By: M. Ridwan
Istilah "casing" ini saya dapatkan dari seorang penjaga parkir di Jakarta Convention Center (JCC) yang saat itu mengadakan perhelatan akbar komputer dan elektronik. Dialog terjadi antara dua orang penjaga parkir yang terlihat sedang santai menjaga kendaraan para pengunjung.
"Mas, kapan kita bisa seperti mereka ya?. Ganteng, cakep dan kaya-kaya", ujar seorang penjaga kepada temannya. Mereka mengamati para pengunjung pameran yang terlihat menenteng berbagai barang belanjaan dengan bahagia. Ada yang membeli laptop, kamera atau sekedar aksesoris komputer dan handphone.
Setuju atau tidak, dalam penilaian banyak orang, biasanya pengunjung pameran komputer, lektronik apalagi automotif adalah golongan kelas menengah ke atas. Kelas masyarakat ini dianggap sudah masuk ke dalam zona mapan dan lebih cendrung suka kepada life style yang wah. Maka tampilannya juga sedikit berbeda dan berkelas. Kelas menengah Jakarta, lho.
Adapun yang menarik saya adalah komentar tukang parkir yang satunya. Seorang Bapak paruh baya yang cukup kalem.
"Wah, Mas, gak usah terlalu terpesona. Ganteng, cantik dan kaya itu masalah "casing" saja. Isinya tetap sama. Manusia itu terdiri dari daging, dan kulit. Isinya sama dan membedakan adalah "casing" tadi". Syukuri saja casing kita," ujar bapak itu dengan tertawa yang disambut temannya dengan mangut-mangut.
Ungkapan spontan itu tak ayal membuat saya tertawa dan ikut nimbrung.
"Masalah casing ya mas?" tanya saya iseng.
"Iya, mas, casing ini gak habis-habisnya. Mending syukurin casing yang ada sekarang", jawabnya santai. Wow, filosofi hidup si Bapak ini patut diacungkan jempol.
"Masalah casing ya mas?" tanya saya iseng.
"Iya, mas, casing ini gak habis-habisnya. Mending syukurin casing yang ada sekarang", jawabnya santai. Wow, filosofi hidup si Bapak ini patut diacungkan jempol.
Ungkapan sederhana ini kembali terngiang di telinga saya ketika kemarin juga sedang mencari casing handphone. Ceritanya, saya mau cari "casing" yang berjenis Stangen yang agak keras dan waterproof. Promosi ya?. Jadinya tidak khawatir handphone-nya tekena air. Memang mau dibawa berenang ya?, padahal ngak tuh. Korban iklan kali. Akhirnya, ketemu juga. Si pembuat casing ini pintar. Mereka memanfaatkan hasrat manusia yang memang suka gonta-ganti casing.
Membahas tingkah manusia dalam mencari "casing" ini selalu menarik. Boleh dikata, menampilkan "casing" adalah hobby manusia sejak dulu terlebih saat ini, dimana media digital sedang naik daun. Ada FB, WA, Instagram atau Youtube. Entah apa lagi yang akan muncul 5-10 tahun ke depan. Tapi, jangan dipersepsikan bahwa itu salah, lho. Itu naluri manusia.
Kadang ia berbalut dengan kebutuhan aktualisasi manusia juga. Namun, terkadang juga digunakan untuk menutupi keberadaan "isi" yang tidak lagi "indah". Ada manusia yang menjadikan casing sebagai tampilan utama sedangkan manusia lain menjadikannya tampilan sekunder. Ada yang menggunakannya sebagai bahan kampanye, ada pula untuk menginspirasi bahkan menjual diri. Macam-macamlah.
Dunia casing ini sangat menggoda. Kalau tidak salah, Alquran ada menyitir kecendrungan ini dengan menyebutkan bahwa "manusia itu hanya tahu tampilan lahiriyah semata, dan lalai terhadap akhirat yang ghaib". Wah, bisa berbahaya nih. Artinya, sangat terbuka peluang manusia itu hanya indah pada casing dan tampilan, namun "isinya" kosong bahkan bisa saja bobrok.
Seorang teman memutuskan menghapus akun FB nya. Katanya sih waste of time. Baginya, medsos tidak bermanfaat, tidak produktif, narsis dan mengundang dosa. Äku kok sepertinya berpura-pura saja," katanya serius. Namun, rekan lain justru melihat hal berbeda. Ia melihat peluang besar untuk menjadikan FB dan medsos sebagai sarana kebaikan. Menurutnya, saatnya orang untuk narsis dengan kebaikan. "Kita harus menyebarkan kebaikan dengan mengupload banyak status yang baik atau foto yang menginspirasi. Pahalanya banyak, jangan takut riya," katanya bersemangat. Makanya, ia rajin mengupdate status yang mengajak orang melakukan kebaikan termasuk melakukan sharing berbagai tulisan. Mereka berbeda pilihan, bukan?
Apapun pilihan kita, saya kira, kita tidak memiliki waktu yang lama untuk menggunakan casing diri kita. Ia akan segera jadul, afkir dan usang. Ia akan dicampakkan, atau dikubur menjadi tanah.
Saya kira, mungkin atas dasar inilah, Ebiet G Ade membuat sebuah lirik lagu, "Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih. Suci lahir dan di dalam hati". Benar juga ya, toh ketika menghadap Tuhan nanti kita ngak bisa pamer casing lagi, bukan?
Saya kira, mungkin atas dasar inilah, Ebiet G Ade membuat sebuah lirik lagu, "Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih. Suci lahir dan di dalam hati". Benar juga ya, toh ketika menghadap Tuhan nanti kita ngak bisa pamer casing lagi, bukan?
Entahlah, yang jelas casing smartphone saya temukan juga. Berwarna kuning emas dan terlihat kokoh. Sesuai banget dengan yang diinginkan. Namun, selang beberapa minggu kemudian saya bertemu lagi dengan sebuah casing yang lebih menarik. Merah membara dan terlihat wah. Dan, casing kuning emas itupun segera berpindah ke dalam laci lemari buku saya. Tak akan pernah dipakai lagi karena handphonenya pun sudah berpindah tangan pula. Saya membenarkan di dalam hati apa kata si Bapak. "Casing oh casing, mengejar dirimu memang selalu mengasyikkan namun tentu saja menyiksa". :)
Mudah-mudahan Allah membantu kita membaguskan casing diri dan khususnya membantu kita membersihkan "isi" hati dan pikiran. Amin. Wallahu a'lam.


0 Comments