By: M. Ridwan
Entah berapa banyak broadcast yang masuk ke akun medsos
saya. Namun, yang paling menarik perhatian saya saat ini adalah pesan-pesan berantai bernada kekhawatiran yaitu informasi bahwa telah terjadi gerakan masif dan
infiltrasi asing di bumi pertiwi ini. Infonya cukup menyeramkan.
Ada pula info
tentang gerakan komunisme yang "katanya" telah nyata dan harus segera
diantisipasi. Berbagai simbol palu arit ditengarai dengan sengaja telah
disosialisasikan. Tidak tanggung-tanggung, logo ini “katanya” bahkanditemukan di uang kertas baru keluaran BI sehingga Bank Indonesia merasa perlu mengklarifikasi bahwa
logo ini sama sekali tidak berhubungan dengan paham yang dilarang di negeri
ini. Bingung ya?
Seorang teman di medsos meyakinkan bahwa kondisi
negeri ini memang mengkhawatirkan. Info-info yang berseliweran di media sosial,
-masih katanya- adalah benar, valid dan realiabel. Wah,wah, bahaya tuh.
Nah, tanpa bermaksud menyepelekan informasinya, saya
melihat ada masalah besar di negeri ini yang memang harus dipecahkan. Ada hal yang
harus lebih kita takutkan. Apakah itu?, jawabannya tidak lain menyangkut rendahnya
produktifitas bangsa ini. Wah, kok arahnya beda ya?
Begini...
Mengapa kita takut dengan infiltrasi asing, paham kapitalis atau komunis sekalipun?
Apakah kita tidak yakin
bahwa bangsa ini mampu membendung kekuatan asing?
Apakah kita tidak yakin bahwa TNI akan mampu mengusir ancaman itu?.
Apakah kita ragu kehebatan bangsa
ini?.
Mungkinkah, kita merasa seram dengan info di
atas karena kita membayangkan bangsa ini akan mudah porak-poranda dan berdarah-darah
karena pertahanannya lemah?.
Atau, kita takut menjadi bangsa budak, miskin, kelaparan dan terusir?.
Apakah kita khawatir bahwa tidak bakalan menang
melawan bangsa lain di planet ini terlebih Tiongkok, Amerika atau Israel,? Apakah seperti itu?
Saya berani mengakui itu.
Makanya, tidak heran jika penduduk negeri ini khawatir. Petani kita khawatir jika produk tanaman luar masuk ke negeri ini. Dokter kita
takut jika dokter asing buka praktik di kota-kota kita. Lebih profesional sih. Dan, pedagang kita
takut jika pedagang asing atau aseng tadi masuk ke pasar negeri ini, tragis bukan?
Mungkin -sekali lagi mungkin- dikarenakan produktifitas yang
rendah maka bangsa ini mudah menjadi inferior dan paranoid. Disebabkan produktifitas rendah, maka standar
hidup kita juga rendah. Dalam kajian ekonomi disebutkan
bahwa standar suatu bangsa akan meningkat jika produktifitas barang
dan jasa warga negeri itu meningkat. Sudah ketemu masalah nih.
Sehingga, jika umat ini produktif. Kita tidak akan peduli seberapa banyak asing dan aseng yang masuk ke negeri ini. Biarin saja. Toh mereka akan menjadi konsumen kita. Semakin banyak barang dan jasa yang kita produksi maka semakin banyak pundi uang yang mengalir ke negeri ini. Kita bisa menjadi makmur, kaya dan kuat. Alih-alih di-infiltrasi, justru sebaliknya, kitalah yang mampu menginfiltrasi bangsa lain. Keren dan logis bukan?. Pernah membayangkan Indonesia menjadi adikuasa ngak?
Tapi saya maklum jika ada yang berargumen. Misal dengan mengatakan bahwa saat ini produktifitas umat Islam rendah maka kita harus segera mengusir pengaruh asing dari negeri ini. Tujuannya, supaya bisa aman dan merdeka berproduksi. Saya sih setuju dengan pernyataan ini. Tapi masalahnya, sampai berapa lama kita bisa bertahan dengan politik menutup diri dari asing dan investor?.
Hemat saya, tindakan bijak adalah dengan segera merubah paradigma terhadap asing dan memperbaiki kualitas dan kemampuan produksi umat ini. Saatnya, umat Islam menyerbu pasar dunia dengan produksi yang melimpah. Saatnya kita menghentikan budaya konsumsitif terhadap barang luar dan menggantinya dengan kebanggaan akan produksi dalam negeri. Saatnya pula kita menghentikan produksi cuap-cuap, gosip dan fitnah yang sering sekali kita nikmati.
Kendati saya tidak yakin juga sih. Soalnya, sudah lama ide tentang kemandirian produksi digaungkan, tapi nyatanya kita tidak berhasil menunjukkan wibawa negeri ini dalam produksi. Ada sih beberapa produk seperti batik, kerajinan tangan dan ukir atau seni pahat, namun jumlahnya masih kurang. Sampai saat ini kita tetap mengimpor mobil, motor, gadget, beras sampai-sampai sapi dan kerbau pun kita datangkan dari dari luar negeri. Kerbau blesteran dan ekspatriat tuh. Katanya sih lebih efisien dan murah sehingga kita tidak pernah mau serius melepaskan diri dari ketergantungan produk luar. Katanya azyik jadi makelar sih...:)
Nah, jika kita berobsesi menyelamatkan umat, inilah caranya, bantu umat ini meningkatkan produktifitas barang dan jasa atau pakai bahasa keren, "meningkatkan daya saing dan nilai tambahnya". Saatnya umat dicetdaskan bahwa kejayaan Islam dulu karena produktifitas yang tinggi. Islam bukan hanya mampu menaklukkan Eropa tapi juga mampu memperkenalkan produk ciptaan umat Islam yang sophisticated dan inovatif. Tapi kini? Jadi konsumen sejati tuh.
Jika ini tidak mampu dilakukan, maka bersiaplah jika umat ini hanya akan memiliki kemampuan memproduksi isu, gosip dan keluhan semata. Kita hanya tahu berdebat kusir di medsos atau duduk manis di depan TV tanpa produksi apapun dan kemudian bergumam, "seandainya aku jadi orang kaya" :)
Ujung-ujungnya, ya itu tadi. Kita akan menjadi bangsa penakut, inferior, paranoid dan hanya berani berkoar-koar tapi miskin aksi. Mudah-mudahan analisa saya salah ya. Mudah-mudahan pemimpin yang kita pilih konsern dengan hal ini. Wallahu a'lam.


0 Comments