Oleh: M. Ridwan
Duka bergelayut di hati kami. Salah satu putra terbaik Indonesia, khususnya UIN Sumatera telah berpulng kerahmatullah. Prof. DR. H. Nur Ahmad Fadhil Lubis, pagi ini, telah dipanggil Allah Swt. Innalillahi wa inna ilahi rajiun. Sesungguhnya, kita adalah milik Allah dan akan kepada-Nya.
Prof. Fadhil adalah pahlawan yang mengantarkan IAIN SU menjadi UIN. Proses ini tidak mudah, penuh duka dan hambatan. Namun, kegigihan dan semangatnya yang tinggi berbuah manis, UIN Sumatera Utara diresmikan oleh Presiden, menjelang akhir 2014 lalu. Maka, saya tidak berlebihan menyatakan bahwa beliau adalah maestro dan desainer sejati UINSU.
Bagi kami, warga UINSU, Prof. Fadhil tidak hanya seorang rektor, namun juga adalah guru, dosen, mitra dan pemimpin yang berdedikasi tinggi.
Sebagai guru dan dosen, saya memiliki pengalaman indah ketika pertama kali menjejakkan kaki di kampus IAIN SU. Saat itu, pengalaman sebagai anak "kampung" membuat saya sedikit minder menghadapi dunia kampus. Bayangan sebuah pendidikan tingi belum begitu clear di benak ini. Untunglah, Prof Fadhil yang saat itu baru kembali dari MacGill University masuk ke kelas kami. Beliau mengasuh mata kuliah Dirasah Islamiyah. Sosoknya yang berwibawa mrmbuat seisi kelas tertegun dan bangga.
Saya masih ingat, ketika membuka perkuliahan, dia menceritakan tentang seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Amerika yang secara tidak sengaja berhasil menyelesaikan beberapa soal matematika yang rumit dan belum terpecahkan selama puluhan tahun, bahkan oleh para professor di perguruan tinggi tersebut.
Ceritanya, dikarenakan terlambat datang ujian, si mahasiswa langsung mengambil kertas ujian yang berada di atas meja professor-nya yang saat itu tidak memperhatikannya.
Siapa sangka, kertas ujian yang "salah" itu adalah 5 buah soal matematika terumit dan tak terpecahkan selama puluhan tahun. Si mahasiswa itu tidak menyadarinya, termasuk juga si professor.
Singkat cerita, si mahasiswa hanya mampu menyelesaikan 3 soal dari 5 soal tadi. Ketika ditunjukkan kepada si professor, betapa terkejutnya si professor. "Ini mustahil" dalam pikirnya. Jangankan 3 soal, 1 soal saja sudah membuat mereka puyeng.
Mudah ditebak, si mahasiswa itu menjadi bintang di kampus itu. Ia kemudian dipertemukan dengan para professor lain dan tentu saja ceritanya berakhir happy ending dimana dengan bimbingan para professor, si mahasiswa itupun menjadi salah seorang guru besar di kampus itu.
Pesan dari Prof. Fadhil ketika itu, "bahwa ada orang yang tidak tahu bahwa ia mengetahui". Orang seperti ini harus dibangkitkan potensinya.
Di matanya, kami adalah orang itu. Mahasiswa yang harus dibangkitkan potensinya karena mungkin kami tidak menyadari kemampuan itu. "Tidak peduli latar belakang Anda, jangan minder dan rendah diri," katanya. Saking berkesannya, kisah itu juga selalu saya tuturkan kembali kepada mahasiswa di kelas.
Cerita Prof Fadhil ini tergiang, pagi ini, ketika informasi "kepulangan" beliau ini kami dapatkan. Kesedihan sontak memenuhi rungan International Conference pagi ini. Hadirin mengirimkan bacaan fatihah sebagai tanda belasungkawa mendalam atas duka ini.
Konferensi pagi ini membahas Islamization of Knowledge. IIIT mensponsori acara ini. Dan bukan kebetulan pula, Prof. Fadhil adalah sosok yang sangat konsern dengan gagasan Islamization of knowledge ini. Bahkan, di bawah kepemimpinannnya, UINSU diarahkan untuk mengembnngkan berbagai disiplin ilmu yang bersifat transdisipler. Konsep ini lebih canggih dari sekedar integrasi atau multidisiplin.
Transdisipliner adalah lintas ilmu. Menciptakan ilmu baru dari lalu lintas ilmu yang berseliweran. Sehingga, penamaan sebuah ilmu juga bisa berubah, katakanlah ilmu psikosufistik yang merupakan gabungan antara psikologi dan tasawuf. Hebat. Pikiran Prof Fadhil jauh ke depan, menembus waktu dan dekade. Kami merasakan betul visi dan kecerdasan beliau ini, di UINSU yang beliau bidani kelahirannya.
Namun, Allah menentukan lain. UINSU yang seumur jagung ini harus kehilangan sang maestro ini justru dalm usianya yang masih muda. UINSU belum menyerap penuh energi dan pikiran professor kharismatik ini.
Saya teramat yakin. Allah lebih menyayangi beliau ketimbang kami para muridnya. Allah memanggil beliau kembali ke dalam pangkuan kasih sayangNya. Menikmati cinta dan hasil amal jariyahnya.
Selamat jalan guru kami. Selamat jalan ayahanda dan pimpinan kami. Insyallah, kami akan meneruskan perjuangannmu. Mengikuti jejakmu, mengabdi pada Allah dengan menyebarkan ilmu dan kebaikan.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu 'anhu. Waj'alil jannata maswahu. Amin.

0 Comments