Posts

Tears of The World: Ketika Nasib Dunia Di Tangan Si Zalim

Image
By: M. Ridwan Saya ibarat menyaksikan film Tears of The Sun ketika membaca berita pelarangan imigran dari negeri muslim masuk ke Amerika. Film ini dibintangi oleh Bruce Wilis dan dirilis tahun 2003. Kisahnya tentu saja fiksi yaitu tentang perjuangan heroik sepasukan Navy US dalam menyelamatkan para pengungsi di Afrika. Awalnya sih, mereka hanya bermaksud menyelamatkan seorang warga negara Amrik yang sedang menjalankan misi kemanusiaan. Namun, hati nurani mereka menjadi luluh menyaksikan betapa kejamnya peperangan dan betapa menderitanya para pengungsi yang dibunuh, dan disiksa para pemberontak. Sehingga, misi merekpun akhirnya mengikuti hati nurani, yaitu berperang melawan pemberontak demi menyelamatkan para pengungsi yang terzalimi tadi. Namun, lain film lain kenyataan. Apa yang dilakukan Donal Trump dengan melarang para pengungsi, imigran dari 7 negara muslim, justru menunjukkan bahwa presiden Amrik yang baru ini tidak memiliki hati nurani. Mungkin dalam pikirannya, "ped...

Mau Menyelamatkan Umat? Begini Caranya !!!

Image
By: M. Ridwan Entah berapa banyak broadcast yang masuk ke akun medsos saya. Namun, yang paling menarik perhatian saya saat ini adalah pesan-pesan berantai bernada kekhawatiran yaitu informasi bahwa telah terjadi gerakan masif dan infiltrasi asing di bumi pertiwi ini. Infonya cukup menyeramkan.  Ada pula info tentang gerakan komunisme yang "katanya" telah nyata dan harus segera diantisipasi. Berbagai simbol palu arit ditengarai dengan sengaja telah disosialisasikan. Tidak tanggung-tanggung, logo ini “katanya” bahkanditemukan di uang kertas baru keluaran BI sehingga Bank Indonesia merasa perlu mengklarifikasi bahwa logo ini sama sekali tidak berhubungan dengan paham yang dilarang di negeri ini. Bingung ya? Seorang teman di medsos meyakinkan bahwa kondisi negeri ini memang mengkhawatirkan. Info-info yang berseliweran di media sosial, -masih katanya- adalah benar, valid dan realiabel. Wah,wah, bahaya tuh. Nah, tanpa bermaksud menyepelekan informasinya, saya melih...

The World of "Casing

Image
By: M. Ridwan Istilah " casing " ini saya dapatkan dari seorang penjaga parkir di Jakarta Convention Center (JCC) yang saat itu mengadakan perhelatan akbar komputer dan elektronik. Dialog terjadi antara dua orang penjaga parkir yang terlihat sedang santai menjaga kendaraan para pengunjung. "Mas, kapan kita bisa seperti mereka ya?. Ganteng, cakep dan kaya-kaya", ujar seorang penjaga kepada temannya. Mereka mengamati para pengunjung pameran yang terlihat menenteng berbagai barang belanjaan dengan bahagia. Ada yang membeli laptop, kamera atau sekedar aksesoris komputer dan handphone.  Setuju atau tidak, dalam penilaian banyak orang, biasanya pengunjung pameran komputer, lektronik  apalagi automotif adalah golongan kelas menengah ke atas. Kelas masyarakat ini dianggap sudah masuk ke dalam zona mapan dan lebih cendrung suka kepada life style yang wah.  Maka tampilannya juga sedikit berbeda dan berkelas. Kelas menengah Jakarta, lho. Adapun yang menarik...

Like or Dislike

Image
By: M. Ridwan Akhirnya, yang saya khawatirkan terjadi. Saling serang dan mengadu ke aparat kepolisian terjadi. Setelah Ahok dilaporkan ke polisi atas sangkaan penistaan agama, kini Habib Rizzieq juga dilaporkan dengan kasus yang sama. Saya tidak dapat membayangkan jika, semakin hari akan semakin banyak masyarakat melakukan hal serupa, pastilah pekerjaaan warga negeri ini ke depan ya  tidak lain hanyalah saling melaporkan, saling serang di medsos, bahkan bisa berujung kepada perpecahan dan disitegrasi bangsa. Bangsa yang "hebat" ya?. Permasalahan primordial dan SARA memang selalu mampu menjadi biang kerok. Namun, menjadi bangsa yang besar itu memerlukan banyak latihan. Indonesia harus melewati proses ini menuju kematangan. Semua negera besar mengalami proses ini. Bahkan, negera besar yang sudah dianggap matang-pun belum tentu bisa melepaskan diri dari permasalahan primordial dan SARA. Katakalah, Amerika yang sampai saat ini masih belum bisa dianggap fair dalam menyik...

To be a HIM: High Impact Muslim

Image
By: M. Ridwan HIM itu singkatan dari High Impact Muslim , atau Muslim yang Memiliki Impact/Pengaruh yang Tinggi. Untuk selanjutnya saya menggunakankan kata HIM saja ya. Istilah ini terbersit ketika saya bertemu dengan beberapa orang yang menurut saya memiliki impact atau pengaruh besar di lingkungannya dan tentunya kepada diri saya sendiri. Menariknya, secara kasat mata, mereka mungkin saja adalah nobody , bukan siapa-siapa dalam kacamata manusia kini. Ada di antara mereka yang berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar dengan pangkat rendah dan tentunya gaji yang rendah Ada perempuan berdedikasi yang mengajar anak-anak mengaji dengan dengan bayaran yang hampir gratis. Ada petugas cleaning service yang setiap hari dengan setia menyapu ruangan kantor. Ada para ustaz kelas "kampung" yang dengan setia berdakwah dengan sepeda motor bututnya, dan tentunya tidak pernah mematok tarif seperti para artis.  Ada para ibu rumah tangga yang dengan setia dan ikhlas mendidik anak, ta...

Mari'e Muhammad: The Pride of Nation Itu Telah Tiada

Image
By: M. Ridwan Berita duka bergayut di persada negeri. Mari'e Muhammad, sang Mr Clean itu telah tiada. Siapa yang tidak mengenal sosoknya yang sering lugas dan tegas berbicara. Dan tentunya bersih dari prilaku koruprif. Perkenalan saya dengan dirinya termasuk unik. Sekitar tahun 2010 lalu. Saat itu saya  mengisi khutbah Jumat di Bank Mega dimana beliau adalah salah seorang komisarisnya.  Materi yang saya sampaikan cukup sederhana yaitu tentang The Pride of God, menjadi hamba kebanggan Tuhan. Kupasannya terkait kiat menyikapi rejeki halal, management keuangan Islami dan tentunya bagaimana menyikapi problem finansial dan moral hazard di negeri ini. Maklum, para jamaah adalah kalangan bankir dan praktisi keuangan. Inti khutbah,jika kita berdedikasi menjadi hamba kebanggaan Allah, maka dipastikan juga kita bisa menjadi pribadi kebanggan negeri. The Pride of Nation. Menjadi hamba Tuhan itu bisa diperankan oleh siapa saja khususnya para praktisi dengan berdedikasi ...

November, 4, 2016: Ketika Alquran Menarik Jiwa Anak Negeri

Image
By: M. Ridwan Demo 4 November kemarin akhirnya terjadi juga. Kisah ini tentunya sudah tercatat di Lauhil Mahfuz. Itu takdir negeri hijau bernama Indonesia ini dan tentunya menjadi bagian dari cerita kehidupan anak negeri, siapapun dia, bukan hanya untuk Ahok atau Jokowi. Bagi sebagian besar warga muslim negeri ini, demo kemarin tentunya bisa menjadi momentum untuk kembali kepada ajaran Alquran. Ada energi Alquran yang harus digali dan dimiliki. Ada kekuatan ukhuwah Islamiyah yang harus dipupuk dan ditata kembali. Kekuatan ini ternyata sangat besar dan tersembunyi. Dan, demo kemarin tentunya hanyalah sebagian kecil kekuatan yang ditunjukkan. Namun, kita juga mafhum jika tidak semua orang paham apa yang terjadi. Tidak semua orang tahu apa itu tafsir, termasuk memahami apa isi al-Maidah ayat 51 itu. Wong, membaca Alquran saja terbilang jarang dilakukan dan tertatih-tatih. Konon pula memahami tafsirnya :). Makanya, kita juga tidak heran bila banyak orang yang bengong, me...