Ticker

6/recent/ticker-posts

Like or Dislike

By: M. Ridwan

Akhirnya, yang saya khawatirkan terjadi. Saling serang dan mengadu ke aparat kepolisian terjadi. Setelah Ahok dilaporkan ke polisi atas sangkaan penistaan agama, kini Habib Rizzieq juga dilaporkan dengan kasus yang sama. Saya tidak dapat membayangkan jika, semakin hari akan semakin banyak masyarakat melakukan hal serupa, pastilah pekerjaaan warga negeri ini ke depan ya  tidak lain hanyalah saling melaporkan, saling serang di medsos, bahkan bisa berujung kepada perpecahan dan disitegrasi bangsa. Bangsa yang "hebat" ya?. Permasalahan primordial dan SARA memang selalu mampu menjadi biang kerok.

Namun, menjadi bangsa yang besar itu memerlukan banyak latihan. Indonesia harus melewati proses ini menuju kematangan. Semua negera besar mengalami proses ini. Bahkan, negera besar yang sudah dianggap matang-pun belum tentu bisa melepaskan diri dari permasalahan primordial dan SARA.

Katakalah, Amerika yang sampai saat ini masih belum bisa dianggap fair dalam menyikapi kaum kulit hitam atau Indian. Ingat kasus penembakan warga kulit hitam tahun lalu. Atau, di negara-negara Eropa yang sampai saat ini masih mudah ditemukan kekerasan verbal atau non verbal atas terhadap suku atau penganut agama lain.

Tentu kita tidak boleh membiarkan perpecahan terjadi di negeri ini. Cost-nya besar dan korbannya pasti kita semua. Untuk itu saya berdoa, moga aparat dan pemimpin agama di negeri ini mampu duduk bersama dan merumuskan kembali arti sebuah kerukunan dan sebuah harmoni.

Like or Dislike. Term ini akrab di telinga. Terjemahannya, suka atau tidak suka. Uniknya, perasaan ini muncul sejak awal manusia ada. Iblis tidak suka kepada Adam. Qabil tidak suka kepada Habil. Fir'aun tidak suka kepada Musa. Abu Jahal membenci Nabi Muhammad dst. Atau, betapa rusaknya dunia karena peperangan atas nama kebencian saat ini.

Saya pernah bertemu seorang karyawan, eksekutif muda sih. Menurutnya, intrik di tempat kerjanya cukup menyiksa. Ada cemburu dan iri dengki berseliweran. Atau ketidakharmonisan dan kenyamanan dalam bekerja. Dan, tentunya ada berita bohong dan fitnah menghiasi mereka. Wah, tampilan necis ternyata tidak menggambarkan kebahagiaan mereka di tempat bekerja ya.? Mudah-mudahan itu tidak terjadi di tempat kita bekerja saat ini ya. Mudah-mudahan tidak ada budaya saling menyalahkan dan menghujat terjadi, atau saling sikut sana sini dan permusuhan. Itu namanya bekerja di neraka. Kita tidak mau latihan merasakan neraka, bukan? Takut......:) 

Sebaliknya, perasaan suka juga ditemukan. Lihat bagaimana setianya dan sukanya penduduk Madinah kepada rasulullah. Betapa cintanya Abu Bakar kepada nabi yang mulia ini. Betapa mudahnya kita terketuk kepada penderitaan orang lain. Dan, betapa banyaknya cerita, puisi dan film dibuat atas dasar cinta dan romantisme.

Dari mana munculnya perasaan ini? Dari mana munculnya like or dislike? Love or Hate?
Aa Gym bilang munculnya dari hati. Tinggal saja, mana yang lebih dominan menguasai.  Harus di-manage-. Maka ia memprakarsai berdirinya Manajemen Qalbin Salim. Di negeri ini kitapun dengan mudah menemukan buku atau pelatihan seni menata hati.

Bagaimanapun caranya, menata hati menjadi sebuah keharusan manusia. Hati yang "tertata dengan baik" akan melahirkan rasa cinta dan ketenangan. Dengan kondisi hati yang tenang (muthmainnah) barulah kita layak untuk meninggal. Lho, kok cerita meninggal sih?. Hehe, gak usah takut, lagipula Alquran yang bilang lho. "Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam ridha dan diridhai." Artinya, kita tentu belum layak untuk meninggal jika hati ini masih dalam keadaann kotor dan dipenuhi rasa benci, dislike or prejudice (prasangka kotor).

Masalahnya, kita tidak bisa menentukan kapan kita meninggal. Masalah lain, kita sulit untuk tidak membenci dan berprasangka buruk saat ini. Selalu saja ada pembenaran terhadap perasaan dislike yang kita miliki. Selalu saja ada justifikasi atas rasa benci dan prsangka yang muncul. Entah itu atas nama keamanan, kewaspadaan atau antisipasi. Namun, ujung-ujungnya tetap saja perasaan itu menyiksa, bukan?

Makanya, saya pernah bertemu dengan seseorang yang sampai saat ini tetap tidak mau memiliki sebuah gadget. Alasannya simple. Banyak junk information yang berseliweran. Menurutnya, ia tidak pernah tahu apakah informasi itu benar atau tidak hanya dari sekedar mendapat broadcast dari orang. Ia takut tidak bisa mendapatkan infrmasi yang benar. Katnya, tanpa gadget ia juga bisa hidup aman dan tenang. Lalu dari mana ia mendapatkan informasi harian? Ternyata cukup dari koran, itupun dengan memilih berita tertentu. Menarik juga. Sebagai manusia ia bebas memilih, bukan?


Kata orang bijak. Dunia bisa semakin sempit dan juga bisa semakin luas. Bisa indah atau jelek tergantung dari cara menggunakan  hati. Seperti yang disampaikan Prof. Djakfar yang sering saya sebut "Pakcik", jelang sore kemarin. "Wan, masalah dunia ini begini begini saja kok. Problemnya sama. Sampai kita meninggalpun, permasalahan dunia akan selalu ada" katamya tersenyum. Kami bercanda, seandainya 500 tahun lagipun jika kita hidup kembali dan mendatangi generasi penerus kita, pastilah mereka nanti akan berkata kepada kita, "Pak, masalah kami belum selesai juga. Masalah Like or dislike ini belum tuntas juga. Hehe, bukankah begitu? Lho?

Mudah-mudahan, permasalahan saling melaporkan ke polisi akibat masalah penistaan agama tidak menggelinding menjadi bolapanas yang bisa membakar negeri ini. Cukuplah matahari yang membakar dirinya, jangan sampai bumi menjadi terbakar pula. Mulailah dari membersihkan hatimu, kata Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddinnya. 

Have a nice weekend and year.

Wallahu a'lam. Selamat berakhir pekan.









Post a Comment

0 Comments