaannya kita rindukan dan kita kehilangan ketika mereka tidak berada di tengah kita lagi.
Saya kira, sang nenek dan para pejuang tampa pamrih di negeri ini adalah orang-orang aneh ini. Termasuk para guru yang hari ini kita peringati perjuangannya.
Selamat Hari Guru...Moga Jasamu dibalas oleh Allah.
Mudah-mudahan, kita termasuk di dalamnya. Yuk jadi investor akhirat dan dunia sekaligus.

0 Comments