Oleh: M. Ridwan
Saya sangat bersyukur, Sabtu kemarin,
bisa mengikuti Yudisium di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UINSU. Selain karena
turut bahagia menyaksikan wajah-wajah ceria para wisudawan dan para orang tua yang
bangga dengan pencapaian anaknya, namun juga karena saya merasa bahwa ada pesan
mendalam yang saya dapatkan dari 2 (dua) pembicara hari ini. Pertama,
dari orasi ilmiah yang disampaikan oleh DR. H. Saparuddin, SE, Ak, SAS, MAg.
Dosen dengan seabrek gelar akademik yang disandingkan dengan namanya adalah
juga Direktur Utama BPRS Puduarta Insani –BPRS yang pernah mendapatkan
penghargaan nasional sebagai salah satu BPRS yang terbaik di Indonesia. Bang
Sapar, demikian panggilan akrab beliau, menyampaikan orasi seputar Sumber
Daya Insani BPRS di Indonesia.
Materi orasinya, padat, mantap
dan langsung mengena sasaran. Sorotannya yang kritis terhadap fenomena lembaga
keuangan syariah, saya kira, patut menjadi catatan kita bersama dalam
memikirkan ulang bagaimana menciptakan SDI yang betul-betul mumpuni,
berintegritas dan islami. Betapa tidak, kendati perkembangan ekonomi syariah
yag ditandai dengan menjamurnya lembaga keuangan syariah menunjukkan
peningkatan jumlah dari hari ke hari, namun Bang Sapar berhasil menunjukkan
bahwa perkembangan lembaga keuangan syariah –dengan BPRS sebagai objek
kajiannya- tidak bisa menghindarkan diri aktifitas fraud atau moral hazard.
Kendati pelakunya sedikit, tapi tentu saja mencoreng keberadaan ekonomi syariah
yag saat ini tengah menjadi trend.
Pesan berikutnya, saya dapatkan
dari pidato dari DR. H. Azhari Akmal Tarigan, MA. Bang Akmal –demikian kami
menyebutnya- adalah Dekan FEBI yang juga adalah dosen, ustaz, kolumnis dan
penulis banyak buku ini menguraikan panjang lebar mengenai peran alumni ekonomi
Islam untuk ikut serta memperbaiki carut-marut ekonomi bangsa dengan terus
mengembangkan potensi yang mereka miliki. Tidak hanya sebatas menyelesaikan
program Strata S-1 atau membuat kampus baru alias menikah. Hehehe :)
Yang menjadi catatan saya adalah adanya
ungkapan “krisis eksistensi” yang dikutip bang Akmal dari pernyataan dari Anggito Abimanyu –pakar ekonomi
yang pernah menjabat sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Depkeu dan
kemudian menjadi Direktur Haji dan Umrah Kemenag-. Menurut Anggito, sebagaimana
yang disampaikannya, bahwa bahwa ekonomi syariah memang memiliki kemampuan
untuk mewujudkan tatanan ekonomi dunia yang lebih baik, namun misi ini akan
terhambat jika permasalahan seperti kurangnya SDI yang berkualitas dan
berintegritas tidak segera dicarikan jalan keluarnya.
Nah, rekomendasi dari Pak Anggito,
bahwa untuk melakukan akselerasi ekonomi syariah di Indonesia atau dunia
sekalipun, maka terlebih dahulu harus ada upaya untuk menyelesaikan krisis
eksistensi yang melanda manusia modern saat ini khususnya para pegiat ekonomi
syariah.
Penelusuran singkat di Google
membawa saya pada penjelasan panjang lebar mengenai pengertian krisis
eksistensi ini. Seperti apa yang dikatakan oleh Jason Winkler, seorang
Psikoterapis dari Toronto yang mendalami bidang ini, bahwa krisis eksitensi
adalah sebuah krisis yang terjadi dalam diri manusia sebagai manisfestasi kebingungan
akan kehidupan yang dialaminya. Manusia yang mengalaminya akan dibingungkan
dengan keberadaannya di dunia ini, entah itu pertanyaan seperti dimanakah aku
berada, apakah aku berarti dalam hidup atau bagaimana kedudukanku di dalam
semesta ini?. Winkler menyebutkan beberapa contoh gejala krisis eksistensi ini
seperti kehilangan makna hidup yang dialami seseorang, perasaan diskoneksi
dengan orang lain atau kecewa berat. Penjelasan si Winkler ini panjang lebar
sekali. Silahkan Google sendiri ya….
Saya tertarik dengan istilah
krisis eksistensi ini ketika dikaitkan dengan perkembangan ekonomi syariah.
Yup, banyak harapan disandarkan kepada bidang ini. Adik baru bidang ekonomi ini
diharapkan memecahkan masalah ekonomi dunia yang sudah terjerat oleh benang
kusut sistem keuangan ribawi, sakitnya tatanan kedialan distribusi dan
kenyataan semakin melebarnya jurang antara si miskin dan si kaya. Ratusan tahun
sistem ini telah menggenggam dunia, bahkan mencabik-cabiknya. Puluhan krisis
ekonomi adalah buktinya.
Se-tragis itukah kondisinya ?.
Tentu saja. Kendati kita terkadang tidak meyadarinya, karena simpton yang
dihasilkannya perlahan dan nyaris tak terasa. Sehingga, tidak heran kalau
kitapun bisa saja berargumen, “Toh, aku tidak merasakan ada masalah berarti di
dunia, nothing to worry about, dst.
Saya kira, krisis ekonomi adalah
manifestasi dari krisis eksistensi tadi. Krisis keberadaan manusia di bumi ini.
Manusia sebagai pelaku ekonomi sangat rentan dengan krisis yang terjadi pada
dirinya sendiri. Manusia bisa menjadi bingung untuk apa hidup, bekerja atau
kemana hasil kerja itu digunakan. Kebingungan ini sedikit banyak, -saya kira
lebih banyak- menjadi biang kerok permasalahan ekonomi.
Makanya, saya setuju dengan kedua
pemateri di Yudisium kemarin yang menekankan perlunya reorientasi ulang
terhadap nilai-nilai ketuhanan dalam aktifitas ekonomi khususnya ekonomi
syariah yang kita lakukan.
Tentu saja, hal terpenting bukan
lagi sekedar mempertanyakan berapa market share perbankan syariah yang harus
kita kejar, atau berapa keuntungan dan kekayaan yang bisa kita kumpulkan di
dunia.
Syukurlah, Islam memiliki segala
konsep nilai dan praktik yang bisa kita jadikan guideliness termasuk
dalam mengatasi krisis eksistensi ini. Hemat saya, jangan sampai fenomena
krisis eksistensi yang sering dialami manusia sekuler malah menginfeksi muslim
yang memiliki panduan sempurna (Alquran dan Hadis). Lucu saja sih, jika muslim
malah menjadi korban dan fenomena krisis eksistensi ini.
Tapi, memang ada baiknya kita
selalu intropeksi, setiap detik dan menit.
Kita harus bertanya, seberapa
besar kualitas kehambaan kita di mata Tuhan, dan seberapa besar dedikasi tulus
ikhlas kita terhadap manusia lain. Jangan-jangan, arogansi dan ‘ujub telah
menutup diri mata hati kita dari kebenaran.
Hidup memang perjuangan, menjadi
khalifah Tuhan di muka bumi. Yang sejati tentunya. Mungkin saja seperti lagu Bahtera
Merdeka yang kami nyanyikan untuk para wisudawan kemarin.
Bunda senyum riang
Menerima bahtera merdeka
Putra putri sayang
Putra putri sayang
Sedang berjuang
Fajar telah tiba
Nan menyinsing membawa harapan
Tanah Semenanjung
Tanah Semenanjung
Permata nilam
Reff
Jiwa dan raga
Buktikanlah pada nusa bangsa
Supaya negara maju jaya
Aman merdeka
Duhai ibu pertiwi
Putra putri datang sujud bakti
Ingin menunaikan
Ingin menunaikan
Sumpah dan janji
Kendati lagu di atas dalam
konteks perjuangan membela negara, namun saya kira lagu di atas juga senada dengan
pesan Luqmanul Hakim –tokoh bijakasana yang disebut Alquran- yang
mengumpamakan bahwa dunia-pun adalah medan perjuangan. Dunia ibarat lautan luas
dan dalam dimana banyak manusia yang tenggelam dalam membahwa bahtera hidupnya.
Kenapa?, karena manusia tidak
berhasil mengatasi krisis eksistensinya sendiri, gagal menjadi hamba Tuhan dan
gagal menjadi manusia seutuhnya.
Selamat berakhir pekan ya.

0 Comments