Ticker

6/recent/ticker-posts

Mari'e Muhammad: The Pride of Nation Itu Telah Tiada

By: M. Ridwan

Berita duka bergayut di persada negeri. Mari'e Muhammad, sang Mr Clean itu telah tiada. Siapa yang tidak mengenal sosoknya yang sering lugas dan tegas berbicara. Dan tentunya bersih dari prilaku koruprif.

Perkenalan saya dengan dirinya termasuk unik. Sekitar tahun 2010 lalu. Saat itu saya  mengisi khutbah Jumat di Bank Mega dimana beliau adalah salah seorang komisarisnya. 

Materi yang saya sampaikan cukup sederhana yaitu tentang The Pride of God, menjadi hamba kebanggan Tuhan. Kupasannya terkait kiat menyikapi rejeki halal, management keuangan Islami dan tentunya bagaimana menyikapi problem finansial dan moral hazard di negeri ini. Maklum, para jamaah adalah kalangan bankir dan praktisi keuangan.

Inti khutbah,jika kita berdedikasi menjadi hamba kebanggaan Allah, maka dipastikan juga kita bisa menjadi pribadi kebanggan negeri. The Pride of Nation. Menjadi hamba Tuhan itu bisa diperankan oleh siapa saja khususnya para praktisi dengan berdedikasi menggapai rejeki halal dan membudayakan sikap berbagi. Sharing is caring. Oh ya, The Pride of Nation adalah slogan dari bank Mega saat itu.

Nah, setelah sholat, pengurus mesjid menjumpai saya. Katanya pak Mari'e Muhammad ingin bertemu. Kaget? Tentu saja. Soalnya, sosok beliau selama ini hanya saya kenal melalui media. Saya sangat mengagumi beliau. Saya tidak menyangka beliau ternyata salah satu jamaah sholat Jumat kala itu. Kata pengurus, biasanya, jika Pak Mari'e mengajak bertemu Khatib artinya ia tertarik dengan materi. Kegeeran ya..:)

Singkat cerita, kami bertemu. Makan siang bersama pula.
Perbincangan kami cukup hangat, membahas berbagai permasalahan ekonomi negara dan umat. Dia setuju  bahwa masalah ekonomi umat memang harus diselamatkan. Kemandirian bangsa dan moral berekonomi harus dikedepankan. Ekonomi Islam bisa menjadi penyelamat asalkan dipraktikkan dengan sepenuh hati. Saya bahagia sekali, karena mendapatkan kesempatan emas ini. Menariknya, ia ibarat berbicara dengan koleganya, kendati saya menganggapnya seperti dosen kala itu.

Nah, satu hal yang tak terlupakan, adalah ketika ia menceritakan para cucunya yang masih kecil. Ia dengan bahagia menceritakan aktifitas bercengkerama dengan para cucu. Iseng-iseng saya bertanya kepadanya:

"Pak, sebagai orang yang telah begitu banyak makan asam garam kehidupan dan mengetahui berbagai penyakit keuangan dan prilaku koruptif masyarakatnya, kira-kira nih, apa pesan Bapak kepada para cucu tersayang supaya mereka bersemangat hidup di tengah kondisi negeri seperti ini?"
Ia tercenung sejenak dan agak kaget dengan pertanyaan "aneh" ini, namun ia akhirnya menjawab, 

"Saya akan berpesan kepada mereka untuk menjadi orang jujur dan bangga dengan kebaikan. Mereka harus menjadi hamba Tuhan yang terbaik," demikian kata-katanya. Sampai saat ini, masih saya ingat.
Hari ini, kenangan ini muncul lagi, namun dalam suasana duka. Sosok beliau memang fenomenal. Media sering menjuluki beliau dengan Mr Clean, Sang Bersih dan Jujur. Itu benar.

Bayangkan, pernah suatu ketika beliau pernah menolak uang sebesar 400 juta yang diberikan sebuah perusahaan BUMN dimana beliau adalah komisarisnya karena  menurutnya uang tersebut tidak layak diterimanya karena perusahaan sedang rugi. Ia membedah laporan keuangan secara mendetail. Darimana uang ini Anda peroleh?" tanyanya tegas. Ayo, siapa yang berani melakukan itu? Terlebih di saat itu prilaku koruptip begitu menggurita.

Bahkan sebagai komisaris Bank Mega Syariah ia pernah menolak mobil BMW yang diberikan kepadanya sebagai fasilitas. Ia merasa cukup dengan mobil sederhana Honda yang dimilikinya.

Ia juga pernah mengundurkan diri dari sebuah jabatan dimana ia merasa tidak memberikan sumbangsih maksimal. Ia tidak mau jika perannya hanya sebatas nama.

Kini sosok bersih ini telah tiada. Ia pergi menghadap Tuhannya dengan segala amal shaleh dan ketauladanan yang ditunjukkan. Ketauladanan yang teguh berupa kejujuran di tengah lingkungan yang cendrung korup saat itu dan kini. Ya, almarhum itu ibarat ikan di lautan yang tidak menjadi asin di tengah air laut. Maka, tak heran jika banyak orang yang menangisi kepergiannya. Termasuk saya.

Saya merasa bahwa negeri ini akan membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk melahirkan sosok seperti Pak Marie Muhammad. Atau, mungkinkah kekhawatiran saya terlalu lebay?. Mudah-mudahan tidak. Mari berdoa moga akan lahir Marie-Marie lain di negeri ini.

Selamat jalan Pak Marie, kami bersaksi kepada Allah bahwa dirimu adalah orang baik, bahkan teramat baik bagi negeri  kami. Allahummaghfirlagu warhamhu waj'alil jannata maswahu. Amin. Wallahu a'lam.

Post a Comment

0 Comments