Ticker

6/recent/ticker-posts

The Real or Virtual Hero?

Real Hero adalah pahlawan sungguhan, sejati dan pejuang nyata. Fisik mereka nyata dan memiliki 4 dimensi. Entah itu karena mereka berjuang dengan senjata, pikiran, kata-kata atau perbuatan. Sedangkan Virtual Hero adalah pahlawan virtual, rekaan. Wujudnya ada tapi hanya di alam awang-awang. Keberadaan mereka tiada tapi diada-adakan. Istilah ini saya buat sendiri ketika tadi pagi mengikuti peringatan hari pahlawan 10 November 2015, hari ini.

Pahlawan nyata itu banyak, mungkin jumlahnya ribuan atau jutaan. Namun, keterbatasan aksara para penulis tentang mereka menyebabkan keberadaan mereka nyaris dan memang tidak terdengar.
Sejarah hanya berhasil me-record beberapa saja di antara mereka. Di Indonesia, dari jutaan pahlawan yang ada, hanya beberapa saja yang sering disebutkan. Sebut saja, Imam Bonjol, Diponegoro, Pattimura, RA Kartini, Cut Nyak Dien, Jendral Sudirman, Sisingamangaraja, Soekarno Hatta, dll.
Meski hanya mereka yang disebutkan, tapi sudah cukuplah menjadi representasi para pahlawan lainnya. Dan, saya yakin, para pahlawan lainnya-pun -seandainya- mereka hidup- tidak akan protes atau berupaya supaya dikenal, narsis dan berkoar-koar mengatakan "Akulah Pahlawan Itu, masukkan aku ke dalam buku sejarah kalian....!!!" .

Fokus saya dalam tulisan ini adalah pahlawan tidak nyata, virtual hero. Mereka nyata hanya dalam dunia khayal. Jumlahnya banyak dan terus bisa bertambah. Sebut saja para Avengers hasil besutan Marvel Production, Superman, Batman dan pahlawan fiksi lainnya. Atau, para jagoan dalam games-games yang dimainkan anak-anak kita. Anak-anak kita sangat menyukainya, mencintai mereka bahkan mungkin melebihi kecintaan mereka kepada para orang tuanya.

Keberadaan pahlawan virtual bahkan bertambah runyam dengan munculnya para "pahlawan kesiangan". Sebutan ini akrab di telinga wong Indonesi dan sering ditujukan kepada orang-orang yang tidak melakukan apa-apa, nothing but talking only, namun entah karena nasib baik atau rekayasa suara dan berita, mereka tiba-tiba dianggap sebagai pahlawan. Jumlah mereka bejibun.

Padahal, mereka justru tidur ketika orang lain terbangun. Atau, mereka bermandikan keringat, bukan karena  berjuang, tapi mungkin karena habis "kekenyangan" menikmati hasil dari tanah negeri ini, hasil perjuangan the real heros. Untuk jumlahnya, saya tidak tahu. Yang jelas lebih banyak dari the real heros.Mereka menikmati kemashyuran, kekayaan dan semua kenyamanan hidup.

Apa pesan Hari Pahlawan hari ini?
Banyak. Salah satunya bahwa pahlawan itu tidak takut mati demi kemerdekaan negeri ini.

Pahlawan itu ikhlas berjuang kendati para tuan tanah memiliki ribuan hektar tanah dan segunung pundi uang dan emas. Kendati orang akan mencibir mereka dan berkata, "Buat apa berperang, masuk hutan turun gunung dan melawan penjajah? Kenapa tidak bekerjasama saja dengan penjajah dan menikmati kenyamanan hidup.?

Pahlawan nyata di dunia modern, mungkinkah ada? Lalu, apakah kita memiliki jiwa pahlawan? Jiwa Bushido ala Jepang? Patriotisme ala Bung Tomo, semangat jihad ala Salahuddin Al-Ayyubi?
Seabrek pertanyaan menggelayut di pikiran ini.

Atau, sudah ikhlaskah kita berkorban untuk negeri ini dan kemanfaatan hidup manusia lain? Di tengah jaman hedonis, materialistis dan permissif ini

Untuk jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas, saya kok jadi pesimis untuk menjawabnya, iya. Saya telah kehilangan para pahlawan nyata -the real heros-  untuk diceritakan kepada kedua putri saya. Atau, haruskah saya mencekoki mereka dengan the virtual heros ala The Avengers?

Bagaimana dengan Anda?. Yang jelas, saya akan memulainya dengan mendownload lagu-lagu perjuangan yang tersedia di Youtube dan memperdengarkannya kepada anak-anak lugu ini.

Post a Comment

0 Comments