By: M. Ridwan
Itu adalah Sindrome Ubin Hilang. Orang yang mencetuskannya adalah Denis Prager. Wong Barat.
Penjelasannya begini. Katakanlah kita sedang membangun rumah. Lalu, setelah sekian bulan, menurut tukang, rumah tersebut sudah layak dihuni. Dari tampilan luarnya, rumah itu sangat indah dan megah. Cantik dan asri . Bahkan, ketika memasukinya, tidak ada yang mengecewakan kecuali satu hal saja. Apa itu?
Ternyata ada satu ubin atau keramik lantai yang belum terpasang. Ya, cuma satu ubin saja. Pertanyaannya, apakah kehilangan satu ubin itu membuat kita tetap tenang dan tidak mengurangi apresiasi kita terhadap rumah megah tadi?
Nah, jika kita lantas kecewa, atau marah terhadap ubin yang hilang tadi, maka kita terkena The Missing Tile Syndrome. Apalagi, jika kita sampai stress dan sangat tertekan dengan si ubin hilang, maka dipastikan kita terkena sindrome berat.
Memang, dalam kenyataannya peristiwa ubin hilang tadi jarang terjadi. Soalnya, pastilah si tukang tidak akan berani memamerkan rumah tanpa menyempurnakannya. Kredibiltasnya bisa jatuh, bukan?
Sindrome ini untuk menggambarkan bahwa manusia itu cendrung melihat apa yang tidak dimilikinya. Bukan apa yang sudah ia punya. Atau, manusia itu suka sekali melihat sebuah kekurangan ketimbang sebuah hasil yang nyata-nyata dan sangat jelas di depan mata.
Lalu, salahkah sikap perfeksionis atau menuntut kesempurnaan? Tentu tidak salah, jika terkait dengan sebuah mekanisme kerja yang bisa diukur.
Katakanlah, kita bisa mencapai hasil yang sempurna jika sebuah SOP diikuti. Lalu, kita tidak melakukannya. Lantas, kita mengatakan "Wah, tidak apa-apa tuh, kita punya rencana, tapi Tuhan yang menentukan". Atau, kita berkeluh kesah dengan sebuah keadaan yang amburadul, padahal sebabnya karena kita memang enggan mendesain rencana yang matang.
Saya kira tidak begitu.
Tetap saja ada kapling ikhtiar manusia yang bisa dilakukan. Misalnya lagi, kita tentu tidak bisa berpura-pura nyaman dan malas bekerja di negeri ini padahal narkoba dan kesenjangan ekonomi begitu kentara. Misalnya...
Dalam beberapa pekerjaan, manusia bisa membuat suatu produk yang sempurna -dan harus sempurna-. Misalnya produksi kapal terbang atau pesawat ruang angkasa. Jangan ada satupun ubin yang hilang.
Anda tentu masih ingat peristiwa meledaknya pesawat Challenger di tahun 80-an lalu, bukan?. Katanya, ada satu lapisan panel luar di dinding pesawat yang longgar dan lepas. Ternyata, hilangnya, satu panel menyebabkan kehilangan besar. Beberapa nyawa astronot melayang dan jutaan dollar lenyap seketika. Gara-gara satu ubin itu.
Tapi ini beda.
Ubin yang saya maksud terkait pencapaian dalam bentuk materi atau cara pandang kita melihat orang.
Misal, kita panik ketika uang yang dimiliki hilang beberapa ratus ribu rupiah, padahal kita memiliki deposito dan aset yang melimpah. Kita tetap saja stress meskipun ada bonus dan tunjangan yang kita peroleh.
Atau, kita kecewa dengan tampilan fisik yang dimiliki. Entah karena kurang cantik, kurang tinggi, kurang kurus, dll. Padahal masih banyak orang lain yang tidak memiliki anggota tubuh yang lengkap seperti kita.
Far Estern Economic Review tahun 2002 menyatakan bahwa ternyata masyarakat Asia ke-2 yang banyak mengalami gangguan jiwa adalah Indonesia. Penyebabnya adalah uang dan kesehatan. Sedih ya? Nah, bisa jadi masyarakat kita terkena sindrome ini.
Mungkin ada yang menyatakan bahwa sekarang ini mencari rejeki itu sulit. Duit susah dicari dan biaya hidup meningkat. That's oke. Dari dulupun, masalah ekonomi ini ada. Lalu mau gimana lagi?
Kita juga bisa terkena The Missing Tile Syndrome ketika menyikapi orang lain. Kita fokus dengan kekurangan orang lain padahal seabrek kelebihan dan kebaikannya jelas kita rasakan. Atau, kita kecewa dengan pasangan, rekan kerja atau bos di kantor. Kita pingin cari bos baru, rekan baru atau juga pasangan baru. Upss, sorry. Padahal, jika mau sedikit berupaya dan melihat dari sudut pandang berbeda maka selalu ada "ubin yang indah" di diri mereka, bukan?
Di situlah pentingnya perubahan perspektif. Perubahan paradigma. Dalam kelas-kelas ekonomi Islam yang kami kelola, selalu ditekankan pentingnya paradigma Islami dan perpespektif falah dalam berfikir dan bertindak terkait pemenuhan kebutuhan hidup dan aktifitas ekonomi. Kita harus memurnikan pikiran dan hati kita.
Saya kira. Rasul adalah contoh manusia yang tidak terkena sindrome ubin hilang. Misal, ia tidak kecewa ketika diberikan harta dan tampilan ekonomi yang hanya "sebegitu", meski ia tahu bahwa Nabi Sulaiman bisa sangat kaya meskipun seorang nabi. Ia tidak terintimidasi dengan tampilan glamour pemuka Quraisy, padahal ia mampu melakukannya, bukan?. Ia tidak stress, jangan-jangan orang mencibir, "Nabi kok miskin?
Atau, rasul tidak terkena sindrome ini ketika berhadapan dengan kafir Quraisy yang keras kepala, stubborn dan dark heart. Ia selalu memiliki pandangan positif bahwa mungkin saja, suatu ketika mereka akan mendapat hidayah. Ia tidak marah atau dendam kesumat. Ia selalu membuka hatinya, sewaktu-waktu ubin itu akan tergantikan.
Terbukti bukan?.
Para kafir akhirnya berbondong-bondong memeluk Islam. Ternyata para sahabat juga mengikuti sikap beliau.
Saya hanya berandai-andai. Sekiranya saja Rasul dan sahabatnya terkena sindrome ini, maka apakah mungkin kita masih bisa merasakan indahnya iman dan Islam? Lalu, mengapa tidak berupaya menghilangkan sindrome ini sesegera mungkin?
Yup, cara mengobatinya adalah dengan banyak bersyukur. Oalah,,jauh-jauh muter dan pakai istilah asing, ternyata pesannya cuma bersyukur toh. Ya, iyalah....

0 Comments