Oleh: M. Ridwan
"When the bright sun has set, The bright stars will show their lights" (Nur Ahmad Fadhil Lubis)
Itu adalah salah satu ungkapan yang menimbulkan tanda tanya bagi kami, peserta Raker Kerja UINSU yang diadakan awal Januari 2016 lalu, di kota Parapat.
Ungkapan itu disampaikan oleh Prof. DR. Nur Ahmad Fadhil Lubis ketika menutup acara raker waktu itu. Saya coba terjemahkan ke dalam bahasa Inggeris karena terdengar seperti sebuah puisi bagi saya. Dan, tentu saja cukup "aneh" di telinga kami waktu itu.
Artinya kurang lebih begini " Ketika matahari tenggelam, maka sinar bintangpun akan terlihat". Menurut sang professor, banyak sekali bintang di UINSU. Selama ini, sinarnya mungkin belum terlihat, karena mentari masih bersinar di siang hari. Saat itu, saya tidak berani menebak maksud kata-katanya. Saya melihat ada raut bahagia di wajahnya ketika mngucapkan hal itu. Ia bahagia bahwa di UINSU banyak kader yang bisa meneruskan misinya.
Siapa sangka, bahwa itulah raker terakhir yang beliau ikuti di UINSU. Kami masih ingat, ketika itu, beliau meminta maaf kepada hadirin atas kesalahan yang mungkin ada selama ia menjadi nahkoda UINSU. "Ini adalah raker terakhir yang saya ikuti", demikian beliau sampaikan. Sangat jelas sekali, dan pasti semua hadirin mengingatnya tanpa ada keraguan sedikitpun karena tak sedikit di antara kami yang lalu meneteskan air mata. Seolah itu adalah pesan perpisahan darinya dan keluarga UINSU. Perpisahan antara ayah dan anak.
Ternyata, rahasia atas ucapan dan salam perpisahannya waktu itu, terjawab kemarin pagi. Allah telah memanggil beliau.
Hari ini, ribuan kaum muslimin mengantarkan Prof. DR. Nur Ahmad Fadhil ke peristirahatannya terakhir. Ribuan kaum muslimin lain yang tidak bisa menyertai dengan hanya bisa berdoa dan sholat ghaib bersama. Termasuk kami, tim FEBI yang sedang merumuskan misi Islamisasi Pengetahuan di kota Padang ini.
Prof. Syahrin Harahap sangat tepat dengan ungkapannya bahwa almarhum Prof. Fadhil pantas menjadi tauladan, tidak hanya bagi insan akademis, tapi juga masyarakat luas. "Beliau adalah sosok yang konsisten dengan akademic culture dan berdedikasi tinggi sampai akhir perjalanannya menuju Allah", demikian ungkap Prof Syahrin.
Duka dan haru tentulah menyertai keluarga besar UINSU. Saya sampai "merinding" melihat kiriman foto ribuan hadirin yang dengan ikhlas menyambut dan mensholatkan beliau. Fenomena ini sekaligus menunjukkan bahwa almarhum adalah sosok yang dicintai banyak orang. Beliau adalah seorang maestro bagi banyak orang, terlepas dari beberapa kelemahannya sebagai manusia.
DR. Achyar Zein juga benar, bahwa orang baru tahu "kehebatan" sang professor ketika dia telah berpulang ke rahmatullah. Saya setuju. Orang baru tahu bahwa Prof. Fadhil itu sangat mencintai buku dan tak henti-hentinya merangsang kita untuk mencintai buku. Saya juga baru tahu bahwa ia justru menjadi segar ketika membaca buku.
Bagi para, mahasiswanya di pascasarjana, pasti ingat dengan kemurahan hatinya meminjamkan buku-buku di rumahnya. Maklum, buku-buku yang dimilikinya itu adalah hasil dari (perburuan) hunting di berbagai negara. Dan, beliau dengan senang hati meminjamkannya.
Kami yang berkutat di ekonomi Islam juga pernah kecipratan buku yang dibawanya ketika mengunjungi Malaysia. Ketika itu, beliau membawa buku Economics karya Zubair Hasan. Dan, hari ini, saya membincangkan isi buku ini dengan teman-teman dari Malaysia.
Banyak ketauladanan yang bisa diambil dari seorang Nur Ahmad Fadhil Lubis. Itu diakui semua orang. Tidak hanya para muridnya.
"Sayang sekali. Kebersamaan kami denganmu telah berakhir, Prof. Tuhan lebih mencintaimu. Kami ikhlas dan mendoakanmu. Selamat jalan dan tenanglah dalam peristirahatan terakhirmu, Prof. DR. H. Nur Ahmad Fadhil Lubis."
Saya hanya bisa mengutip kata-kata George R.R. Martin, "When the sun has set, no candle can replace it" . "Ketika matahari terbenam, maka tak sebuah lilin-pun yang mampu menggantikannya." Mungkinkah?

0 Comments