Ticker

6/recent/ticker-posts

Seandainya Imam Syafi'i Punya Laptop

Oleh: M. Ridwan

Ya, bayangkan saja sekiranya Imam Syafi' i (wafat 204 H) memiliki laptop, terkoneksi dengan internet pula. Kira-kira, apa yang akan terjadi dengan sejarah dunia?. Hmmm..

Padahal, tanpa perangkat itu saja, tokoh besar ini telah mampu menghasilkan berbagai karya luar biasa, yang diabadikan umat sampai saat ini, menjadi masterpiece peradababan Isla.. Bahkan, ada yang menyebut bahwa karya beliau sebenarnya lebih dari 200 buah. Adapun Kitab Al-Risalah atau Al-Umm yang kita ketahui itu, "hanya" sebagian dari kitab yang beliau karang.

Seandainya ia punya laptop, maka tentu Imam besar ini akan menghasilkan ribuan karya lainnya. Ia mungkin akan membuat eksiklopedi fikih, kitab hadis hukum, muamalah, dan lain sebagainya. Wajar toh, dengan tinta dan kertas dari kulit saja ia selalu bergairah menulis, apalagi dengan adanya sebuah laptop. Pastilah, tangannya tak akan pernah berhenti menulis.

Ada cerita menyatakan bahwa ia menghabiskan 1/3 malamnya dengan menulis, 1/3 lain berikutnya untuk ibadah dan barulah 1/3 akhirnya untuk istirahat. Luar biasa. Saya berandi-andai saja, sekiranya saat itu tinggal di kediamannya, pastilah saya akan bertanya kepadanya, "Fi'i, kamu ini nulis apa saja sih?. Apa tidak capek tangan itu? :)

Selain Imam Syafi'i, ada pula Imam Nawawi (wafat 676H). Ulama yang wafat dalam usia 45 tahun ini juga hobby menulis. Ratusan karya dihasilkannya. Ia bahkan tidak sempat menikah. Hidupnya didedikasikan untuk menulis dan menulis.

Baik Imam Syafi'i dan Imam Nawawi dan Imam lainnya tidak pernah mengetahui bahwa karya-karya mereka akan bestseller. Mereka tidak pernah merancang supaya kitab-kitab mereka abadi dan menjadi pegangan jutaan umat manusia, apalagi menghitung royalti dan keuntungannya. Mereka hanya tahu menulis dan berkarya. Aneh ya?

Konon, menurut pengamat kajian tasawuf. Kekuatan energi yang mendorong para Imam besar itu berasal dari energi ruhani. Mereka menulis dengan bimbingan Allah. Energinya tak terhitung, mengalahkan nuklir. Maka, hasilnya luar biasa. Karena produknya dari hati, maka sampainya juga ke hati. Di kawal malaikat dan Allah.

Lalu, apakah tidak boleh menjual karya tulis? Kalangan fuqaha' kontemporer berbeda pendapat. Tapi, jumhur mengatakan boleh saja. Tidak ada larangan untuk itu. Majma' Fiqh Al-Islammiy membolehkan hal itu pada  tahun 1986 lalu. Seorang penulis boleh diberikan copyright atas karyanya sehingga tidak boleh dijiplak atau diduplikatkan tanpa ijin penulisnya.

Judul tulisan ini sekedar mengetuk pikiran saya saja. Mungkinkah Imam Syafi'i akan menghasilkan karya lebih banyak dan lebih abadi jika ia memiliki laptop?.
Saya juga tidak tahu jawabannya. Namanya juga berandai-andai. Paling-paling saya hanya bertanya kepada diri sendiri. Mungkinkah saya akan tetap menulis jika tidak ada laptop atau smartphone ini?...:)

Post a Comment

0 Comments