Ticker

6/recent/ticker-posts

Existensial Crisis: Menyingkap Permasalahan Utama Dunia


Oleh: M. Ridwan

Saya sangat bersyukur, Sabtu kemarin, bisa mengikuti Yudisium di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UINSU. Selain karena turut bahagia menyaksikan wajah-wajah ceria para wisudawan dan para orang tua yang bangga dengan pencapaian anaknya, namun juga karena saya merasa bahwa ada pesan mendalam yang saya dapatkan dari 2 (dua) pembicara hari ini. Pertama, dari orasi ilmiah yang disampaikan oleh DR. H. Saparuddin, SE, Ak, SAS, MAg. Dosen dengan seabrek gelar akademik yang disandingkan dengan namanya adalah juga Direktur Utama BPRS Puduarta Insani –BPRS yang pernah mendapatkan penghargaan nasional sebagai salah satu BPRS yang terbaik di Indonesia. Bang Sapar, demikian panggilan akrab beliau, menyampaikan orasi seputar Sumber Daya Insani BPRS di Indonesia.

Materi orasinya, padat, mantap dan langsung mengena sasaran. Sorotannya yang kritis terhadap fenomena lembaga keuangan syariah, saya kira, patut menjadi catatan kita bersama dalam memikirkan ulang bagaimana menciptakan SDI yang betul-betul mumpuni, berintegritas dan islami. Betapa tidak, kendati perkembangan ekonomi syariah yag ditandai dengan menjamurnya lembaga keuangan syariah menunjukkan peningkatan jumlah dari hari ke hari, namun Bang Sapar berhasil menunjukkan bahwa perkembangan lembaga keuangan syariah –dengan BPRS sebagai objek kajiannya- tidak bisa menghindarkan diri aktifitas fraud atau moral hazard. Kendati pelakunya sedikit, tapi tentu saja mencoreng keberadaan ekonomi syariah yag saat ini tengah menjadi trend.

Pesan berikutnya, saya dapatkan dari pidato dari DR. H. Azhari Akmal Tarigan, MA. Bang Akmal –demikian kami menyebutnya- adalah Dekan FEBI yang juga adalah dosen, ustaz, kolumnis dan penulis banyak buku ini menguraikan panjang lebar mengenai peran alumni ekonomi Islam untuk ikut serta memperbaiki carut-marut ekonomi bangsa dengan terus mengembangkan potensi yang mereka miliki. Tidak hanya sebatas menyelesaikan program Strata S-1 atau membuat kampus baru alias menikah. Hehehe :)

Yang menjadi catatan saya adalah adanya ungkapan “krisis eksistensi” yang dikutip bang Akmal dari  pernyataan dari Anggito Abimanyu –pakar ekonomi yang pernah menjabat sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Depkeu dan kemudian menjadi Direktur Haji dan Umrah Kemenag-. Menurut Anggito, sebagaimana yang disampaikannya, bahwa bahwa ekonomi syariah memang memiliki kemampuan untuk mewujudkan tatanan ekonomi dunia yang lebih baik, namun misi ini akan terhambat jika permasalahan seperti kurangnya SDI yang berkualitas dan berintegritas tidak segera dicarikan jalan keluarnya.

Nah, rekomendasi dari Pak Anggito, bahwa untuk melakukan akselerasi ekonomi syariah di Indonesia atau dunia sekalipun, maka terlebih dahulu harus ada upaya untuk menyelesaikan krisis eksistensi yang melanda manusia modern saat ini khususnya para pegiat ekonomi syariah.

Penelusuran singkat di Google membawa saya pada penjelasan panjang lebar mengenai pengertian krisis eksistensi ini. Seperti apa yang dikatakan oleh Jason Winkler, seorang Psikoterapis dari Toronto yang mendalami bidang ini, bahwa krisis eksitensi adalah sebuah krisis yang terjadi dalam diri manusia sebagai manisfestasi kebingungan akan kehidupan yang dialaminya. Manusia yang mengalaminya akan dibingungkan dengan keberadaannya di dunia ini, entah itu pertanyaan seperti dimanakah aku berada, apakah aku berarti dalam hidup atau bagaimana kedudukanku di dalam semesta ini?. Winkler menyebutkan beberapa contoh gejala krisis eksistensi ini seperti kehilangan makna hidup yang dialami seseorang, perasaan diskoneksi dengan orang lain atau kecewa berat. Penjelasan si Winkler ini panjang lebar sekali. Silahkan Google sendiri ya….

Saya tertarik dengan istilah krisis eksistensi ini ketika dikaitkan dengan perkembangan ekonomi syariah. Yup, banyak harapan disandarkan kepada bidang ini. Adik baru bidang ekonomi ini diharapkan memecahkan masalah ekonomi dunia yang sudah terjerat oleh benang kusut sistem keuangan ribawi, sakitnya tatanan kedialan distribusi dan kenyataan semakin melebarnya jurang antara si miskin dan si kaya. Ratusan tahun sistem ini telah menggenggam dunia, bahkan mencabik-cabiknya. Puluhan krisis ekonomi adalah buktinya.

Se-tragis itukah kondisinya ?. Tentu saja. Kendati kita terkadang tidak meyadarinya, karena simpton yang dihasilkannya perlahan dan nyaris tak terasa. Sehingga, tidak heran kalau kitapun bisa saja berargumen, “Toh, aku tidak merasakan ada masalah berarti di dunia, nothing to worry about, dst.

Saya kira, krisis ekonomi adalah manifestasi dari krisis eksistensi tadi. Krisis keberadaan manusia di bumi ini. Manusia sebagai pelaku ekonomi sangat rentan dengan krisis yang terjadi pada dirinya sendiri. Manusia bisa menjadi bingung untuk apa hidup, bekerja atau kemana hasil kerja itu digunakan. Kebingungan ini sedikit banyak, -saya kira lebih banyak- menjadi biang kerok permasalahan ekonomi.

Makanya, saya setuju dengan kedua pemateri di Yudisium kemarin yang menekankan perlunya reorientasi ulang terhadap nilai-nilai ketuhanan dalam aktifitas ekonomi khususnya ekonomi syariah yang kita lakukan.

Tentu saja, hal terpenting bukan lagi sekedar mempertanyakan berapa market share perbankan syariah yang harus kita kejar, atau berapa keuntungan dan kekayaan yang bisa kita kumpulkan di dunia.

Syukurlah, Islam memiliki segala konsep nilai dan praktik yang bisa kita jadikan guideliness termasuk dalam mengatasi krisis eksistensi ini. Hemat saya, jangan sampai fenomena krisis eksistensi yang sering dialami manusia sekuler malah menginfeksi muslim yang memiliki panduan sempurna (Alquran dan Hadis). Lucu saja sih, jika muslim malah menjadi korban dan fenomena krisis eksistensi ini.

Tapi, memang ada baiknya kita selalu intropeksi, setiap detik dan menit.
Kita harus bertanya, seberapa besar kualitas kehambaan kita di mata Tuhan, dan seberapa besar dedikasi tulus ikhlas kita terhadap manusia lain. Jangan-jangan, arogansi dan ‘ujub telah menutup diri mata hati kita dari kebenaran.

Hidup memang perjuangan, menjadi khalifah Tuhan di muka bumi. Yang sejati tentunya. Mungkin saja seperti lagu Bahtera Merdeka yang kami nyanyikan untuk para wisudawan kemarin.

Bunda senyum riang
Menerima bahtera merdeka
Putra putri sayang
Putra putri sayang
Sedang berjuang

Fajar telah tiba
Nan menyinsing membawa harapan
Tanah Semenanjung
Tanah Semenanjung
Permata nilam

Reff
Jiwa dan raga
Buktikanlah pada nusa bangsa
Supaya negara maju jaya
Aman merdeka

Duhai ibu pertiwi
Putra putri datang sujud bakti
Ingin menunaikan
Ingin menunaikan
Sumpah dan janji

Kendati lagu di atas dalam konteks perjuangan membela negara, namun saya kira lagu di atas juga senada dengan pesan Luqmanul Hakim –tokoh bijakasana yang disebut Alquran- yang mengumpamakan bahwa dunia-pun adalah medan perjuangan. Dunia ibarat lautan luas dan dalam dimana banyak manusia yang tenggelam dalam membahwa bahtera hidupnya.

Kenapa?, karena manusia tidak berhasil mengatasi krisis eksistensinya sendiri, gagal menjadi hamba Tuhan dan gagal menjadi manusia seutuhnya.

Selamat berakhir pekan ya. 


Post a Comment

0 Comments