Ticker

6/recent/ticker-posts

To be a HIM: High Impact Muslim

By: M. Ridwan



HIM itu singkatan dari High Impact Muslim, atau Muslim yang Memiliki Impact/Pengaruh yang Tinggi. Untuk selanjutnya saya menggunakankan kata HIM saja ya.

Istilah ini terbersit ketika saya bertemu dengan beberapa orang yang menurut saya memiliki impact atau pengaruh besar di lingkungannya dan tentunya kepada diri saya sendiri. Menariknya, secara kasat mata, mereka mungkin saja adalah nobody, bukan siapa-siapa dalam kacamata manusia kini.

Ada di antara mereka yang berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar dengan pangkat rendah dan tentunya gaji yang rendah Ada perempuan berdedikasi yang mengajar anak-anak mengaji dengan dengan bayaran yang hampir gratis. Ada petugas cleaning service yang setiap hari dengan setia menyapu ruangan kantor. Ada para ustaz kelas "kampung" yang dengan setia berdakwah dengan sepeda motor bututnya, dan tentunya tidak pernah mematok tarif seperti para artis.  Ada para ibu rumah tangga yang dengan setia dan ikhlas mendidik anak, tanpa mengeluh akan gaji suami yang pas-pasan. Tentu ada pula para dosen yang cukup bersahaja menjalankan profesinya dan berdedikasi penuh mencerdaskan generasi bangsa.
 
Masih banyak lagi HIM yang saya jumpai. Oh ya, ada juga para anak-anak muda yang dengan penuh dedikasi dan idealisme mencoba memperbaiki bangsa dengan postingan "berisi dan bergizi"  di media sosial. Penuh inspirasi dan hikmah. Lillahi ta'ala. Saya kadang bertanya dalam hati. Apakah mereka tidak suka uang?, Tentu saja tidak. Tapi yang pasti saya lihat mereka tidak serakah. Mereka cukup qana'ah, zuhud dan bersyukur. Anda pasti pernah bertemu dengan orang seperti ini, bukan?. Saya kira bertemu mereka itu adalah sebuah anugerah dan rejeki yang mengundang keberkahan, lho. KIta bisa juga "kualat" kalau mencibir mereka. Hehe

Mereka yang saya sebutkan di atas pasti tidak akan pernah masuk ke dalam dalam publikasi, katakanlah seperti "The 500 Influential Muslims" yang diterbitkan oleh Royal Islamic Strategic Studies Center yang setiap berkala dipublikasikan di Jordan. Soalnya, sebagian besar tokoh berpengaruh yang dimuat dalam publikasi ini ditempati para pemimpin negara dan tokoh publik. Pastilah para HIM yang sebutkan di atas tidak akan masuk. Kaya tidak, pejabat bukan, selebriti jauh. Tapi, tentunya, kriteria yang dipakai oleh publikasi dari Jordan di atas sah-sah saja. Minimal memberikan kebanggaan bahwa ada toh tokoh muslim yang berpengaruh.

Impact atau pengaruh yang dalam bahasa Arab disebut dengan "astar" tentu tidak boleh dibatasi hanya karena sebuah jabatan, katakanlah, harus menjadi seorang presiden, pangeran atau Amir Dubai dulu baru merasa bisa bermanfaat. Oh ya, Amir Dubai itu bernama Mohammad Rashid bin Al-Maktum. Dia kaya raya dan memiliki pengaruh yang besar di Dubai. Kehidupan keluarganya jauh dari masalah finansial. Keluarga tajir yang diidamkan manusia kini. Tapi, tanpa kekayaan dan jabatan bukanlah hambatan untuk menjadi manusia yang memiliki impact, bukan?

Contohnya, ya para HIM yang saya sebutkan tadi. Tanpa mereka, kehidupan kita mungkin akan ompong, janggal dan terganggu. Prof. Amiur, guru saya, mengatakan bahwa orang seperti itu berperan seperti sekrup di dalam sebuah mesin. Bentuknya kecil, nun jauh di sana, hampir tidak terlihat, namun sangat menentukan mesin itu sendiri. Bagi Prof. Amiur, ia lebih memilih menjadi sekrup itu. Sebuah filosofi hidup yang luar biasa.

Di dalam Aquran, batasan tolak ukur manusia ditentukan oleh ketqwaannya. Hadis menyebutkan bahwa tolak ukur orang yang memiliki impact adalah seseorang yang memiliki banyak manfaat bagi kehidupan ini. Bahkan Allah pernah memberikan tantangan / challenge kepada manusia untuk menunjukkan kepada-Nya seperti apa peradaban yang mau kita bangun. Jangan-jangan, peradaban yang bangun saat ini tidak lebih baik dari genersi sebelumnya dimana kita hanya tahu menyalahkan dan mencemooh mereka. Misalnya, jangan-jangan, kita ternyata lebih zalim dari Fir'aun. Atau lebih serakah dari Qarun, dan lebih nista dari Umat Luth. Terbukti bukan?. Nau'zubillah. 

Saya kira, untuk mengatasi masalah umat ini, kita memerlukan HIM yang banyak. Sudah saatnya muslim negeri ini berhenti sekedar cuap-cuap tanpa aksi nyata. Sudah saatnya kita bergerak dari seorang "Muslim yang ahli mengumpulkan masalah" menjadi "Muslim yang ahli mencari solusi". Tugas ini berat, namun, mulia. Muslim jaman kini harus rajin ngotot lho. Dalam arti, kita berjuang keras untuk segera menuntaskan masalah umat. Bayangkan, kalau semua kita berorientasi pada pemecahan masalah, maka berapa juta masalah umat akan selesai. Keren bukan.

Jika komitmen ini bisa diterapkan di berbagai lini kehidupan kita, sekecil apapun peran, jabatan dan kekayaan kita, maka kita tidak akan menemukan muslim yang berkeluh kesah. Kita akan akan menemukan muslim yang berwajah ceria dan penuh semangat, bukan muslim yang penuh ketakutan, kecurigaan dan dan berpangku tangan serta menunggu keajaiban dari langit untuk merubah keadaan. Cocok?

Lalu, apa syarata menjadi seorang HIM?. Saya kira diawali dari sebuah tekad. Ya, tekad untuk mengisi kehidupan dengan kualitas hamba yang excellent. Para ustaz menyebutkan, hidup kita cukup singkat. Paling sampai 100 tahun. Akankah hidup yang singkat dan hampir expired ini tidak diisi dengan kegiatan yang benar-benar memberikan impact tinggi dalam kehidupan?.   Wallahu a'lam. Selamat berakhir pekan dan hampir berakhir tahun. 
  


Post a Comment

0 Comments