By: M. Ridwan
"Every man has his own story" (Wiseword)
Malam tadi, adalah malam ketiga sang maestro UINSU meninggalkan dunia yang fana ini. Acara tahlilan dan doa yang diikuti ratusan jamaah semakin menunjukkan bahwa Prof Fadhil ini memang berhasil menempati hati banyak orang.
Peristiwa kematian selalu saja menyisakan misteri bagi kita. Kapan, dimana dan bagaimana teknis kematian itu menghampiri, tidak pernah bisa dijawab oleh manusia, sepintar apapun dia.
Paling-paling, kita hanya bisa merujuk kepada informasi-informasi yang disampaikan oleh kitab suci, hadis atau cerita-cerita terdahulu. Misalnya, hadis yang menginformasikan bahwa malaikat izrail selalu menghampiri setiap manusia sebanyak 70 kali perhari. Sehingga, jika dihitung-hitung, maka frekuensi sang malaikat menatap wajah kita adalah 21 menit sekali (24 jam x 60 menit / 70).
Masih menurut hadis. Ketika menghampiri manusia, Izrail sering heran melihat manusia yang tidak pernah menyadari hal ini apalagi mempersiapkan bekal dalam perjalanannya menuju keabadian.
Memang, kita selalu memiliki pilihan untuk menentukan sikap apa yang akan kita tunjukkan pasca melihat sebuah peristiwa kematian. Entah itu dengan sebuah kesedihan, kehampaan, atau tidak menunjukkan reaksi apapun. Tapi, saya kira, ungkapan innalillahi wa inna ilahi rajiun, jelas menunjukkan bahwa sikap ideal yang diinginkan Allah adalah pengakuan yang benar-benar mantap bahwa kita akan kembali kepada Allah sekaligus berkomitmen untuk melaksanakan amanah kehambaan kita.
Kemarin siang saya terkejut ketika melihat sebuah lembaran berisi tulisan tangan Prof. Fadhil. Lembaran "langka" ini ditunjukkan oleh Bang Akmal yang sering dipercayakannya untuk mendampinginya mengajar di program pascasarjana.
Dalam lembaran itu dengan jelas tertulis bahwa sang professor lebih memilih untuk tidak banyak berbicara. Ia memilih banyak berbuat. Di situ juga tertulis, bahwa ia sadar banyak sekali tuduhan miring dialamatkan kepada dirinya. Entah disebut liberal, orientalis bahkan antek Amerika. Menyikapi itu, ia memilih untuk tidak banyak beropini di media.
Di lembaran itu, juga tertulis bahwa ia menekankan pentingnya tindakan bernuansa lokal namun berwawasan global serta umat sentris atau rahmatan lil 'alamin. Visi inilah yang kemudian menjadi ruh bergeraknya UINSU.
Makanya, saya sangat setuju, jika Walikota Medan berinisiatif akan memberikan apresiasi atas jasa almarhum sebagai tokoh pendidikan di Sumut dengan menjadikannya nama sebuah jalan atau gedung di kota Medan.
Meskipun, bagi almarhum, segala macam label kehebatan dan apresiasi dunia yang kita akan berikan padanya, saat ini, tentu bukanlah hal yang diharapkannya. Ia tidak membutuhkan itu lagi. Ia butuh doa tulus kita.
Kalau mau jujur. Apresiasi, nama besar dan goresan tinta emas itu sebenarnya untuk kita. Kitalah yang membutuhkannya. Kita membutuhkan penghargaan itu sebagai pengingat, ketika nanti anak cucu kita ditanya. "Apakah di sini pernah ada tokoh inspirator dan pejuang pendidikan ?. Mereka akan menjawab serempak, "Benar, di Sumut ini pernah ada seorang tokoh pendidikan tinggi yang menjadi inspirasi ribuan orang mahasiswa dan dosen, namanya Prof. Nur Ahmad Fadhil Lubis". Dan, merekapun lalu tertunduk dan mendoakannya. Indahnya. Kita juga menginginkan itu. Saya menyebutnya, Harvesting The Flowing Amal. Memanen amal jariyah.
Prof. Fadhil telah tiada. Dia memilih jalan ilmu dan pendidikan. Ia memilih jalan menuju akhirat dengan berdedikasi mencerahkan umat. Lalu, bagaimana pula nama kita tertulis di catatan sejarah dunia?
Allahummaj'al qabrahu raudhatan min riyadhil jinan (Ya Allah, jadikanlah kuburnya, sebagai taman di antara taman-taman surga). Amin. Tamat.

0 Comments